Lima Jurus Genjot Ekspor Pertanian

33
0

JAKARTA – Sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian terus meningkatkan volume ekspor produk pertanian.

Kementan memperkirakan volume ekspor tahun ini bisa mencapai 45 juta ton. Optimisme ini karena dalam 4,5 tahun terakhir terjadi peningkatan ekspor.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan hasil pertanian pada 2018 surplus Rp 10 miliar atau setara Rp 139,6 triliun. Karena itu, untuk terus mendongkrak volume ekspor produk pertanian Kementan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 19 Tahun 2019 tentang Pengembagan Ekspor Pertanian.

“Ekspor kita beri karpet merah, kalau perlu dimerahkan lagi. Maksudnya dipermudah terus. Harus kita dorong, kita datangi dan jemput bola,” ujar Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, di Depok, Jawa Barat, Jumat (9/8).

Ada lima terobosan yang diterapkan guna menggenjot ekspor. Pertama, memberikan kemudahan bagi eksportir dalam perizinan melalui OSS. OSS merupakan program perizinan terpadu, sehingga prosesnya lebih cepat. “Jadi jika sebelumnya izin baru keluar tiga tahun, tiga bulan, sekarang tiga jam,” katanya.

Terobosan kedua, mendorong generasi milenial menjadi eksportir melalui program Agro Gemilang. Pihaknya mengharapkan sekali generasi milenial ikut andil dalam eksportir hasil pertanian.

Dalam program itu, pemerintah memberikan bimbingan teknis terkait SPS (Sanitary Phyto Sanitary), persiapan di lapangan dan giid handling practices (GHP). “Kita konektivitas dengan daerah dan petani untuk GAP (Good Agricultuer Practices) ada di dinas dan GHP tugas pemerintah pusat,” tambahnya.

Ketiga, pemerintah membuat kebijakan inline inspection. Badan Karantina Pertanian melakukan kunjungan langsung ke eksportir, dari tingkat budidaya hingga handling. Sehingga mempermudah pelaku usaha dalam menangani produk yang diekspor.

Keempat, kata dia, program I-Mace. Dengan I-Mace bisa diketahui data sentra komoditas pertanian dan berpotensi ekspor. Bahkan di I-Mace juga terdapat data produk pertanian yang diekspor dan Negara tujuannya.

“Harapan kita dengan I-Mace bisa digunakan sebagai bahan kebijakan gubernur dan bupati untuk membangun pertanian di daerahnya,” kata Ali Jamil.

Kelima yakni elektronik sertifikat (E-Cert). Dengan itu, produk pertanian yang diekspor lebih terjamin. Jadi negara tujuan menerima sertifikasi secara online. “Setelah semua siap, barang bisa jalan. Jadi barang tidak akan ditolak di negara tujuan,” ujarnya.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.