Legenda Wisata SITU SANGHYANG Tasikmalaya, Tempat Pernikahan Para Raja

4648
0

Objek Wisata Situ Sanghyang yang berada di dua desa. Yakni Desa Cibalanarik dan Desa Cilolohan Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya.

Sekaligus merupakan kebanggaan masyarakat karena cerita legendanya yang sangat menarik.

Kisah munculnya nama Sanghyang, sebelum adanya situ, diungkapkan seorang Wakil Pengelola Situ Sanghyang, Maslikan.

Pria berusia 48 tahun ini mengisahkan, situ yang asli itu sebenarnya berada di Kampung Parunggolong Desa Cilolohan. Ya, berupa sungai dengan nama Leuwi Sanghyang.

“Pada masa Kerajaan Sukakerta, Kampung Parunggolong merupakan tempat sakral. Karena pada masa itu di daerah tersebut sering dijadikan tempat digelarnya pesta pernikahan para raja,” ungkapnya kepada Radar.

Maslikan mengatakan, Situ Sanghyang merupakan gabungan dua tempat bersejarah, antara situ yang berada di Kampung Parunggolong dan Sanghyang di objek wisata.

Sementara nama Sanghyang itu sendiri terjadi dari sebuah peristiwa sejarah, yakni riuhnya suara yang saling bersahutan.

Dikisahkan, dahulu ada seorang pangeran menculik wanita cantik jelita yang merupakan istri seorang resi dari Kebataraan Galunggung.

Ketika sang resi pulang dari laku tirakat, tapa bratanya, ternyata istrinya sudah dibawa kabur sang pangeran.

Sang resi pun kemudian mencarinya hingga ke sebuah daerah yang dikenal dengan nama Saung Gantang.

Di tempat itu ternyata tengah berlangsung pesta besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Ternyata istrinya sendiri yang menjadi mempelai wanitanya.

“Saat itu berulang kali sang resi berteriak, namun tidak ada yang menanggapinya karena riuhnya suara pesta. Sehingga resi pun menjelma menjadi bocah buncir. Kemudian memanggil segerombolan anjing untuk mengacaukan pesta tersebut,” katanya.

Lanjut Maslikan, suara gonggongan anjing di luar pun kemudian beradu dengan suara riuhnya pesta, hingga lama kelamaan suaranya seperti berdengung.

Jadi nama Sanghyang itu tercipta dari riuhnya dua suara yang beradu. Dan nama Sang sendiri menunjukkan pada sang pelaku, sang resi dan sang pangeran.

Adapun terjadinya situ, saat itu dikarenakan sang pangeran merasa terganggu dengan suara-suara di luar dan merasa terpancing dengan tantangan si bocah buncir.

Diceritakannya, sang resi bersumpah akan berguru jika seandainya sang pangeran dan para punggawanya bisa mencabut tujuh batang lidi yang berjejer.

Tapi karena tidak ada yang sanggup mencabut lidi, dengan kesaktiannya sang resi pun mencabut lidi-lidi, anehnya dari lubang batang lidi dicabut keluar air yang tidak terbendung hingga membentuk sebuah situ.

“Saat itu resi pun langsung mengeluarkan kutukan, semua yang ikut bersama pangeran tenggelam dan menjelma menjadi ikan,” ucapnya.

Jauh sebelum terbentuknya situ, di daerah Saung Gantang konon masih berbentuk hutan belantara, dulu ada seorang raja sakti mandraguna ingin menguasai seluruh kerajaan Tatar Sunda dan menantang seluruh raja dan kesatrianya.

Kabar tersebut terdengar oleh Bupati Sukapura Raden Anggadipa yang kemudian mengumpulkan para ksatria berilmu tinggi sebanyak 60 orang.

Para ksatria tersebut diperintahkan untuk mengepungnya diberbagai tempat agar raja yang sombong tersebut tidak bisa melarikan diri.

Tapi rencana tersebut terdengar sang Resi dari Kebataraaan Galunggung. Dan untuk mengantisipasi pertumpahan darah, sang resi pun menantang raja sombong tersebut untuk mencabut sebatang lidi yang tertancap di tanah.

“Saat lidi dicabut dari lubang bekas lidi yang dicabut sang Resi, keluarlah air yang tidak bisa dibendung. Akhirnya raja tersebut tenggelam dan menjelma menjadi seekor ikan yang diberi nama Si Layung,” kata dia.

Begitu sang pangeran (putra raja) tenggelam, lantas Eyang Resi dari Galunggung itu bersumpah “kamu dan semua pengikutmu jadi ikan”. Alasannya istri resi dinikahi oleh sang pangeran.

Begitu menjadi ikan dan situnya terbentuk cukup lumayan hebat, jadi si air Situ Sanghyang itu tidak bisa digunakan oleh makhluk, baik itu oleh mahluk astral maupun makhluk nyata.

Contoh hewan yang datang ke situ Sanghyang akan minum air, hewan tersebut hilang dan tidak ada jejaknya, pun demikian ketika ada burung yang melewati Situ Sanghyang juga jatuh dan tidak ada.

Sisi kebatinannya, makhluk gaib yang melintas ke situ Sanghyang juga sama.

Lalu, kata dia, berita ini terdengar oleh Kesultanan Cirebon bahwa situ Sanghyang begitu angker.

Agar tidak terjadi kemusyrikan, Kesultanan Cirebon mengutus seseorang yaitu Eyang Prabu Linggawastu yang dikawal oleh Eyang Lokananta dan Eyang Lokananti.

Di mana Eyang Lokananta itu memiliki keahlian jago perang sementara itu Lokananti keahliannya jago dalam hal pengobatan.

“Jadi Eyang Prabu Linggawastu dikawal oleh dua orang tersebut untuk menetralisir air yang sekarang dibudayakan oleh Dinas pariwisata setiap tahun yang diberi nama Ngalokat Cai. Upacara adat itu adalah untuk ngamumule atau memelihara dan menjaga air Situ Sanghyang dan sampai sekarang dibudidayakan,” kata dia.

Maslikan menambahkan, Ngalokat Cai diadakan oleh Eyang Prabu Linggawastu dan sekarang air Situ Sanghyang bisa digunakan oleh masyarakat pada umumnya.

Itu merupakan upaya dari Kesultanan Cirebon mengutus Eyang Prabu Linggawastu untuk mensucikan air supaya tidak ada kemusyrikan dan setelah itu hingga sampai saat ini kegiatan Ngalokat Cai terus dilaksanakan, air cukup aman dan bisa digunakan oleh masyarakat umum.

“Sementara itu Eyang Prabu Linggawastu ada dimakamkan di makam keramat, sementara makam Eyang Lokananta dan Lokananti ada di Kampung Lemahneundeut,” kata dia menjelaskan.

(radika robi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.