MASA TEGANG

23

SEPERTINYA, masa paling tenang dalam waktu setahun ke belakang adalah masa tenang selama tiga hari, tanggal 14-16 April 2019. Setidaknya, ada perubahan signifikan dari arus posting-an netizen di media sosial (medsos), khususnya Facebook dan Twitter yang bisa diakses orang di seluruh dunia.

Dalam setahun ini, fanatisme berbasis pilihan politik telah memproduksi begitu banyak ketegangan sosial di tengah kehidupan masyarakat. Betapa banyak produksi ujaran kebencian, fitnah politik, hoax, dan lainnya. Cukup banyak orang yang dipolisikan lantaran ketidakmampuan mengendalikan hati yang diekspresikan oleh mulut dan tangan; mulut ketika berorasi dan tangan ketika bermedia sosial.

Suasana pada hari-hari setelah 17 April 2019 pun belum tentu setenang masa tenang. Di tiga hari masa tenang tentu kita tak akan luput untuk menyimak posting-an dan komentar dari mereka yang tak mampu menahan diri menyalurkan bakat “berantem”. Posting-an dan konten yang bermuatan provokasi dan mengundang ketegangan pasti ada. Sisa perjalanan ke belakang takkan bisa dilepas semuanya. Tapi pastinya tak signifikan jika dibandingkan dengan suasana berbeda yang kita simak selama ini.

Segala atribut dan simbol kampanye sudah mulai dihabisi. Alat peraga kampanye di pinggir jalan, di kaca mobil, di tempat-tempat yang menyesaki ruang publik kini sudah dibersihkan. Pandangan dan pendengaran kita tak lagi dilekatkan pada tampilan-tampilan visual yang secara jujur telah mengotori dan mencemari ruang milik masyarakat. Sungguh, bebasnya pandangan kita dari alat peraga kampanye akan mengurangi aktivitas dan beban politik yang mendominasi hari-hari kita.

Perubahan suasana ini, ketenangan sementara yang berlangsung selama tiga hari, akan bertahan hingga hari pemilihan tiba. Di tanggal 17, suasana memuncak. Puncak ekspresi akan membuncah di hari itu. Saat quick count dipasang di layar semua TV dan memperlihatkan hasil pemilihan, maka euforia akan meledak dan histeria akan berdentum. Proses yang mengundang full emosi akan mewujudkan suasana yang penuh ekspresi.

TENANG ATAU TEGANG?

Melihat sepak terjang masyarakat Indonesia yang diekspresikan di media sosial selama setahun ke belakang, orang yang terlibat dalam hiruk pikuk dukung mendukung begitu banyaknya. Silent voters atau pemilih diam yang tak mengekspresikan dukungan tak signifikan. Maka, sebanyak mereka yang aktif bermedia sosial untuk menyampaikan dukungan politiknya, sebanyak itulah orang yang merasakan ketegangan di masa tenang ini. Tiga hari masa tenang (14-16 April 2019) justru menghadirkan rasa penasaran yang lebih. Menanti tanggal 17 adalah masa penuh gejolak batin. Ketegangan akan berpuncak di saat-saat pengumuman hasil pemilu di layar kaca TV, dimulai pukul 13.00 di semua stasiun TV.

Lain lagi bagi mereka yang memilih menjadi silent voters yang umumnya adalah ASN, TNI, Polri, dan pihak-pihak yang secara aturan diwajibkan netral. Merekalah yang justru mengalami masa tenang. Kecamuk perang opini sehari-hari, kini menjadi tak berarti. Badai itu berganti riak. Pertengkaran yang setiap hari memuncak kini reda. Akan ada gerimis rindu tentang suasana politik Indonesia seperti ini selamanya. Akan ada keinginan kuat masyarakat agar kondisi politik mereda dan persatuan bangsa bisa dirajut kembali, bersama-sama. Politik tak harus diseriusi seperti masa kemarin karena setiap calon pemimpin (Presiden dan Wakil Presiden) adalah makhluk terbaik yang dimiliki Indonesia. Siapa pun nanti yang unggul, dialah yang lebih dalam bersemayam dalam hati sanubari rakyat.

Suasana ketegangan yang mencapai klimaks sebetulnya ada pada jiwa dan diri para calon anggota legislatif, DPR RI, DPRD dan DPD. Mereka masuk dalam arus pertempuran yang sesungguhnya. Selain harus memenangkan calon presiden yang didukungnya, ia juga memanggul beban berat memenangkan dirinya. Segala perjuangan akan berakhir indah jika menang. Beratnya usaha fisik dan upaya psikologis yang dipikulnya selama lebih dari setahun akan menjadi sangat ringan ketika hasil sudah dapat diketahui dan nasib baik berpihak padanya.

Berbeda dengan mereka yang kalah, atau kalah secara total. Bisa jadi ada yang kalah di tingkat pemilihan legislatif, tapi calon presiden yang didukungnya menang. Atau juga dia menang dalam pemilihan legislatif, sementara calon presiden yang didukungnya kalah. Puncak kesedihan dan penderitaan tentu dialami oleh mereka yang kalah secara keseluruhan. Kekalahan total biasanya berimbas pada kekalahan lainnya; kekalahan secara sosial, psikologis, juga kekalahan finansial.

Menang atau kalah, sejatinya memberi efek positif bagi para politisi, juga seluruh rakyat Indonesia. Menang bukan berarti mendapatkan segalanya. Kalah juga tidak berarti kehilangan segalanya. Karakter politik, karena melibatkan banyak orang, melibatkan ilmu, strategi, metodologi, bahkan seni, maka efeknya bukan hal biasa. Jika positif, kemajuan sebuah bangsa akan diraih secara signifikan. Jika negatif, maka kehancuran sebuah bangsa bukanlah utopia. Di sini, kita, masyarakat bawah Indonesia berharap semoga kedewasaan berpolitik bisa secara umum dirasakan dari atas hingga bawah. Efek dari praktik berpolitik harus memajukan, bukan menghancurkan. (*)

* Pengamat sosial, politik dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.