Media dan Kemenangan Oposisi Malaysia

2

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

Dari buku yang menyoroti pemilu Malaysia sebelumnya ini, bisa didapatkan gambaran mengapa oposisi akhirnya bisa menumbangkan rezim berkuasa di pemilu tahun ini.

KARYA ini diterbitkan sebelum pemilihan umum ke-14 dan merupakan kumpulan artikel untuk menyorot pemilu yang ke-13.

Meski demikian, kehadiran buku ini penting untuk membaca apa yang baru-baru ini mengentak rakyat jiran, tumbangnya Barisan Nasional (BN) yang telah berkuasa selama 60 tahun lebih.

Di atas kertas, BN mempunyai tiga syarat penting untuk memenangkan pesta demokrasi. Yakni, penguasaan media, mesin, dan uang (media, machine and money).

Lembaga survei Invoke memprediksi kans petahana serta oposisi dalam pemilu ke-14 adalah 50:50. Tapi, ternyata Pakatan Harapan memenangkan mayoritas sederhana (simple majority). Tidak sampai dua pertiga.

Secara konstitusional, sebenarnya warga mempunyai kebebasan dasar seperti berpendapat, berkumpul dan berorganisasi. Meski demikian, ada banyak aturan yang menekankan pembatasan tertentu.

Belum lagi pelbagai undang-undang seperti akta yang mengatur percetakan dan penerbitan yang membatasi kebebasan rakyat untuk menyuarakan pandangan dan gagasan melalui media arus utama.

Sehingga media alternatif seperti media sosial, microblogging dan blog menjadi saluran pilihan.

Pada bagian pertama, tiga penulis bersama menyoroti peran televisi sebagai pengawas (watchdog) selama pemilihan umum ke 13.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa televisi arus utama tidak lagi menjadi wasit yang netral, tetapi bias terhadap koalisi Barisan Nasional.

Bukan hanya itu, media yang semestinya mandiri justru menjadi alat untuk menyerang pembangkang, sebutan oposisi di sana.

Pengarang mengusulkan bahwa kebangkitan televisi daring (online) bisa memainkan peran lebih baik pada pemilu yang akan datang (baca: pemilu ke-14).

Saya melihat pada pemilu yang menjadi tahun kejatuhan BN, televisi daring yang dikelola Malaysiakini dan Sinar memang berhasil menunjukkan diri sebagai media yang tidak berpihak.

Sementara itu, bagian kedua yang ditulis Yuen Beng Lee membahas rubrik surat pembaca dari tiga koran utama selama pemilu ke-13. Penulis menemukan banyak tulisan menyuarakan kehendak khalayak yang masih bias terhadap BN.

Tentu, media yang banyak mendapatkan pemasukan dari iklan tak luput dari intervensi dari pemodal yang pro penguasa, seperti terdapat di The Star, New Straits Times dan Utusan Malaysia.

Tak pelak, partai-partai yang berseberangan tidak mendapat tempat di media yang dikuasai UMNO (United Malay National Organization) dan Malaysian Chinese Association (MCA).

Isu lain yang selalu memantik kontroversi adalah etnik dan agama. Azizuddin Mohd Sani, dosen Universitas Utara Malaysia, menganalisis liputan Utusan Malaysia, Berita Harian dan Sinar Harian.

Dua koran utama yang dimiliki UMNO bias terhadap Barisan Nasional sebagai pejuang Melayu dan Islam, tetapi kritis terhadap Pakatan Rakyat dalam kaitannya dengan isu hudud.

Sementara itu, Sinar yang tidak memiliki ikatan dengan partai politik memberikan liputan terbuka dan seimbang.

Koran terakhir ini berhasil mengisi ruang kekosongan media cetak yang menjadi tempat bagi dua koalisi dan pendukungnya untuk mendapatkan berita yang adil dan seimbang.

Menariknya, bacaan warga Malaysia terbelah sesuai dengan garis etnik. Soon Chuan Yean menggunakan analisis wacana terhadap kata ubah, sebuah jargon oposisi untuk menyampaikan pesan agar warga mengganti kekuasaan yang rasuah.

Dari dua surat kabar, China Press dan Sin Chew Daily, berita dan iklan dari koran Tionghoa selama berlangsungnya pemilihan umum menunjukkan bahwa BN mewakili status quo dan menjadi sebuah tanda dari kestabilan yang bertolak belakang dengan perubahan.

Padahal, dalam tsunami politik 2008, jelas kaum Tionghoa menolak MCA sebagai komponen dari BN.

Akibat keterbatasan akses pada media arus utama, pendukung oposisi memilih menentang rezim yang berkuasa melalui kartun dan seni grafis. Dua tokoh yang menonjol adalah Zunar dan Fahmi Reza.

Menurut pelbagai penelitian, media daring merupakan titik balik dari kampanye politik di Malaysia dan diakui sebagai media yang berpengaruh besar terhadap hasil pemilihan umum.

Mengingat pengguna telepon pintar dan akses warga internet cukup besar dan semakin turunnya minat terhadap media resmi, oposisi tentu mendapat tempat. Sebab, mereka berhasil menarik minat rakyat untuk tidak hanya bergantung pada satu sumber.

Akhirnya, demokrasi bekerja, di mana tidak ada satu koalisi partai politik yang berkuasa untuk selamanya berkat sihir media. (*)

AHMAD SAHIDAH
Dosen senior filsafat dan etika di Universitas Utara Malaysia

loading...