Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.8%

7.3%

69.7%

Mama Kudang Tasik Layak Jadi Pahlawan Nasional

1063
1
LAUNCHING BUKU. Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman (keenam, kanan), tokoh dan jajaran Muspida mengapresiasi peluncuran buku Kiai Mama Kudang, Sabtu (23/8). Buku tersebut menceritakan kiprah Kiai Mama Kudang sebagai ulama besar dari Kota Tasikmalaya dan pejuang kemerdekaan NKRI.
LAUNCHING BUKU. Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman (keenam, kanan), tokoh dan jajaran Muspida mengapresiasi peluncuran buku Kiai Mama Kudang, Sabtu (23/8). Buku tersebut menceritakan kiprah Kiai Mama Kudang sebagai ulama besar dari Kota Tasikmalaya dan pejuang kemerdekaan NKRI.

TASIK – Jangan sekali-kali melupakan jasa para pahlawan. Itulah pesan dari kegiatan Daurah Ulama dan Bedah Buku KH Mama Kudang atau KH Muhamad Sudja’i di Gedung Mandala Unsil, Sabtu (22/8).

Acara yang mengulas perjalanan hidup KH Mama Kudang sebagai ulama karismatik dan pejuang kemerdekaan ini dihadiri Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Aslim, Rektor Unsil Tasikmalaya Prof Rudi Priyadi Ir Ms, Ketua MUI Kota Tasikmalaya KH Ate Musodiq, dan Ketua Umum Forum Pondok Pesantren Kota Tasikmalaya KH Nono Nurul Hidayah.

Hadir pula Perwakilan Polres Tasikmalaya Kota, Kodim 0612 Tasikmalaya dan pimpinan pondok pesantren Se-Tasikmalaya.

Buku berjudul Mama Kudang membahas sejarah, pemikiran, jaringan ulama dan keistimewaannya. Dicetak pertama kali pada 20 Juli 2020 sebanyak 250 eksemplar.

Buku yang ditulis Dr H A Zaki Mubarak ini dibahas oleh penulis buku Api Sejarah Prof Dr Ahmad Mansur Suryanegara, Wakil MUI Kota Tasikmalaya KH M Aminuddin Busthomi dan Editor Buku Mama Kudang Dr KH Acep Zoni Saeful Mubarok MAg.

Penulis Mama Kudang Dr H A Zaki Mubarak mengatakan, buku Mama Kudang ini sebagai upaya mengangkat ikon ulama di Tasikmalaya agar mendapatkan gelar pahlawan nasional dan sebagai nama jalan protokol di Kota Tasikmalaya.

“Buku ini bisa memperkaya khazanah bangsa, serta dapat memuliakan ulama yang berjasa menentang kezaliman penjajahan negara asing,” kata Dr H A Zaki Mubarak, Sabtu (22/8).

Kemudian, disepakati juga bahwa Kiai Mama Kudang merupakan ulama besar pada zamannya yang merupakan generasi kedua estafet penyebaran Islam di Tasikmalaya dan tatar Sunda.

“Dengan inilah Kiai Mama Kudang memiliki peran sentral dalam dakwah melalui sentrum pesantren yang didirikannya, khususnya di Priangan Timur,” ujarnya.

Ia mengatakan, Kiai Mama Kudang lahir pada 1835 Masehi dan wafat 10 Dzulhijjah 1961 di usianya 130 tahun. Beliau mengalami tiga periode perubahan sosial politik dan keagamaan di Indonesia, dari penjajahan Belanda, Jepang dan kemerdekaan Indonesia atau orde lama.

“Beliau bisa mengawal perjuangan Islam dan memperjuangkan kemerdekaan lewat pengabdian dan semangat untuk Nusantara,” katanya.

Setelah diterbitkan buku ini, kata ia, diharapkan terdapat efek domino dari memori perjuangan ulama. Sehingga generasi selanjutnya dapat menghargai jasa pahlawan.

“Indonesia merdeka karena ada karya dan usaha ulama. Jadi sebagai generasi penerus bangsa jangan sekali-kali melupakan jasa para pahlawan,” ujarnya.

