LP Ma’arif NU Kota Tasik Cetak Siswa Kritis & Kolaboratif

19
0
MENYIMAK. Siswa SMK NU Tasikmalaya menyimak materi kepemimpinan dan budaya kerja pada kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepemimpinan Siswa (LPKS) di ruang kelas SMK NU Tasikmalaya, beberapa waktu lalu. Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya
MENYIMAK. Siswa SMK NU Tasikmalaya menyimak materi kepemimpinan dan budaya kerja pada kegiatan Pelatihan Pengembangan Kepemimpinan Siswa (LPKS) di ruang kelas SMK NU Tasikmalaya, beberapa waktu lalu. Fatkhur Rizqi/Radar Tasikmalaya
Loading...

TASIK – Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-95 jadi momentum untuk terus membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter. Caranya dengan strategi pengembangan pendidikan formal dan pondok pesantren.

Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Kota Tasikmalaya H Dudu Rohman SAg MSi mengatakan, peran NU terus mencetak generasi muda unggul dan berkarakter. Bentuk nyatanya, NU mempunyai lembaga pendidikan Ma’arif yang berupaya mendidik guru dan siswanya berpikir kritis, inovatif, kreatif dan kolaboratif.

“Refleksi LP Ma’arif dalam rangka Hari Jadi NU ke-95 terus berupaya untuk meningkatkan generasi yang cerdas dan beradab. Kemudian menghargai budaya dan sosial yang tinggi,” katanya kepada Radar, Minggu (31/1).

Oleh karena itu, sambung H Dudu, guru-guru di naungan LP Ma’arif NU Kota Tasikmalaya harus bergerak terus melakukan penguatan mutu kompetensi. “Hal itu, agar dapat mencetak generasi emas dan mewujudkan visi Indonesia Maju,” ujarnya.

Kemudian, H Dudu pun terus mengajak 185 sekolah dari RA, MI hingga MA atau sederajat dengan jumlah guru 472 orang, yang bernaung di LP Ma’arif NU Kota Tasikmalaya, untuk mengikuti workshop dan pembinaan. Materinya bisa tentang moderasi beragama, teknologi informasi dan komunikasi, peningkatan pedagogik dan lainnya. “Manfaatnya menciptakan guru yang profesional, berintegritas, dan bermoral,” katanya.

loading...

Ketua DPD PGM Indonesia-Kota Tasikmalaya Asep Rizal Asy’ari menjelaskan, sejak didirikan pada 31 Januari 1926 tradisi NU sudah berkembang, terinternalisasi dan tersosialisasi di sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa.

Tradisi itu berkembang melalui pendidikan khas Indonesia, pesantren atau madrasah yang diperjuangkan KH Hasyim Asy’ari dan tokoh ulama NU lainnya. Dengan sejarah itu, berarti NU memberikan sumbangsih dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia lewat pendidikan.

“Sampai saat ini semangat NU pun sama. Tentunya untuk terus mengabdikan diri terhadap Indonesia melalui dunia pendidikan formal dan pondok pesantrennya,” ujarnya.

Untuk mengoordinasikan lembaga pendidikan itu, kata Rizal, NU memiliki sayap lembaga non formal yaitu Rabithah Ma’ahid Islamiyah. Adapun lembaga formalnya ada Lembaga Pendidikan Ma’arif yang mengoordinasikan ribuan satuan pendidikan NU yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, khususnya di Tasikmalaya.

“Dengan begitu, teruslah kawal dunia pendidikan dari wadah tradisi NU. Tentunya juga melakukan inovasi yang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga semakin dekat dengan masyarakat,” katanya.

Plt Kepala MTs N 3 Kota Tasikmalaya Asep Rahmat SPd MPd mengapresiasi NU. Hal itu karena NU sangat berperan dalam mencerdaskan dan memajukan pendidikan di Indonesia, melalui pesantren yang sampai sekarang menjadi tren.

Selain itu pendidikan LP Ma’arifnya yang mendidik generasi untuk menjadi cendekiawan muslim.

“Semoga NU istiqamah terus merekatkan persatuan serta mengemban misi dakwah Islam demi kemajuan umat, bangsa dan negara,” ujarnya. (riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.