Lisna Berbagi Kisah Sebagai PENYINTAS COVID-19; Dari Gejala Hingga Stay Safe!

103
0
radartasikmalaya.com
Lisnawati
Loading...

Lisnawati, salahsatu crew Harian pagi Radar Tasikmalaya. Mobilitasnya yang tinggi ditenggarai membuat warga Cihideung Kota Tasik ini terpapar Covid-19. Berikut penuturannya..

GEJALA

Gejala awal saya rasakan pada 28 Desember 2020. Malam itu saya demam tinggi, badan linu, kepala pusing.

Demam berlangsung satu hari dan mereda setelah minum obat penurun demam.

Meski suhu badan kembali normal, namun saya masih merasakan pusing dan lemas.

loading...

Akhirnya saya berobat ke klinik, dan dokter bilang hanya kecapean.
Setelah bedrest 1 hari, saya kembali beraktivitas seperti biasa meski merasakan badan belum fit.

Sampai pada 31 Desember 2020 indra perasa dan penciuman saya hilang (anosmia).

Saya tak bisa merasakan apa yang saya makan. Hambar. Saya pikir itu gejala biasa pada orang yang baru sembuh dari sakit.

Kemudian, penciuman saya pun terganggu, meski tak hilang total, tapi tidak tajam.

Perlu menciumnya berkali-kali sampai saya bisa mengenali aromanya.
Gejala ini terasa aneh, sebab saya tidak flu ataupun batuk, tapi terasa bindeng dan tidak bisa mencium bau.

Semakin hari badan terasa tidak fit. Bahkan 4 Januari 2021 saya merasakan gejala tambahan yaitu sesak napas, padahal saya tidak punya riwayat penyakit asma.

Feeling saya sudah tak enak saat itu, sebab gejala Covid satu-persatu saya rasakan.

BACA JUGA : 7.400 Dosis Vaksin Covid-19 Tiba di Kota Tasik

Akhirnya pada 5 Januari 2021 saya memberanikan diri untuk melakukan swab, dan benar saja hasilnya positif Covid-19.

Rasanya campur aduk antara kaget, sedih dan takut. Saya langsung teringat orang-orang yang kontak erat dengan saya, terutama anak dan suami.

Qadarullah, hasil test mereka negatif dan sehat.

Lalu, banyak yang bertanya, saya terkena Covid-19 dari mana? Jawabannya: saya tidak tahu.

Ini wabah yang sudah massif, kita bisa kena dari mana saja dan kapan saja.

ISOLASI = KONTEMPLASI DIRI

Berdasarkan arahan dokter, saya cukup menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah selama 2 minggu, karena gejalanya tergolong ringan dan tidak ada penyakit bawaan.

Saya isoman sendirian di rumah dipantau oleh petugas medis dari puskesmas.

Tiga hari pertama isolasi adalah saat-saat yang berat. Sempat down. Perasaan “takut meninggal” pun terbersit.

Namun saya tepis itu dengan zikir dan doa, meminta pertolongan dari Sang Maha Penyembuh.

Seminggu pertama isolasi, saya masih merasakan gejala sesak napas, lemas, nyeri menelan, batuk kecil, diare dan anosmia. Saya juga mengalami gangguan tidur.

Lalu apa yang saya lakukan selama isolasi? Saya fokus pada pemulihan.

Karena virus ini menyerang imunitas, maka yang harus dinaikkan adalah imunitas tubuh dengan cara istirahat total.

Dibantu makan bergizi 3x sehari, minum 2 liter dan mem-boost-nya dengan berbagai vitamin (Vitamin C, D, B Complex, E).

Untuk obat, dokter memberikan resep antibiotik.

Saya juga konsumsi herbal Qush al Hindi, Clover Honey dan lainnya.
Ikhtiar lainnya saya lakukan yakni berjemur 30 menit, terapi minyak kayu putih, terapi uap nebulizer, berkumur dengan air garam hingga mencuci hidung (nasal washing) menggunakan cairan NaCL.

Alhamdulillah dari hari ke hari kondisi semakin membaik. Hari ke-7 isolasi gejala mulai pulih.

Saya mulai bisa beraktivitas ringan di dalam rumah.

Selama menuntaskan waktu isolasi itu, saya dianjurkan untuk melakukan hal-hal yang membangkitkan kadar kebahagiaan, mulai dari menonton film favorit, tayangan komedi, video call dengan keluarga dan tentunya PERBANYAK IBADAH.

