Masa TI Minta Kejaksaan Tasik Usut Dugaan Gratifikasi Istri Sekda ke Istri Bupati

535
0

MANGUNREJA – Aksi teatrikal sekaligus unjuk rasa dari masa aksi Transparansi Institute (TI) Tasikmalaya di depan kantor Kejelasan Kabupaten Tasikmalaya, Senin (30/12), menyentil pelantikan Sekda Kabupaten Tasikmalaya.

Mereka menuntut pihak kejaksaan untuk mendalami dugaan gratifikasi atau pemberian hadiah umrah dalam proses pelantikan sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (27/12) lalu di Pendopo Baru.

Mahasiswa memperagakan istri sekda yang mengajak istri Bupati Tasikmalaya untuk pergi umrah ke tanah suci seminggu sebelum pelantikan sekda, sebagai hadiah suaminya karena diangkat menjadi sekda.

Koordinator Transparansi Institute Tasikmalaya, Jamaludin mengatakan, dugaan gratifikasi dan pungutan liar marak terjadi belakangan ini.

Maka proses pemberantasan korupsi disini sangat dibutuhkan dengan melibatkan berbagai pihak khususnya penegakan hukum untuk serius dalam penanganan kasus korupsi.

“Kami sebagai masyarakat meminta kepada pihak kejaksaan untuk segera bertindak dengan cepat tanpa ada kompromi dalam penanganan kasus korupsi di Kabupaten Tasikmalaya,” tegas Jamal, kepada Radar di Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya.

Adapun tuntutan dalam aksi refleksi akhir tahun ini, terang dia, meminta kejaksaan melakukan penyelidikan terkait dengan dugaan gratifikasi pada proses pengangkatan sekda Kabupaten Tasikmalaya.

Jadi, jelas dia, adanya dugaan gratifikasi pemberian hadiah umrah kepada salah satu istri petinggi di Kabupaten Tasikmalaya dalam hal ini bupati, sebelum adanya prosesi pelantikan sekda.

“Kita punya data dan bukti dari salah satu travel umrah dan haji di Tasik yang mengaku didatangi istri sekda dan disuruh mengecek paspor, meminta foto dan data diri dari istri bupati di rumahnya,” ungkap dia.

Jamal mengingatkan kepada pihak penegak hukum, termasuk kejaksaan jangan banyak membiarkan atau bahkan berkompromi dalam pengungkapan kasus-kasus korupsi.

“Artinya selama tahun 2019 ini saja, hanya beberapa kasus saja yang berhasil diungkap, itu pun hanya kasus-kasus kecil,” kata dia.

Kedepan, tambah dia, tahun 2020 nanti kejaksaan harus lebih beraktualisasi dalam pengungkapan kasus korupsi termasuk gratifikasi.

“Karena diakui gratifikasi ini, adalah perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh pejabat negara, apalagi ini diduga terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, oleh istri penguasa atau bupati,” jelas dia.

Jika gratifikasi atau pemberia hadiah tanpa dasar ini dibiarkan, lanjut dia, akan ada kesepakatan antara penegak hukum dengan instansi pemerintahan.

“Apalagi pemberian hadiah yang mendekati gratifikasi ini di momen natal dan tahun baru tidak diperbolehkan oleh KPK, pemberian hadiah terhadap para pejabat,” tambah dia.

Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kabupaten Tasikmalaya, Evelin Nur Agusta SH MH mengaku akan menindaklanjuti tuntutan masa aksi TI.

Bahkan, kejaksaan akan melakukan pendalaman terhadap tuntutan dugaan gratifikasi tersebut.

“Tentunya kami akan pendalaman terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan teman-teman dari TI. Termasuk laporan-laporan masyarakat lainnya, dengan melihat bukti-bukti dan data indikasi yang dilaporkan, secepatnya pasti akan ditindaklanjuti,” kata Evelin.

Kejaksaan juga, tambah dia, berterima kasih dan mengapresiasi ada perwakilan masyarakat yang peduli atas adanya dugaan-dugaan kasus korupsi yang ada di Kabupaten Tasikmalaya.

“Termasuk mendukung juga tugas-tugas kejaksaan untuk mengungkap kasus-kasus korupsi di Kabupaten Tasikmalaya,” ungkap Evelin.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Tasikmalaya, Dr Mohamad Zen menyangkal bahwa tuduhan yang dilayangkan oleh masa aksi transparansi institute.

“Tdak benar dan tidak ada hubungannya dengan proses pelantikan sekda. Soal itu salah besar, ibadah itu tidak ada hubungan nya, hanya unsur kebetulan saja. Terus kebetulan istri saya karena ada dorongan anak saya untuk berangkat umrah, lalu daftar. Pada proses daftar itu ketemu dengan ibu bupati yang sudah mau daftar umrah,” terang Zen.

Pada intinya, tegas Zen, istrinya pergi umrah secara kebetulan saja bersama istri Bupati Tasikmalaya Hj Ai Diantani Sugianto pergi umrah ke tanah suci.

“Masa ketemu dengan istri pimpinan, istri saya menghindar lalu tidak ikut umrah bersama. Itu pure yah, tidak ada apa-apa, itu hanya faktor kebetulan saja, bahkan maaf lah sebaiknya tidak.. (Tidak ditulis,Red), ini kan masalah ibadah,” ungkap Zen.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Radar lewat via telepon, pesan singkat sms dan Whats App ke nomor 081323106xxx istri bupati Tasikmalaya Ai Diantani Sugianto tidak merespon atau menanggapinya.

(diki setiawan)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.