Racik Miras Oplosan di Sekitar Astana Gede

Mabuk dan Berkelahi, AN Tewas

397
0
AUDIENSI. Keluarga korban miras oplosan di Desa Sukaresik Kecamatan Sindangkasih beraudiensi dengan Waka Polres Ciamis Kompol Lalu Wira Sutrisna AMd dan jajarannya Jumat (11/5).

KAWALI – Satu dari tiga pemuda tewas, setelah terlibat perkelahian dalam keadaan mabuk. Dia adalah AN (20). Sedangkan dua pemuda lainnya masing-masing adalah Rz (18) dan Dn (20). Ketiganya warga Dusun Sukahurip Desa Winduraja Kecamatan Kawali dan masih terikat hubungan saudara.

Jenazah AN ditemukan Jumat (11/5) sekitar pukul 00.00, di Sungai Ciwahangan Dusun Neglasari RT 20/07 Desa Selasari Kecamatan Kawali, dengan posisi telungkup.

Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Hendra Virmanto menjelaskan dari pemeriksaan petugas, diketahui bahwa awalnya AN dan Dn menenggak miras oplosan bersama pada Kamis (10/5), sekitar pukul 12.00.

Mereka membeli dua botol alkohol 70 persen menggunakan motor Honda Beat di salah satu apotek di Kecamatan Kawali. Kemudian, membeli Kuku Bima di warung. Ketiga bahan itu diracik dengan air keran dari musala di sekitar Astana Gede, Kawali.

“Pengakuan kepada penyidik, keduanya mabuk dan setelah itu pulang ke rumah (Dn),” jelasnya kepada wartawan Jumat pagi (11/5).

Sesampainya di rumah, Dn dan AN mengajak Rz. Kemudian merencanakan untuk minum miras bareng lagi. Kamis malam sekitar pukul 23.00, mereka mengajak Rz mabuk bareng dengan membeli lagi dua botol alkohol dan kuku bima di apotek yang sama. Ketiganya boncengan naik motor Honda Beat. Lagi-lagi, semua bahan yang telah dibeli diracik dengan air dari kran di sekitar Astana Gede.

Setelah minum, mereka pulang bersama-sama. Waktu itu motor dikemudikan Dn. Sedangkan AN dibonceng di tengah dan Rz di belakang. Dalam perjalanan, motor yang mereka tunggangi terjatuh di sekitar Dusun Neglasari.

Tiba-tiba Rz dan AN terlibat cekcok tak karuan dan saling tarik baju. Mereka berkelahi. Saat itu lah keduanya tiba-tiba terjatuh ke Sungai Ciwahangan sedalam tiga meter. AN meninggal dunia setelah kepalanya membentur batu. Sedangkan Rz tidak terluka.

Kejadian itu diketahui warga. Kemudian, dilaporkan ke Polsek Kawali. Warga juga membantu polisi mengevakuasi Jenazah AN. Sedangkan Rz langsung diamankan ke Polsek Kawali, kemudian dibawa ke Polres Ciamis. Lain lagi dengan Dn, saat kejadian dia sudah pulang ke rumahnya. Rencananya dia juga akan dipanggil untuk dimintai keterangan.

“Kami saat ini masih melakukan penyelidikan, apakah akan dikenakan Pasal 204 tentang Minuman Keras atau Pasal 351 ayat 1 tentang Penganiayaan, kita masih dalami itu. Bisa kena hukuman lima tahun penjara sampai 15 tahun penjara,” paparnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Selasari Iding mengungkapkan setelah kejadian dan orang berkerumun, Dn diketahui pulang ke rumahnya menggunakan sepeda motor. “Jadi, malam itu hanya satu pemuda yang diamankan oleh polisi. Memang lokasi kejadiannya di wilayah saya,” ungkapnya.

Keluarga Nana Tanyakan Tersangka

Keluarga Nana Sutiana alias Gerger (29) mendatangi Polres Ciamis. Nana merupakan warga Dusun Sukahurip 07/03 Desa Sukaresik Kecamatan Sindangkasih yang meninggal akibat miras oplosan pada 1 Januari 2018.

Pihak keluarga mempertanyakan penanganan kasus tersebut, karena sampai saat ini belum ada tersangka.

“Karena sejauh ini tidak ada satu pun tersangka (dalam kasus miras oplosan). (Padahal) sudah lama kasus tersebut (terjadi). Sudah lima bulan,” ungkap Dadang alias Kobra (42), kakak dari Nana Sutiana saat mendatangi Polres Ciamis Jumat (11/5) sekitar pukul 9.00.

Dadang mengatakan kedatangannya juga mewakili empat korban lain yang meninggal dan korban yang masih hidup. Ia meminta polisi menjelaskan penanganan kasus yang menimpa adiknya itu kepada masyarakat: Apakah ada tersangka atau tidak. Jika tidak ada, maka ia meminta polisi menjelaskan alasannya secara rinci.

Menurutnya, pihak keluarga merelakan jenazah Nana diotopsi karena berharap polisi bisa mengetahui orang yang memberi miras oplosan tersebut kepada adiknya. Sebab, yang diminum adalah miras oplosan dari Yogyakarta. Dia berharap pelakunya bisa ditetapkan jadi tersangka.

“Bila tidak ada yang dapat dijadikan tersangka, tidak apa-apa. Namun akan saya kembalikan ke Allah saja,” ucapnya.

Dadang mengaku akan mengawal kasus adiknya itu hingga tuntas. Dia tidak ingin kasus serupa terulang dan memakan korban lain. Sebab itu dia berharap polisi melakukan penanganan sampai tuntas.

“Kami datang ke Polres Ciamis tidak lain meminta keadilan,” tandasnya.
Wakapolres Ciamis Kompol Lalu Wira Sutrisna AMd menjelaskan kasus Nana memang sudah lama terjadi. Yakni sekitar lima bulan ke belakang. Penanganannya sampai saat ini masih berjalan.

“Penetapan tersangka itu perlu proses, serta perlu adanya gelar perkara lagi. Kita kategorikan lex specialis. Apalagi ini (mendapat) perhatian bapak kapolri dan kapolda. Makanya kasus yang lama ini akan berusaha dituntaskan de­ngan me­ka­ni­sme gelar per­kara,” jelasnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.