Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.3%

7.3%

70.3%

Macan Tutul si Abah Kembali Dilepas ke Gunung Sawal Ciamis, Populasi Tinggal 11 Ekor

308
0
DILEPASLIARKAN. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat melepaskan macan tutul Si Abah di Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal Ciamis, Selasa (25/8). IMAN S RAHMAN / RADAR TASIKMALAYA

CIAMIS – Macan tutul yang dinamai Si Abah dilepaskan di Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, Selasa (25/8).

Sebelumnya, macan tersebut ditangkap warga di Blok Cilumpang Dusun/Desa Cikupa Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis Kamis 24 Juni 2020.

Baca juga : Lestarikan Tradisi Ngobeng Ikan di Ciamis

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat melepaskan Si Abah di Blok Pasirtamiang Kecamatan Cihaurbeuti Kabupaten Ciamis.

Macan tutul tersebut, sebelum dilepaskan mendapatkan perawatan di Kebun Binatang Bandung Zoo Garden (Bazoga) selama dua bulan.

Pantauan Radar, di lokasi pelepasan Si Abah, petugas BBKSDA memasang jaring di depan kandang macan. Jaring tersebut menjadi jalur dari kandang Si Abah ke hutan Gunung Sawal.

Pemasangan jaring tersebut untuk melindungi petugas dari kecamatan, TNI dan kepolisian. Mereka menyaksikan pelepasan macan tutul itu ke habitatnya.

Untuk melepaskan Si Abah, petugas menarik tutup kandang dari jarak sekitar 20 meter. Setelah macan akan keluar dari kandang, petugas membunyikan senjata dan kentongan agar macan lari cepat ke hutan.

Kepala BBKSDA Jawa Barat Ammy Nurwati menjelaskan macan tutul Si Abah diperkirakan paling tua di Gunung Sawal. Saat ini di Gunung Sawal diperkirakan ada 11 ekor macan.

Alasan pelepasan Si Abah di Gunung Sawal, karena jika dilepaskan di tempat lain, dikhawatirkan tidak bisa bertahan karena usianya yang sudah tua.

Sedangkan kalau di Gunung Sawal, Si Abah sudah mengetahui wilayahnya.

“Jadi kami melepaskan itu sudah berdasarkan kajian dengan beberapa pakar juga, sehingga tetap memilih di Gunung Sawal,” jelas Ammy kepada wartawan usai melepaskan Si Abah.

Pihaknya berharap macan tutul ini masih bertahan dan bisa meningkatkan jumlah populasi macan di Gunung Sawal.

“Untuk Si Abah kali ini tidak lagi dipasang GPS polar karena itu hanya efektif selama tiga bulanan,” ujarnya.

BBKSDA, kata Ammy, akan memantau Si Abah selama sembilan hari, karena jangkauan macan tutul ini cukup luas.

“Bahkan kami itu telah melepasliarkan Si Abah ini yang kedua kalinya,” papar Ammy.

Sebelumnya, kata dia, Si Abah tertangkap warga pada Oktober 2018. Si Abah ditangkap warga di tempat yang sama dengan modus yang sama.

“Lantas dilepaskan kembali di Gunung Sawal, tapi pada Juni 2020 lalu kembali tertangkap masyarakat,” ujarnya.

Menyikapi hal itu, BKSDA Jabar akan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar Gunung Sawal, karena keberadaan macan tutul merupakan kebanggaan bagi semuanya. Maka, dibutuhkan sinergitas untuk mengatasi konflik antara hewan dan manusia.

“Supaya satwa dan masyarakat sama-sama aman, baik sinergis dengan pemerintah daerah, terutama berkaitan dengan mitigasi dan pemetaan. Bisa dengan regulasi atau Perda agar semua terselamatkan. Jadi kami ingatkan harus sinergis untuk mengatasi persoalan tersebut,” paparnya.

Dokter Hewan Kebun Binatang Bandung Dedi menjelaskan sebelumnya menerima titipan macan tutul dari BKSDA Jawa Barat pada 26 Juni 2020. Pihaknya saat itu langsung melakukan perawatan dan observasi.

Saat itu kondisi macan tutul asal Ciamis, Si Abah, sangat lemah, stres dan ditemukan parasit di tubuhnya.

“Usianya sudah tua. Diperkirakan 11 tahun atau sekitar 60 tahun usia manusia. Di mana gigi seri sudah habis dan taring bawah sudah tanggal. Selama perawatan diberi makan daging ayam dan sapi dua kilogram per harinya. Bahkan diberikan ayam hidup supaya insting berburunya kembali muncul,” ujarnya.

Kondisi Si Abah sekarang sudah sehat dan bisa dilepasliarkan lagi ke Gunung Sawal agar kembali ke habitanya.

Baca juga : Perwira DPC Ciamis Ajak Anak Yatim Wisata

Dihubungi terpisah, Ustaz Asna Maulana Sidik, tokoh masyarakat Dusun/ Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis khawatir macan tutul yang dua kali ditangkap warga itu memangsa ternak masyarakat lagi.

“Semoga saja dengan dilepasliarkan macan itu tidak lagi menjadi keresahan di masyarakat Kecamatan Lumbung,” ujarnya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.