Makin Lama, Kualitas Batik Sukapura Tasik Tetap Bagus, Manual Sebulan 4 Kain

68
0
Unggulan. Batik sukapura menjadi produk unggulan kabupaten Tasikmalaya yang sudah dikenal baik dari segi kualitasnya.
Unggulan. Batik sukapura menjadi produk unggulan kabupaten Tasikmalaya yang sudah dikenal baik dari segi kualitasnya.

TASIKMALAYA – Batik Sukapura menjadi salah satu produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya yang sudah dikenal dengan kualitas baik.

Batik yang dibuat secara manual itu di Kabupaten Tasikmalaya memiliki 3 sentra dengan 8 unit usaha tersebar di Desa Sukapura, Desa Janggal Kecamatan Sukaraja dan Cikunir Kecamatan Singaparna.

Sampai saat ini, produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya ini menyerap tenaga kerja 56 orang.

Pemasarannya sendiri meliputi pasar lokal dan luar negeri.

Salah satu perusahaan pengrajin Batik Sukapura yang saat ini masih terus eksis menerima pesanan yakni Pengrajin Batik Nursahbani, di Kampung Pasirkolot Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja.

Perusahaan ini setiap bulannya mampu memproduksi 6-10 kain Batik Sukapura secara manual (tradisional).

Pengrajin Batik Sukapura, Nursahbani mengatakan, sampai saat ini kain Batik Sukapura masih tetap diminati oleh konsumen.

Hanya saja saat ini tidak ada regenarasi pengarajinnya. “Kebetulan saat ini Batik Sukapura bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk lebih dikembangkan lagi,” ujarnya.

Sampai saat ini, pemesanan batik yang menjadi produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya itu pemesanan terus berjalan, baik untuk pasar lokal maupun luar negeri.

“Untuk ekspor sendiri biasanya melalui pesanan,” katanya.

Nursahbani menjelaskan, untuk saat ini yang memang paling diminati dari kerajinan tradisional Batik Sukapura itu bahan samping dan sarung.

“Untuk pemasarannya memang daerah Cikalong. Termasuk memenuhi pesanan di daerah Jakarta,” ungkapnya.

Pemesanan untuk luar negeri, kata dia, biasanya melalui online, salah satunya ke Afrika. “Cuma itu harus PO,” ucapnya.

Menurutnya, pembuatan Batik Sukapura ini selama ini terkendala tidak adanya regenerasi dan juga rumit dalam pengerjaan dan penggambarannya harus bulak balik.

“Makanya upaya kami saat ini agar ada regenarasi memberikan pelatihan kepada siswa yang bekerja sama dengan sekolah melalui ekstrakurikuler termasuk memberdayakan siswa yang melaksanakan PKL,” paparnya.

Kata dia, untuk modelnya, batik tradisional ini tergantung permintaan, khusus untuk batik yang dijadikan bahan baju.

“Sampai saat ini kami mampu membuat 4-5 kain dengan panjang 2,5 meter setiap satu bulannya,” terangnya.

Menurut dia, Batik Sukapura sendiri kualitasnya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan kualitas itu sudah diakui semua daerah di Indonesia.

“Kualitas ini semakin lama semakin bagus. Bahkan semakin lama, Batik Sukapura ini meski kainnya sudah rapuh, tetapi hasil tulisannya masih tetap bagus, beda dengan batik buatan daerah lain,” kata dia.

Selain kualitas tulisan, Batik Sukapura juga memiliki khas yakni warna biru, merah marun dan gading atau warna-warnanya tidak mencolok.

“Beda kalau batik produk daerah lain biasanya warna-warni seperti batik buatan Kota Tasikmalaya,” katanya.

Biasanya, lanjut dia, batik tulis sukapura ini dijualnya dalam bentuk kain, bukan bentuk produk jadi.
Meski pun saat ini ada beberapa pengrajin memasarkan batik sukapura ini dalam bentuk pakaian.

“Kebanyakan memang dipasarkan dalam bentuk kain,” tukasnya.

Saat ini, dia dan pengrajin lainnya terus berupaya meningkatkan kualitas dan pemasaran.

Bahkan tidak hanya dipasarkan melalui pasar-pasar tetapi merambah ke penjualan online.

“Termasuk kami juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM),” katanya.

Nursahbani berharap Batik Sukapura ini terus dilestarikan, termasuk adanya regenerasi pengrajin.

Karena selama ini pengrajin batik tulis tersebut hanya dilakukan oleh orang yang sudah tua, berumur di atas 45 tahun.

“Mudah-mudahan dorongan pemerintah akan peningkatan kualitas, pemasaran dan SDM terus dilaksanakan,” harap dia.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Dr H Mohamad Zen mengatakan, untuk produk unggulan batik sendiri saat ini menunjukan progres yang cukup bagus.

Bahkan saat ini sudah dijadikan sampel oleh Bank Indonesia.

“Bahkan batik tulis ini memiliki nilai yang cukup bagus dari BI. Makanya akan terus kita kembangkan lebih luas baik dari segi kualitas maupun pemasarannya,” tandasnya.

Sehingga apa yang sudah terbangun dengan BI akan menambah lebih banyak kelompok pengrajin Batik Tulis Sukapura ini.

“Bahkan kami juga akan memfokuskan dengan penambahan modal bagi para pengrajin. Karena sampai hari ini sudah mendapatkan kepercayaan pasar,” katanya.

“Termasuk kebutuhan akan Batik Sukapura ini belum terpenuhi dari jumlah yang sudah kita hasilkan,” ujarnya, menambahkan.

Zen menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya juga akan terus melaksanakan edukasi kepada masyarakat agar batik tradisional unggulan Kabupaten Tasikmalaya ini ada regenerasi.

“Itu terus kami laksanakan melalui pelatihan-pelatihan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Mudah-mudahan Batik Sukapura ini bisa lebih meningkatkan perekonomian masyarakat,” harap dia.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Tasikmalaya Drs H Nana Rukmana MM mengatakan, Batik Sukapura ini komoditas IKM yang menjanjikan di Kabupaten Tasikmalaya yang terus dikembangkan baik dari segi kualitas, motif dan juga pemasaran.

“Bahkan kami sudah bekerja sama dengan BI dalam pengembangannya,” ucap dia.

Meski dari produk batik sendiri kalah bersiang dengan batik daerah lainnya.

Setelah adanya evaluasi bahwa batik ini kalah bersaingnya tidak adanya regenerasi atau penerus.

“Makanya kami selama tiga tahun ini dengan BI membangkitkan kembali regenerasi itu untuk Batik Sukapura,” ungkapnya.

Dalam meningkatkan regenerasi itu pemerintah bekerja sama dengan BI mendatangkan desainer dari Jogja.

“Mudah-mudahan batik ini bisa bergerak kembali bangkit dan berkembang,” harapnya.

(ujang nandar)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.