Manuver Pilpres Poros SBY

800
0
Illustrasi

KONSTELASI pilpres bisa berubah apabila Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merealisasikan ucapan mutakhirnya.

“Insyaallah nanti ada pemimpin baru yang amanah, cerdas, dan memikirkan rakyat banyak,” ujar SBY dalam temu warga di Cilegon Minggu malam (22/4).

Lebih spesifik, SBY menyatakan akan pasangkan nanti capres-cawapres yang mengerti keinginan rakyat.

Bagaimanapun, SBY masih sosok kuat. Selain Partai Demokrat yang dipimpinnya masih signifikan, karismanya sebagai mantan presiden dua periode (2004-2014 )—yang relatif sukses— juga tak bisa dianggap enteng. Hal ini tentu bisa membuat hitung-hitungan politik jungkir balik.

Perlu dilihat level sikap kenegarawanan SBY dalam hal ini. Apakah formulanya sama seperti Pilkada DKI 2017, ketika dia mencalonkan anaknya sendiri, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)?

Sampai-sampai AHY mengorbankan karirnya, mentok di pangkat mayor, dan harus keluar dari TNI. Hasilnya, AHY (bersama Silvia Murni) tersingkir di babak pertama.

Namun, kemunculan AHY di pilkada DKI justru dijadikan momentum untuk “menasionalkan” AHY. Meskipun, secara umum namanya belum cukup moncer dan belum masuk “kelas berat” dalam politik.

Tetapi, siapa tahu SBY tetap akan meng­ajukannya sebagai capres atau cawapres. Atau, SBY berkenan menjadi calon wakil presiden (cawapres). Kenapa tidak? Politik adalah seni segala kemungkinan.

Usianya “masih” 68 tahun, lebih muda ketimbang Jusuf Kalla (kini 75 tahun) saat terpilih jadi Wapres Jokowi pada 2014. Di negeri jiran, Mahathir Mohamad mencalonkan diri jadi perdana menteri di usia 92 tahun.

Agar bisa mengajukan kandidat, Demokrat yang berbekal 10,19 persen suara dalam Pemilu 2014 harus mengajak partai-partai lain berkoalisi untuk mencapai syarat minimal satu tiket 20 per sen suara.

Berebut dengan Gerindra 11,81 persen suara yang sudah mencapreskan Prabowo Subianto. Juga bisa saja menggoda partai-partai yang selama ini sudah mendukung Jokowi, selain PDIP (18,95). Bisa saja PKS (6,79), PPP (6,53), PKB (9,04), Golkar (14,75), Nasdem (6,72), atau Hanura (5,26) berhitung ulang.

Tentu saja konstelasi akan lebih menarik. Ketimbang menyaksikan rematch yang membosankan antara Jokowi-Prabowo.

Apalagi, selama periode ini, prestasi ekonomi tak semoncer sebelumnya. Manajemen politik juga kurang piawai sehingga mengalami kegaduhan demi kegaduhan yang menyerempet-nyerempet basis fundamental negara. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.