Manusia dan Merdeka

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Seabad lalu, Tirto Adhi Soerjo berpamit dari dunia. Dia memberikan warisan tulisan-tulisan bagi umat pembaca di Indonesia saat masih berlakon kolonialisme. Tirto menempuhi jalan pers dan sastra, berani ”bergelut” dengan penguasa dan kaum pemodal serakah.

TULISAN demi tulisan Tirto Adhi Soerjo (1880–1918) seperti tendangan, tamparan, cubitan dan pukulan. Penggerak Medan Prijaji itu pantang kapok meski mengalami pemenjaraan atau pembuangan. Hidup tak harus sia-sia asal sanggup membarakan perlawanan enggan padam.

Di hadapan penguasa kolonial, Tirto Adhi Soerjo menantang segala pengertian menistakan kaum bumiputra. Di Medan Prijaji (1910), Tirto Adhi Soerjo atau lelaki berjuluk ”Sang Pemula” itu mengumumkan tulisan keras berjudul Apa Jang Gubermen Kata dan Apa Jang Gubermen Bikin.

Tulisan sesak marah. Kaum bumiputra telanjur dipandang rendah dan hina. ”Pendoedoek jang ada di sini boleh diseboet: djenis manoesia antero sorga (bangsa Eropa dan bangsawan-bangsawan anak negeri jang mendapat foroem), ½ manoesia (prijaji-prijaji dan opsir Tionghoa jang mendapat foroem selagi dalam pangkatnja), 1/3 manoesia (prijaji-prijaji jang tidak mendapat foroem tetapi loepoet dari mata gawe), ¼ manoesia (semoea jang tidak mendapat foroem dan tidak terbebas dari mata gawe),” tulis Tirto Adhi Soerjo.

Jurnalis galak itu mengajak kaum bumiputra melawan, terutama kalangan ”prijaji” selaku pemuka. Seruan Tirto Adhi Soerjo meminta pendapat: ”Apakah keadaan seperti ini haroes didiamkan sadja dengan madjoenja Hindia ini?” Tulisan itu menambahi daftar tuduhan ke Tirto Adhi Soerjo sebagai manusia melawan ”kesopanan” dalam tata politik kolonial.

Kita sengaja mencuplik dari tulisan lawas untuk mengerti penciptaan struktur menjadikan kaum bumiputra terperintah dan menanggung segala petaka berdalih kolonialisme.

Tulisan setelah ada kemauan ”bangoen” atau ”bangkit” melalui Boedi Oetomo (1908) telat bergaung dan terejawantah. Tirto Adhi Soerjo maklum mengetahui situasi tanah jajahan memang masih ”mengharamkan” ide-ide bagi bumiputra mewartakan angan merdeka dan mulia.

Pada tahun-tahun berbeda, pelbagai ide perlawanan Tirto Adhi Soerjo mendapatkan penerus bernama Marco Kartodikromo (1890–1932). Dia pun menekuni pers dan sastra.

Di Solo, Marco Kartodikromo tenar dengan surat kabar Doenia Bergerak (1914). Di mata pembaca cerita, ia itu pengarang novel berjudul Mata Gelap dan Student Hidjo.

Marco Kartodikromo masih berketerusan melawan nalar-nalar kolonial dan segala praktik penghinaan ke bumiputra. Gagasan merdeka mulai disemaikan tanpa gentar.

Kata-kata tetap bergerak sampai ke mata dan telinga pemerintah kolonial. Kata-kata ingin menuntun kaum bumiputra menempuhi jalan kehormatan dengan melawan dan menolak patuh pada penguasa.

Pada 1918, seabad silam, Marco Kartodikromo mengeluarkan buku tipis dan kecil dijuduli Sair Rempah-Rempah. Buku kumpulan puisi, kumpulan resah, marah dan dendam.

Di puisi berjudul ”Kemardika’an”, pembaca disuguhi lelucon menampik ”sopan” bentukan kaum kolonial atau kaum bumiputra terpatuhkan. Dua bait menebar sengat: Kita hidoep di dalem tindesan,/ Kita tidak berani melawan,/ Sebab kita kalah kekoewatan,/ Dengen dia jang berhati setan.// Tidak gampang orang mengerdjakan,/ Kemardika’an jang menjenangkan,/ Boeat manoesia jang ditekan,/ Oleh orang jang memerentahkan.

Nada-nada melawan itu sealur dengan tulisan-tulisan Tirto Adhi Soerjo, cuma berbeda masa. Pada saat puisi mendapatkan pembaca, Tirto Adhi Soerjo berada di detik-detik akhir kehidupan.

Kaum bumiputra mulai menguatkan perlawanan dengan pendirian sekian perkumpulan dan terbitan pers. Tirto Adhi Soerjo memang pemula. Marco Kartodikromo ada di deretan pelanjut membesarkan segala tanda seru berbarengan kaum pergerakan politik melempar ”batu-batu” perlawanan ke kolonial.

Marco Kartodikromo sadar ada tata politik yang telah berubah di Hindia Belanda. Suara-suara keras masih bakal mendapat ganjaran penjara dan pembuangan.

Marco Kartodikromo pun sering menjadi penghuni bui. Ia malas ”bertobat” atau mengakhiri dendam kesumat pada kolonial.

Dua bait masih memberikan ajakan merdeka bagi kaum terperintah di Hindia Belanda: Kemerdika’an jang kita tjari,/ Jaitoe kemanoesiaan kami,/ Soepaja bangsakoe memadai,/ Dengan bangsa jang dipandang tinggi.// Djangan selaloe kita dihina,/ Seperti boekan bangsa manoesia,/ Kita ini manoesia djoega/ Sama dengen si besar dan kaja. Puisi bukan ”pengajaran” tapi ”hasutan” mengajak orang-orang memiliki adab dan derajat kemanusiaan. Sebelum semakin mengalami penindasan dan penghinaan.

Artikel garapan Tirto Adhi Soerjo dan puisi gubahan Marco Kartodikromo menandai ikhtiar-ikhtiar menjadikan kaum terperintah mendapat kemuliaan sebagai manusia dan pemenuhan hak merdeka. Tulisan mereka berbeda dari bedil untuk membunuh.

Kata-kata ingin ”menembak” keangkuhan kolonial. Kata-kata memiliki ”janji” menguatkan hasrat melawan kaum bumiputra atas lakon buruk kolonialisme.

Seabad silam, Tirto Adhi Soerjo berakhir, tapi sudah memberikan tulisan-tulisan bercap api membara. Marco Kartodikromo pun turut memberikan kepanjangan perlawanan dengan kata-kata bertampang puisi: menginginkan pengakuan sebagai manusia dan capaian merdeka. Begitu. (*)

*) Kuncen Bilik Literasi

loading...