Perempuan, Kartini, dan Politik

179
0

“Orang-orang Belanda itu menertawakan dan mengejek kebodohan kami, tapi kami berusaha maju, kemudian mereka mengambil sikap menantang terhadap kami. Aduhai! Betapa banyaknya dukacita dahulu semasa masih kanak-kanak di sekolah; para guru kami dan banyak di antara kawan-kawan sekolah kami mengambil sikap permusuhan terhadap kami. Tapi, tidak semua guru dan murid membenci kami. Banyak juga yang mengenal kami dan menyayangi kami, sama halnya terhadap murid-murid lain. Kebanyakan guru itu tidak rela memberikan angka tertinggi kepada anak Jawa, sekalipun si murid itu berhak menerimanya.”

 

SURAT Kartini kepada Estella Zeehandelar pada 12 Januari 1900 itu diceritakan kembali oleh Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya, Panggil Aku Kartini Saja. Dari surat itu, kita bisa mengetahui bagaimana semangat Kartini belajar dan bersaing dengan orang Belanda. Namun, dia tidak ingin menyerah dan tetap berusaha untuk bisa maju.

Kartini tidak hanya punya semangat belajar. Dia juga mempunyai kepekaan sosial yang tinggi. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Nyonya Abendanon pada 8 April 1902, dia menceritakan melihat seorang bocah berusia 6 tahun berjualan rumput. Saking banyaknya rumput yang dipikul, anak itu tidak kelihatan. Yang tampak hanya dua onggokan rumput. Anak itu sudah tidak mempunyai ayah. Sedangkan ibunya bekerja. Dia meninggalkan dua adiknya di rumah. Mereka hanya makan sekali sehari. Yaitu, sore hari ketika ibunya pulang kerja.

“Malulah aku terhadap keangkaraanku. Aku renungi dan pikirkan keadaan diriku sendiri, dan di luar sana begitu banyak derita dan kemelarataan melingkungi kami. Seketika itu juga seakan udara menggetar oleh ratap tangis, erang dan rintih orang-orang di sekelilingku.”

Setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini. Tapi, apakah perayaan itu hanya tinggal perayaan? Mengenakan kostum kebaya ala Kartini, lomba fashion show, baca puisi, lomba musik, dan gemerlap peringatan serta pesta. Boleh saja kita merayakannya. Tapi, jangan sampai kita kehilangan makna sesungguhnya.

Loading...

Kartini sudah lama tiada. Tapi, dia meninggali kita sebuah semangat untuk terus belajar dan berkarya. Bagi kaum perempuan, banyak perjuangan dan pemikiran Kartini yang bisa menjadi contoh. Baik pada zaman sekarang maupun zaman yang akan datang.

Kartini mengajari kita bagaimana mempunyai kepedulian sosial. Para perempuan bisa meneladani dia dengan terjun di bidang sosial. Memberikan bantuan kepada orang yang tidak mampu. Baik dengan mendirikan yayasan sosial maupun memberikan bantuan langsung kepada kaum papa.

Begitu juga bagi kaum hawa yang peduli dengan pendidikan. Mereka bisa menjadi guru dan mendidik siswa dengan baik. Mengajar dengan profesional. Mendidik murid-muridnya dengan hati dan teladan. Para perempuan juga bisa membuka lembaga pendidikan. Baik TK, SD, SMP, maupun SMA. Menyediakan pendidikan yang berkualitas sehingga lulusannya siap bersaing dengan dunia luar.

Bukan hanya sosial dan pendidikan, dunia politik juga tidak boleh dilupakan. Kaum perempuan harus peduli terhadap politik. Jangan sampai antipolitik dan menganggap politik itu kotor. Politik akan menjadi kotor dan alat menindas yang lemah jika dikuasai orang-orang yang tidak bermoral.

Sebaliknya, politik akan menjadi alat yang sangat penting untuk menyejahterakan rakyat dan menjadikan kehidupan lebih baik jika dipegang orang-orang yang amanah dan berakhlak mulia. Jika perempuan menjauhi politik dan abai dengannya, politik akan dikuasai orang-orang yang tidak benar.

Filsuf besar Plato pernah menyatakan, salah satu hukuman karena menolak berpartisipasi dalam politik adalah Anda akan berakhir dengan dipimpin oleh yang lebih berkuasa. Maka, sudah saatnya perempuan peduli politik. Mereka bisa terjun langsung ke politik praktis dengan menjadi pengurus partai, anggota DPR, atau aktif di lembaga yang peduli dengan politik.

Selama ini politik hanya dipandang sebagai alat mengeruk kekuasaan dan uang. Padahal, politik sangatlah mulia dan mempunyai fungsi yang sangat strategis. Semua kebijakan pemerintah diputuskan melalui kesepakatan politik. Undang-undang diputuskan melalui lobi-lobi politik, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) disepakati serta ditetapkan lewat pembahasan politik. Begitu juga kebijakan strategis nasional tidak terlepas dari sikap politik.

Bahkan, peraturan, anggaran, dan kebijakan daerah juga diputuskan lewat pembahasan politik antara pemerintah daerah dan DPRD. Sistem dan aturan yang sekarang dijalankan dan dirasakan masyarakat tidak luput dari kebijakan politik.

Yang menjadi pertanyaan, jika semuanya tidak luput dari politik, lalu mengapa kita menjauhi, bahkan antipolitik? Jika perubahan bisa dilakukan lewat politik, sudah saatnya kita peduli terhadap politik.

Saat ini kita memasuki tahun politik. Kampanye calon kepala daerah riuh di mana-mana. Masyarakat akan memilih calon pemimpin daerah pada 27 Juni mendatang. Dilanjutkan dengan Pemilu 2019. Pada Agustus 2018, capres dan cawapres serta calon anggota DPR, DPRD, dan DPD akan ditetapkan. Mereka bakal bertarung pada April 2019.

Jika belum bisa menjadi calon presiden, calon anggota dewan, dan calon kepala daerah, para perempuan bisa menunjukkan kepeduliannya dengan mengajak keluarga, teman, dan tetangga untuk memilih calon yang amanah dan mempunyai kepedulian kepada masyarakat.

Mereka bisa mengajak masyarakat agar tidak menjadi golongan putih alias golput. Gerakan antigolput bisa dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Perubahan bisa dimulai dari tahun politik yang akan riuh hingga tahun depan. Saatnya perempuan meramaikan pesta demokrasi dan mewujudkan Indonesia lebih baik. (*)

 

*Anggota DPR RI

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.