Nilai Gotong Royong Pawai Natura

221
Nana Suryana, Ketua Prodi PGMI Suryalaya Tasikmalaya dan Mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

Masyarakat Indonesia dikenal ramah, kekeluargaan dan gotong royong. Gotong royong menjadi penguat karakter bangsa, perwujudan sila ke tiga Pancasila.

Gotong royong memupuk kebersamaan, solidaritas sosial, tali persaudaraan, menyadarkan adanya kepentingan umum, tanggung jawab sosial, menciptakan kerukunan, toleransi yang tinggi serta persatuan dalam masyarakat Indonesia.

Seiring perkembangan masyarakat yang dinamis, pengaruh globalisasi, pesatnya kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi, berdampak terhadap kehidupan, perilaku sosial masyarakat Indonesia.

Munculnya sikap individulistik, materialistik, hedonesitik dan distorsi nilai (Rismayanto, dkk 2016). Sikap tersebut berpengaruh terhadap kehidupan tata budaya masyarakat Indonesia, melemah­kan nilai solidaritas, kerja sama dan gotong royong.

Di era modern ini, gotong royong harus mampu bertahan secara kuat, menancap dan mengakar pada jiwa masyarakat terutama generasi bangsa.

Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal.

Keluarga pondok, masyarakat, ikhwan (santri), terus menjaga nilai gotong royong dalam tradisi pawai natura, sebuah proses bagaimana pengetahuan dihasilkan, disimpan, diterapkan, dikelola dan diwariskan (Alwasilah, 2006).

Istilah Tradisi Pawai Natura

Traditio (bahasa Latin) “diteruskan” atau kebiasaan, pengertian sederhana, sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu atau agama yang sama (KBBI edisi ke V).

Bertemali dengan pengertian tadi, pawai natura Pondok Pesanteren Suryalaya secara defacto sudah menjadi tradisi, kegiatan ini berjalan turun temurun, rutin lima tahun menjelang milad Pondok Pesantren Suryalaya.

Tradisi ini berawal dari keinginan KH. Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom) untuk mengadakan syukuran milad Pondok Pesantren Suryalaya ke-60 tahun (1905-1965).

Para tokoh ikhwan bermusyawarah untuk merealisasikan harapan Abah Anom, ditunjuklah beberapa orang untuk mempersiapkannya.

Diantara tokohnya, H Dudun Nursaiddudin Ar bertugas bidang konsumsi, H Didin Khidir Ar bertugas bidang gudang, Letjen Mashudi, Ucu Suparta, H Suweka bertugas penggalangan dana (Sumber H. Didin Khidir Ar).

Bentuk dan Proses Pawai Natura

Pawai natura Pondok Pesantren Suryalaya, sebuah tradisi yang melibatkan banyak orang dan aktivitas. Awalnya pawai natura masih berjalan sederhana, para ikhwan memberikan barang natura kepada sesepuh pondok, kemudian diolah untuk menjamu tamu yang datang untuk memperingati milad Pondok Pesantren.

Sering berjalannya waktu, tahun ‘70-an, Pondok Pesantren Suryalaya membentuk Yayasan Serba Bakti. Sejak itulah pawai natura dikoordinir dan dilaksanakan panitia yang dibentuk Yayasan tersebut. Melalui panitia bidang natura, kegiatan disiapkan dengan lebih terencana.

Ada banyak hal yang terlibat dalam pawai natura antara lain; Peserta pawai; para ikhwan (tidak kurang dari 1.000-5.000 orang); pawai; iring-iringan, berjalan kaki, menggunakan kendaraan; Natura; beras, singkong, kelapa, pisang, dan yang sejenisnya, hasil ternak (sapi, domba, ayam, ikan, dan sejenisnya, dan hasil hutan (kayu bakar dan yang lainnya); Pengiring; jenis kesenian pengiring, (seni tradisional, pencak silat, kuda renggong, dan lain-lain), seni islami, kasidah rebana, marawis, seni modern; Waktu pawai; Pawai dilaksanakan setiap lima tahun, saat memperingati milad Pondok Pesantren Suryalaya (berlangsung 5-7 hari sebelum puncak milad, 5 September).

Proses pawai natura meliputi dua kegiatan; persiapan dan pelaksanaan.

Persiapan, para peserta pawai menyiapkan berbagai hal (peserta, kendaraan, kostum yang digunakan, barang yang dibawa, kesenian pengiring pawai. Pelaksanaan, waktu, tempat pelaksanaan, dan peserta yang terlibat.

Nilai Gotong Royong dalam Pawai Natura

Nilai gotong royong dalam tradisi pawai natura tercermin dalam tindakan menghargai semangat kerja sama, bahu membahu, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan.

Dalam bentuk pawai, tergambar dalam proses iring-iringan, di sana diperlukan sikap saling menghargai, kerja sama, bahu membahu agar pawai natura berjalan tertib dan memiliki nilai.

Dalam aktivitas tergambar dalam proses komunikasi, kerja sama, serta saling membantu untuk mempersiapkan segala hal terkait dengan pawai.

Nilai gotong royong pun tergambar dalam keterlibatan semua pihak (panitia, peserta, dan keluarga pondok pesantren).

Pengembangan Nilai Gotong Royong dalam Pendidikan

Saat ini bangsa Indonesia terus memperkuat karakter bangsa melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PKK). Indonesia yakin pendidikan karakter sangat penting dalam membentuk karakter anak.

Nilai karakter utama menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian, dan gotong royong.

Pengembangan nilai gotong royong di sekolah dapat dilakukan melalui kepramukaan (Djamari, 2016). Guru/Pembina pramuka melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, memberikan materi, dan mencontohkan sikap gotong royong kepada siswa.

Bentuk penanaman sikap gotong royong kepada siswa ketika pelaksanaan latihan pramuka, siswa membaur teman sesuai tingkatan pramuka, kerja sama dalam melaksanakan tugas kelompok dan gotong royong membersihkan halaman sekolah.

Dalam pembelajaran nilai gotong royong dikembangkan melalui model pembelajaran Collaborative Learning (Kristanto, 2017).

Collaborative learning tidak mengedepankan kompetisi antar siswa. Siswa yang memiliki kemampuan lebih membantu siswa yang kurang mampu, siswa yang merasa kurang mampu tidak malu untuk meminta bantuan, sehingga pembelajaran ini efektif menanamkan nilai gotong royong sebagai ciri khas bangsa Indonesia. (*)

*) Ketua Prodi PGMI Suryalaya
Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar SPs UPI Bandung

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.