Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4%

19.6%

8.1%

68.3%

Materi Dakwah Harus Kreatif dan Mudah Dipahami

113
0
BERDAKWAH. Ustaz Adang Nurdin MS MPd saat menyampaikan materi dakwah beberapa waktu lalu.

Demikian dikatakan Da’i, Pendidik dan Trainer Sufi Training Center (STC) Idrisiyyah Tasikmalaya Ustaz Adang Nurdin MS MPd menjelaskan, dai harus memiliki pemikiran kreatif, sehingga ketika menyampaikan atau mengajak jemaah berjalan di jalan Allah SWT.

”Itu sangat berat kalau itu tidak mampu mengemasnya,” kata Ustaz Adang saat ditemui di Kompleks Pondok Pesantren Idrisiyyah Selasa (8/9/2020).

Baca juga : STC Ponpes Idrisiyyah Tasik Bangkitkan Nilai Spiritual

Ustaz Adang menjelaskan, objek berdakwah bukan hanya orang-orang yang rutin mengikuti pengajian, seperti taklim dan lainnya.

”Objeknya banyak segmen, mulai dari pemuda, masyarakat umum dan lainnya seperti karyawan, penyampaiannya dan materi dakwah juga harus disesuaikan,” jelas dia.

Apalagi untuk karyawan yang memang kesehariannya sudah capek oleh pekerjaan. Jadi ketika diberikan materi dakwah, mereka diajak agar senantiasa ingat sebagai hamba beribadah kepada Allah SWT.

”Di sini peranan para dai, dalam berdakwahnya tidak lantas menggunakan satu metode seperti ceramah, itu bisa disesuaikan dengan segmen jemaah,” ungkap trainier STC itu.

Saat berceramah, penyampaian dakwah memerlukan kemasan penyampaian yang baik. Materi dakwah harus mudah dipahami agar jemaah tetap fokus mendengarkannya.

”Karena sesuatu yang baik kalau mengemasnya kurang baik terkadang kurang bisa diterima. Tetapi bila sesuatu yang baik dikemas juga baik akan orang akan menyukainya. Itu dilaksanakan dalam dakwah kami,” ujar dia.

Ustaz Adang Nurdin MS MPd Da’i, Pendidik dan Trainer STC Idrisiyyah Tasikmalaya

Menurut Ustaz Adang, bila pengemasan dakwah baik, maka akan berdampak bertahannya para jemaah untuk mengikuti materi. Karena, jika pengemasan dakwah kurang baik, maka jemaah muda bosan meski pengajian baru dilaksanakan satu jam.

”Dengan konsep kreativitas, jemaah pun akan bertahan lama mendengarkan dakwah itu,” tuturnya.
”Kami sudah membuat konsep itu dan diterapkan setiap kali dakwah dan juga di STC seperti konsep pengajian kekinian, seperti pengajian di salah satu hotel bersama karyawannya, tetapi namanya tidak pengajian tetapi dengan konsep training. Misalnya spiritual training,” tuturnya.

Beberapa waktu lalu, kata Ustaz Adang, STC melaksanakan pengajian hospital training untuk para karyawan.

“Di dalamnya membahas tentang pelayanan sesuai dengan aturan agama Islam. Dan, para karyawan itu bisa bertahan mengikuti pengajian dari pukul 08.00 sampai pukul 15.00 sore,” ujar dia.

Kegiatan dakwah seperti itu tidak sebatas metode ceramah, namun ada diskusi kelompok kecil, tanya jawab dan permainan yang disesuaikan dengan materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Sesungguhnya, kata Ustaz Adang, setiap materi dakwah harus dikemas dengan baik, sehingga mampu dimengerti dan disenangi jemaah.

“Karena dalam dakwah itu bisa menggunakan multi metode. Pengajian ini bisa dikemas banyak cara, seperti pelatihan, tadabur alam dan lainnya dan itu kita terapkan di Pondok Pesantren Idrisiyyah maupun dakwah di luar pesantren,” ungkap dia.

Perbedaan segmen jemaah juga membuat pendakwah dituntut untuk kreatif. Karena dalam berdakwah itu ada jemaah kaula muda, ibu-ibu, bapak-bapak, karyawan dan lainnya.

“Perbedaan segmen itu mengharuskan para dai kreatif dalam berdakwah, karena dakwah kepada ibu-ibu berbeda dengan dakwah kepada kaula muda ataupun bapak-bapak makanya di tuntut kreatif,” ujar Ustaz Adang.

Di situ, pendakwah harus mampu menentukan materi yang sesuai dengan segmennya. Karena dalam berdakwah ini harus bisa menyampaikan sesuai dengan akal dan pikiran jemaah. Tentu dengan bahasa yang mampu dipahami jemaah.

“Kedua itu harus disesuaikan dengan segmen atau jemaah yang akan diberikan materi dakwah,” kata dia.
Menurut Ustaz Adang, memahami agama itu tidak sesulit apa yang dibayangkan banyak orang.

Namun bila penyampaiannya tidak disederhanakan, disesuaikan dengan objek yang didakwahi, maka akan membuat bingung jemaah.

“Makanya harus disesuaikan dengan akal dan kecerdasannya. Utamanya dalam pengemasan penyampaian dakwah itu,” kata dia.

Ustaz Adang menjelaskan, metode ceramah itu salah satunya yang sudah dilaksanakan oleh Radar Tasikmalaya TV dalam acara Mutiara Hikmah dan Mutiara Hati. Dia menjadi salah satu narasumber dalam program tersebut.

“Itu salah satu metode dakwah. Di sana ada tanya jawabnya, ada penjelasannya. Termasuk membahas hal sederhana dan keseharian. Itu salah satu metode dakwah,” kata dia menjelaskan.

Metode dakwah juga, seperti yang dilaksanakan oleh STC, yakni dengan metode training spiritual motivation, spiritual character building dan lainnya.

Tanpa disadari bahwa peserta STC itu sedang mengaji dalam memahami dan mempelajari tentang agama. Begitu pun para trainer seakan-akan memberikan pelatihan, padahal sesungguhnya sedang berdakwah mengajak jemaah kepada Allah SWT. “Jadi kemasan dalam dakwah itu sangat penting dalam berdakwah,” kata dia.

Baca juga : HUT RI di Ponpes Idrisiyyah, Berjuang Memerdekakan Indonesia dengan Karya

Untuk menumbuhkan dai-dai yang memiliki konsep berdakwah, Ponpes Idrisiyyah terus melaksanakan kaderisasi, itu dengan dibentuknya beberapa organ seperti organisasi Khidmah dan Halaqoh Dai.

“Itu sebagai ruang proses pembelajaran dakwah, mulai dari bimtek dan lainnya, termasuk metode dakwah selain diajarkan keilmuannya,” beber Ustaz Adang. (ujg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.