Media Massa Guru Bahasa bagi Masyarakat

22
0
USAI PELATIHAN BAHASA. Peserta Pelatihan Tata Bahasa Indonesia dari Radar Tasikmalaya Group, foto bersama jurnalis senior dan akademisi Drs Imam Jahrudin Priyanto, M.Hum (memakai batik) di Studio Radar Tasikmalaya TV, Kota Tasikmalaya, Sabtu (30/1/2021). Ujang Nandar / Radar Tasikmalaya
Loading...

TASIK – Radar Tasikmalaya Group melaksanakan Pelatihan Tata Bahasa Indonesia di Studio Radar Tasikmalaya TV, Sabtu (30/1/2021). Pemateri dalam pelatihan tersebut yaitu jurnalis senior dan akademisi Drs Imam Jahrudin Priyanto, M.Hum.

Menurut Imam, media massa harus menyajikan bahasa yang baik dan benar serta sesuai rekomendasi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Dia merasa bangga karena saat ini sudah muncul kesadaran, termasuk dari media, untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. “Sejauh ini kesadaran berbahasa sudah baik. Bahkan sudah mulai menjalar ke mana-mana. Ini kebiasaan yang bagus,” ujar Imam usai memberikan materi.

Untuk membiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, kata Imam, bisa melalui pelatihan-pelatihan dan langkah lainnya. “(Pelatihan) ini akan bermanfaat untuk teman-teman,” ujarnya. “Perkembangan bahasa saat ini sudah betul-betul luas,” tutur Imam menjelaskan.

Baca juga : 888 Nakes RSUD Kota Tasik Divaksin Covid-19

loading...

Sebagai media massa berbahasa terbaik di Jawa Barat 2020, Radar Tasikmalaya, kata Imam, harus bisa meningkatkan kualitas penerapan bahasa Indonesia. “Apalagi bahasa yang baik ini menjadi sebuah tanggungjawab media, karena koran atau media ini guru bahasa bagi masyarakat,” ujar kandidat doktor bahasa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini.

Salah satu alasan bahwa media sebagai guru bahasa bagi masyarakat, kata Imam, karena media (koran) dibaca semua kalangan. Termasuk kalangan pendidik.

“Yang utama yakni jangan berhenti untuk belajar bahasa benar. Apalagi perkembangan bahasa saat ini cukup luar biasa dan dahsyat itu dengan adanya istilah-istilah baru. Salah satu contohnya ada bahasa cancel culture yang menjadi bahasa pengenyahan,” kata Imam.

Cancel culture terkenal sejak media sosial, salah satunya Twitter, melarang Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat menggunakan media sosial tersebut. Istilah tersebut terkenal dengan sebutan cancel culture (pengenyahan).

Imam berpesan agar para jurnalis terus meningkatkan pengetahuan dalam penerapan bahasa Indonesia. Awak media massa harus terus belajar, membaca dan mengikuti pelatihan kebahasaan, baik yang dilaksanakan oleh internal perusahaan maupun lembaga pendidikan.

“Termasuk mengikuti laman badan bahasa atau website resmi Balai Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) daring dan lainnya,” ujarnya mengingatkan. (ujg/igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.