Sebagai penulis, ia pun menceritakan bagaimana kiai Mama Kudang pandai berorganisasi. Beliau pernah menjadi bagian dari Serikat Islam, Masyumi, ketua Konstituante Pertama Indonesia dan anggota Konstituante MPRS.

“Di lingkup lokal pun Mama Kudang memiliki peran strategis bersama Bupati Wiratanuningrat dalam IBNU serta Perkumpulan Guru Ngaji (PGN) yang memiliki anggota para kiai sekitar 1.350 orang,” tambahnya.

Selanjutnya, dalam bidang keilmuan pun lengkap, Kiai Mama Kudang merupakan ahli tasawuf. Ada beberapa amalan tarekatnya yaitu Qadiriyah, Syattariyah dan Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

“Di sisi lain, beliau ahli di bidang syariat dari berbagai ilmu ushul fiqih, balaghoh dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Jadi tidak ada alasan untuk tidak mengabarkan peran pentingnya dalam kemajuan peradaban Nusantara. Maka ia pun melakukan pendekatan metodologi metafisika.

“Ini (buku, Red) prosesnya hanya 1,5 bulan. Menyatukan satu-satu bahan, baik dari internet, wawancara dan kitab-kitab sejarah lainnya. Sehingga buku ini bisa dikatakan lengkap,” katanya.

Selain itu, usahanya menulis ini merupakan bentuk ikhtiarnya dalam rangka meneruskan sanad keilmuan.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman menyampaikan, adanya buku Mama Kudang ini menjadi dokumentasi dan memberikan motivasi kepada pesantren-pesantren bahwa di Tasikmalaya punya kiai besar. “Beliau ulama karismatik dan berkontribusi besar atas lahirnya NKRI,” katanya.

Jasa kiai ini dapat diakui bukan hanya tingkat kota saja, bahkan sampai internasional. Ia pun bangga kepada Kiai Mama Kudang sebagai warga Kota Tasikmalaya yang ikut dalam perjuangan dan merumuskan kemerdekaan Indonesia.

“Kemerdekaan ini atas perjuangan alim ulama. Termasuk di dalamnya ada tokoh Kiai Mama Sudja’i atau Mama Kudang,” ujarnya.

Maka hal yang wajar bila masyarakat dan pemerintah akan meminta Presiden Jokowi agar bisa memberikan gelar penghargaan pahlawan kepada Kiai Mama Kudang ini.

“Atas jasa ini, seluruh masyarakat dan pemerintah Tasikmalaya sepakat kiai Mama Kudang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional,” katanya.

Bentuk penghormatan lainnya, ia akan menjadikan Mama Kudang sebagai nama jalan protokol di Mangin atau di Lingkar Utara.

Ia berpesan, momentum ini harus diambil hikmahnya dan dapat menjadi motivasi adanya kebangkitan pendidikan pesantren.

Rektor Unsil Tasikmalaya Prof Rudi Priyadi Ir Ms mengingat Mama Kudang sebagai ulama karismatik di Tasikmalaya. Itu adalah anugerah bagi penerus beliau. Makanya harus menghargai jasa ulama besar.

“Mari mendorong pemerintah untuk mengesahkan Mama Kudang sebagai pahlawan. Dan menjadikannya sebagai nama jalan protokol Mangin di Tasikmalaya,” ujarnya.

Cucu dari Mama Kudang Hj Ipung Puroh Sudja’i (74) dan Hj Ny Pipih (76) mengapresiasi hadirnya buku Mama Kudang. Menurutnya, beliau sosok yang moderat dan tidak mau di besar-besarankan jasanya selama ini.

“Jadi sangat bahagia ada orang yang menuliskan sejarahnya. Padahal dari kita belum mampu menceritakan perjalanannya Eyang (Kyai Mama Kudang),” ujarnya.
Menurutnya, Kiai Mama Kudang merupakan sosok yang sederhana dan penuh kasih sayang. (riz)

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.