Malam Ini, Masyarakat Indonesia Bisa Lihat Supermoon

61
0
Penampakan gerhana bulan di Huddersfield, Inggris, pada Minggu (20/1). Foto : Press Associate

FENOMENA bulan purnama super atau ‘supermoon’ akan bisa disaksikan masyarakat Indonesia pada Senin (21/1/2019) malam.

Meski begitu, masyarakat Indonesia tidak akan bisa melihat gerhana bulan kemerahan atau yang disebut beberapa kalangan sebagai ‘super blood wolf moon’.

Gerhana bulan, menurut astronom Avivah Yamani, akan mulai pukul 09:30 dan berakhir 14:49 waktu setempat.

“Gerhana bulan mulai 09:30 pagi ini, hanya bisa dilihat dari wilayah yang masih malam seperti Amerika, Eropa, Afrika, dan di Pasifik Tengah,” kata Avivah kepada BBC News Indonesia.

Gerhana semacam ini terjadi ketika Bumi bersejajar dengan Matahari dan Bulan. Pada situasi ini, Matahari berada di balik Bumi, dan Bulan bergerak ke dalam bayangan Bumi.

Beberapa kalangan menyebut fenomena ini sebagai ‘super blood wolf moon’. Kata ‘super’ merujuk pada fakta bahwa Bulan akan berada pada jarak terdekat dengan Bumi sehingga akan tampak lebih besar dari biasanya di angkasa.

Adapun kata ‘wolf’ atau serigala merujuk dari sebutan terhadap bulan purnama pada Januari, yaitu ‘wolf moon’.

“Sedikit cahaya matahari dibiaskan oleh atmosfer Bumi dan mencapai Bulan, membelokkannya ke sekitar Bumi. Cahaya merah dalam jumlah sedikit ini menyinari Bulan, cukup bagi kita untuk melihatnya,” papar Walter Freeman, asisten profesor di Universitas Syracuse, AS.

Akan tetapi, publik Indonesia bisa menyaksikan bulan purnama super alias ‘supermoon’ pada Senin (21/1/2019) dan Selasa (22/1/2019).

“Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya,” kata Avivah Yamani.

Meski demikian, Avivah mengingatkan, faktor cuaca amat menentukan untuk menyaksikan ‘supermoon’.

“Untuk Bandung yang hujan dan berawan tebal, sepertinya akan susah untuk bisa membedakan bulan super ‘yang lebih terang 30%’ dari bulan purnama saat di titik terjauh dari Bumi.”

“Kalau hujan dan awan, bulan tidak nampak. Kalau nampak di balik awan pun kita tidak bisa melihat bulan lebih terang,” paparnya.

Jika cuaca bagus, publik dapat menyaksikan bulan purnama super dan gerhana bulan dengan mata telanjang secara aman.

Sebab berbeda dengan gerhana matahari, cahaya bulan purnama super dan gerhana bulan lebih redup sehingga aman untuk melihatnya tanpa peranti khusus. (*/bbc/pojoksumut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.