Sisi Lain di Balik Debat Cawapres

Lobi Hotel Sultan Berubah Seperti Pondok Pesantren

97
0
KHANIF LUTFI / FIN  NONTON DEBAT. Lobi Golden Ballroom Hotel Sultan, Jakarta kemarin (17/3) malam dipenuhi santri dengan mengenakan sarung sebagai ciri khas.
Loading...

Lobi Golden Ballroom Hotel Sultan, Jakarta kemarin (17/3) malam dipenuhi santri dengan mengenakan sarung sebagai ciri khas. Salawat pun berkumandang bergantian, sebelum gelaran dilangsungkan. Malam itu, rasa hotel pun berubah mirip pesantren.

KHANIF LUTFI – Jakarta

LOBI Golden Ballroom Hotel Sultan, Jakarta penuh sesak. Ratusan polisi terlihat bersiaga. Beberapa polisi berpakaian preman juga tampak, matanya tajam mengawasi setiap tamu yang datang.

Penjagaan ketat di setiap pintu masuk diberlakukan. Tamu yang melintas diperiksa barang bawaannya. Ada juga alat metal detektor yang digunakan untuk memeriksa bagian tubuh.

Puluhan bahkan sampai ra­tus­an awak media juga sesak men­jejali halaman. Tripotnya ber­jejer, menunggu KH Maruf Amin atau Sandiaga Uno turun dari mobil.

Sejumlah pendukung baik dari pasangan calon 01 dan 02 juga tampak sibuk. Beberapa terlihat mencari teman agar bisa masuk ke dalam Ballroom. Mereka yang tidak memiliki undangan, harus rela mendukung dari luar.

Pendukung paslon 01, tepatnya KH Maruf Amin, mereka mengenakan sarung, pundaknya dibalut sorban dan mengenakan koko. Ada juga yang mengenakan jaket hitam bertuliskan Jokowi-Amin dengan angka 01 tepat di punggung.

Loading...

Pendukung pasangan calon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga uno kompak mengenakan seragam putih. Kemejanya berlogokan garuda dan nomor 02. Di pundaknya ada bendera merah putih kecil.

Uniknya, sekira pukul 19.00, ratusan santri dan sejumlah kiai mulai berdatangan. Pakaiannya putih. Khas, mereka mengenakan peci hitam. Dan pakaian putih. Habib Salim Shalahuddin Jindan, Nahdliyin dari Otista, Jakarta Timur membawa 100 orang lebih santri.

Mereka membawa alat hadroh lengkap. Sekira pukul 19.30 mereka mulai bersalawat di depan lobi Golden Ballroom. “Kami mendukung Kiai Maruf agar bisa tenang dalam debat. Kami nahdliyin Jakarta Timur siap membela dan mendukung kiai kami,” katanya kepada Fajar Indonesia Network, Minggu (17/3).

Di luar panggung debat, situasi sangat ramai. Masing-masing pendukung membawakan yel-yel berharap diliput media. Teriakan mereka juga nyaring melengking. Saling beradu suara.

Selain Habib Salim, ada Gus Udin dari Kabupaten Bogor. Meski tidak memiliki undangan, ia bersama rombongan santri berniat mendukung dari luar Ballroom. Pakaiannya juga khas. Menggunakan kopiah putih dan berkain sarung. Uniknya, kain sarung mereka bermotif batik. Biarpun tidak bisa masuk, suasana di luar arena debat juga sama tensinya. “Yang penting, kami tetap mendukung kiai Maruf,” katanya.

Alasan mereka berkain sarung simpel. Mereka adalah santri dari salah satu pondok pesantren di Kabupaten Bogor. Al Hidayah namanya. Ciri khas santri tak mau dilepas meski masuk ke ranah politik. “Sama juga seperti kiai kami. Mereka tetap menggunakan sarung sampai sekarang,” kata Gus Udin.

Di tempat sama, kubu 02 pendukung Sandiaga Uno dengan kemeja putihnya membawakan yel-yel dan lagu nasional. Mereka juga membacakan salawat. Jumlahnya cukup banyak, sekira 30 orang. Tak henti, mereka juga terus beryel-yel. Mulai dari Bandung Lautan Api sampai Indonesia Raya mereka nyanyikan.

Tak dikomando, jumlah mereka terus bertambah. Mereka yang merasa mendukung paslon 02, segera merapatkan barisan dan ikut beryel.

Cukup lama, sampai sekita pukul 19.45 anggota kepolisian yang bertugas meminta mereka tenang karena debat segera dimulai. Mereka, kedua kubu tertib membubarkan barisan. Duduk rapi menonton debat dari monitor kecil yang difasilitasi pihak hotel.

Debat ketiga Calon Wakil Presiden antara Maruf Amin dan Sandiaga Uno terlihat unik. Masing-masing pendukung beryel di luar Golden Ballroom. (ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.