Lion Air Minta Pengamat Berhenti Bicara: Please, Hargai Keluarga Korban

628

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

 JAKARTA – Manajemen Lion Air meminta para pengamat penerbangan agar tidak dulu memberikan pernyataan ke publik terkait jatuhnya Lion Air JT-610.

Ada baiknya, komentar dan penyataan tersebut dilakukan setelah proses identifikasi korban jatuhnya pesawat di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat itu tuntas lebih dulu.

Demikian disampaikan Managing Director Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro dalam konferensi pers di RS Polri, Jakarta, Minggu (4/11/2018).

“Saya mengimbau teman-teman yang merasa atau menjadi pengamat penerbangan please respect kepada keluarga,” katanya.

Menurutnya, para pengamat atau siapapun untuk bisa menghormati hak keluarga korban.

“Jadi, jangan membuat statement-statement yang akhirnya ada keluarga yang juga merasakan bagaimana pedihnya, sakitnya kehilangan keluarga,” jelas Daniel.

Dia menuturkan, sebaiknya para pengamat penerbangan yang mengomentari seluruh aspek terkait insiden Lion Air JT-610 dapat menunggu hasil identifikasi seluruh korban.

“Lebih baik kita sama-sama menunggu hingga proses DVI di rumah sakit selesai, menunggu sampai proses identifikasi itu selesai, barulah ahli-ahli tadi, pengamat tadi silahkan bicaranya bebas,”

“Tapi please hormatilah proses yang ada di rumah sakit, yang ada di SAR, yang ada di Komite Nasional Keselamatan Transportasi,” pungkas Daniel.

Sampai dengan hari ketujuh atau sepekan jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, badan pesawat dan seluruh korban masih belum ditemukan.

Karena itu, operasi SAR diputuskan diperpanjang sampai dengan tiga hari mendatang.

Demikian disampaikan Kepala Basarnas Muhammad Syaugi dalam keterangan pers di Posko Terpadu JICT 2 Tanjung Priok, Minggu (4/11/2018).

Syaugi menyatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan kebutuhan di lapangan.

“Setelah kami evaluasi dan koordinasi, serta masukan-masukan dari lapangan, operasi SAR kami perpanjang 3 hari,” tegas Syaugi.

Pihaknya berharap, penambahan waktu tersebut bisa secepatnya menemukan seluruh korban dan badan pesawat yang sampai kini masih di dasar laut.

Sementara, pihaknya juga mengakui bahwa sampai saat ini belum menemukan bodi pesawat.

“Yang kami temukan dan kami evakuasi adalah bagian skin atau kulit-kulit pesawat, cukup banyak di dasar laut,” jelasnya.

Hal itu, kata dia, berdasarkan data gambar dan pencitraan dari ROV yang yang menyisir area pencarian dengan radius 250 meter persegi.

Selanjutnya, Kabasarnas juga menerangkan hasil pencarian CVR pesawat yang sebelumnya sempat terdeteksi Ping Locator meskipun sangat lemah.

“Sinyal yang diterima ping locator sudah ditelusuri oleh penyelam-penyelam gabungan yang handal, yang sudah kita bagi poin per poin area penyelaman, namun belum berhasil ditemukan secara fisik,” jelasnya.

Pihaknya memperkirakan, posisi bodi pesawat terendam lumpur sebagaian sekitar 50 meter arah barat laut dari pusat pencarian.

“Kondisi dasar laut berlumpur, kalau kita tusuk dengan besi satu meter, belum sampai ke dasarnya,” jelasnya.

Syaugi menyebut, besok Senin (5/11/2018), pihaknya akan melakukan pertemuan dengan para keluarga korban atas undangan Lion Air.

“Untuk memberikan penjelasan terkait pelaksanaan operasi SAR. Dari Basarnas, Panglima TNI dan Menhub juga diundang,” katanya.

Sementara, berdasarkan data Basarnas, update kantong jenazah sampai dengan Minggu (4/11) pukul 19.00 WIB, total berjumlah 138 kantong jenazah dan langsung dikirim ke RS Polri.

Temuan hari ini (hari ketujuh) cukup signifikan, yaitu 33 kantong jenazah.

“Yang pasti, tim SAR yang terlibat dalam operasi ini, masih tetap bersemangat, tetap optimis dapat menemukan korban lainnya,” tegas Deputi Bidang Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto.

(ruh/pojoksatu/radartasikmalaya)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.