Ma’ruf Amin: Kita Tak Pernah Goreng Kasus Ratna

1

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

JAKARTA – Isu hoax Ratna Sarumpaet terus bergulir. Cawapres KH Ma’ruf Amin pun ikut angkat bicara.

Dia membantah jika pihaknya menggoreng kasus hoax Ratna tersebut. Menurutnya, tim pemenangan kubu Jokowi – Ma’ruf tidak pernah mempolitisasi kasus itu.

“Tidak pernah kita ngomong politisasi. Kita tidak pernah komen kok, itu urusan pihak yang berwenang, bukan urusannya kita. Pengawasannya kan ada. Kita kan peserta,” ujar Kyai Ma’ruf saat ditemui usai menerima bantuan Pemerintah Taiwan untuk korban bencana di Kantor MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (9/10).

Hal ini tegas disampaikan Kiai Ma’ruf karena sebelumnya kubu Prabowo-Sandi sempat mengklaim bahwa kubu Jokowi-Kiai Ma’ruf menggoreng kasus hoax penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet.

Pihaknya kata Ma’ruf hanya menyerahkan kasus tersebut kepada pihak yang berwenang agar diproses sesuai aturan yang berlaku.

Ma’ruf Amin menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah memiliki niat untuk menggoreng kasus yang melibatkan sejumlah tokoh dari Prabowo cs.

Menurutnya tim merekaa hanya akan menggunakan cara-cara yang santun untuk memenangkan Pipres 2019. Ia pun menegaskan kembali bahwa timnya akan menyerahkan kasus tersebut kepada pihak yang berwenang agar diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Kita nggak ada goreng menggoreng. Kita santun saja. Jalan aja,” tandasnya.

Di sisi lain, menindak lanjuti kasus hoax Ratna, Anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo mempertanyakan langkah Polda Metro Jaya yang memanggil Ketua Dewan Kehormatan Amien Rais sebagai saksi dalam kasus kebohongan aktivis Ratna Sarumpaet.

Drajad mengatakan bahwa alasan Polda dalam pemanggilan Amien sebagai saksi adalah sebuah Konstruksi logika yang lemah.

Menurut Drajad, penggunaan Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 1 tahun 1946 yang menjadi dasar pemanggilan Amien sebagai saksi, tidak digunakan polisi ketika terjadi keributan antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dengan Kepala Bulog Budi Waseso.

“Apa yang membuat kasus hoax Ratna bisa didefinisikan sebagai ‘keonaran di kalangan rakyat’. Sementara ribut-ribut beras tidak? Beras itu hajat hidup rakyat banyak lho,” ujar Drajad dalam keterangannya, Selasa (9/10).

Drajad pun kembali mempertanyakan terkait langkah kepolisian yang menggunakan ‘tindak pidana menyampaikan berita bohong di sosial media’ dalam kasus Ratna dan dikaitkan dengan Amien.

Padahal, Drajad mengatakan, foto dengan wajah Ratna yang lebam dengan narasi penganiayaan sudah beredar luas di media sosial dan sejumlah media sebelum Ratna bertemu dengan Amien hingga Prabowo Subianto.

“Jauh sebelum beliau-beliau konferensi pers. Kalau Polri perlu saksi, ya carilah orang yang tahu tentang awal tersebarnya foto dan narasi tersebut. Bukan Pak Amien dan kawan-kawan yang sebenarnya juga korban kebohongan RS dan tahunya tergolong paling akhir,” tegasnya.

(ZEN/FIN)

loading...