Masih Ada Diskriminasi SARA

459
0
TADARUS KEBANGSAAN. Para pengurus Lapkesdam NU Kota Tasikmalaya berkumpul saat mengadakan tadarus kebangsaan di Kawalu, Sabtu (25/5). istimewa

KAWALU – Banyaknya diskriminasi SARA (suku, agama, ras, dan budaya) yang terjadi belakangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum sepenuhnya mampu memahami, menyikapi, dan mengelola keragaman dan perbedaan yang dimiliki.

Untuk itu, Lakpesdam NU Kota Tasikmalaya menggelar tadarus kebangsaan di Masjid Baitul Masrur Kelurahan Cicariang Kecamatan Kawalu, Sabtu (25/5).

Sekretaris Lakpesdam Ajat Sudrajat menyebut di Tasikmalaya masih ada kelompok kepercayaan yang didiskriminasi. Mulai dari penyegelan tempat ibadah, stigma negatif, dan catatan pernikahan. Keragaman yang dibanggakan, justru menjadi bumerang bagi Indonesia. “Selain itu, sampai dengan hari ini, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila masih sebatas jargon atau semboyan semata. Belum ada semangat dari bangsa Indonesia untuk mengamalkan dan mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya kepada wartawan, Minggu (26/5).

Contoh nyata dari kenyataan tersebut, kata dia, ketika sentimen agama muncul ke permukaan, serta-merta direspons oleh masyarakat dengan reaksi yang berlebihan. Ironisnya, pemerintah dan aparat penegak hukum terkesan setengah hati menyelesaikan konflik-konflik SARA yang terjadi. Bahkan dalam beberapa kasus, oknum aparat pemerintah dan penegak hukum justru menjadi bagian dari konflik. “Kondisi itu diperparah dengan semakin merebaknya isu fundamentalisme, radikalisme, dan terorisme di tengah masyarakat. Munculnya isu-isu ini tak lepas dari keberagamaan beberapa masyarakat Indonesia yang masih tekstualis, eksklusif, dan superior,” tutur Ajat.

Menurutnya, sikap tersebut yang semakin mempersempit ruang-ruang dialog lintas agama. Pihaknya memandang, melalui ruang interaksi sosial lintas identitas keagamaan dan kepercayaan yang dibangun oleh Lakpesdam dan Forum Bhineka Tunggal Ika (FBTI) selama ini akan menghasilkan sikap ramah dan toleran terhadap perbedaan yang ada. “Maka dari itu Tadarus Kebangsaan, Tema Pengarusutamaan Islam Washatiyah sebagai upaya Menghadapi Paham Radikalisme-Terorisme Berbasis Agama,” tuturnya.

Ketua FTBI Kota Tasikmalaya Asep Rizal Asyarie berkomitmen untuk menjadi bagian gerakan masyarakat sipil, yang senantiasa memperjuangkan keadilan dan kesetaraan bagi setiap pemeluk agama dan kepercayaan di Tasikmalaya. “Kami dan berbagai stakeholder terkait siap mengawal isu ini. Demi terwujudnya toleransi di tengah keberagaman unsur di daerah,” kata dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.