14 hari isolasi memang terasa jenuh, saya pun mengubah mindset.
Ini bukan isolasi, saya maknai isolasi ini sebagai kontemplasi diri.

Merenungi hidup secara holistik, agar selepas “karantina” ini saya jadi orang yang lebih baik lagi.

SEMBUH

Hal terberat selama isolasi adalah berpisah dengan anak. Untungnya teknologi menjadikan isolasi ini terasa lebih mudah.

Support dari keluarga, teman, rekan kerja dan klien mengalir via Whatsapp. Membuat imunku menguat.

Ternyata kuncinya jangan panik, harus optimis dan positif thiniking.

Setelah 13 hari isolasi (atau 20 hari dari gejala awal) kondisi badan saya sudah sehat dan tanpa gejala.

Berdasarkan aturan CDC, WHO dan Kemenkes saat ini disebutkan, jika dalam waktu 10 hari gejalanya hilang maka pasien Covid tidak berisiko menularkan kepada orang lain karena virus sudah mati. Maka tidak perlu melakukan swab ulang.

Saya yakin, para ahli tidak sembarangan dalam mengeluarkan aturan tersebut, sudah melalui riset mendalam dari jutaan kasus Covid-19 di dunia, maka sebagai awam saya ikuti saja aturan tersebut.

Namun sayangnya tidak semua orang tahu aturan tersebut, dan masih ada sebagian orang yang “takut” berinteraksi dengan penyintas Covid-19 kalau belum ada status negatif.

Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan swab ulang sebagai formalitas. Hasilnya NEGATIF. Alhamdulillah, kesembuhanku terasa lebih sempurna.

HIKMAH

Ujian selalu datang sepaket dengan hikmah. Covid-19 membawa saya pada banyak perenungan.

Sebanyak 1 juta rakyat Indonesia terpapar Covid-19 dan sekitar 2,8 persen diantaranya meninggal dunia (data Kemenkes, 26 Januari 2021).

Saya menjadi salah satu yang beruntung karena bisa sembuh dan kembali beraktivitas.

Saat ini mungkin masih banyak orang yang menganggap Covid itu konspirasi, saya tak memaksa orang untuk percaya adanya Covid.
Tapi saya real mengalaminya, merasakan bagaimana si virus Covid itu mengacak-acak imun tubuh saya.

Selepas terpapar Covid, hal-hal kecil yang semula tidak terpikirkan untuk disyukuri, kini jadi sangat berharga.

Ternyata bisa merasakan rasa makanan itu nikmat luar biasa, bisa mencium aroma, bisa memeluk orang-orang yang kita sayang dan berinteraksi dengan sesama manusia itu sungguh sebuah anugerah yang besar. Dan kesehatan adalah sebuah rezeki yang tak ternilai harganya.

Saya yakin, selepas ini saya bisa jadi orang yang lebih mensyukuri hidup dan lebih kuat menjalani ujian.

HIDUP ADALAH BERBAGI KEBAIKAN

Pada saat saya dinyatakan positif Covid-19, saya berpikir orang akan mengucilkan saya. Ternyata saya salah besar.

Justru sebaliknya. Saya merasakan perhatian yang besar dari orang di sekeliling: keluarga, tetangga, teman, rekan kerja dan klien.

Di saat-saat terberat seperti kemarin, perhatian sekecil apapun sangatlah berarti. Sesimple menanyakan kabar ataupun mengirim doa. Itu sangat berharga untuk orang yang menjalani isolasi.

Bahkan saya tidak menyangka, orang-orang sangat supportif dengan memberikan kiriman makanan, vitamin, bingkisan.

Itu datang setiap hari selama saya isolasi. Bahkan tetangga perum gotong royong mengumpulkan makanan dan sembako untuk warga yang sedang isolasi mandiri.

Dari kebaikan mereka, saya belajar bahwa hidup itu bukan tentang diri sendiri, sudah seharusnya kita lebih peka terhadap lingkungan, apalagi di kondisi pandemi seperti ini.

Hari ini kita membantu orang lain, esok lusa mungkin kita yang dibantu orang lain. Begitulah hidup. Berputar.

Akhir kata, terimakasih untuk semua orang yang telah membantu dan mendoakan saya. Kebaikan itu pasti akan berbalik pada diri sendiri, berlipat ganda. Aminn YRA.

Stay safe!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.