Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%

Melihat Peninggalan Tiongkok Kuno di Cirebon Timur Jarang Diziarahi karena Marganya Tak Umum

32
0
PRASASTI. Warga membersihkan rumput di sekitar prasasti tulisan tiongkok situs Gunung Singkil Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu.
PRASASTI. Warga membersihkan rumput di sekitar prasasti tulisan tiongkok situs Gunung Singkil Kabupaten Cirebon beberapa waktu lalu.

Daya tarik Nusantara, khususnya Cirebon, begitu kuat. Banyak saudagar hingga pedagang dari ba­nyak penjuru dunia datang ke Cirebon kala itu. Beberapa di antaranya bermukim di daerah ini. Salah satu buktinya keberadaan situs Gunung Singkil.

ANDRI WIGUNA, Cirebon

TIGA buah batu berukuran besar dengan tulisan China (Tiongkok) langsung menarik perhatian siapa pun yang datang ke Situs Gunung Singkil yang berada di Desa Ciawi Japura, Kecamatan Susukanlebak Kabupaten Cirebon.

Tak banyak orang yang bisa membaca tulisan tersebut karena merupakan tulisan Tiongkok kuno yang sangat berbeda bentuk dan maknanya dengan tulisan Tiongkok modern.

Saefudin, juru pelihara situs Gunung Singkil mengatakan hampir tidak ada yang bisa membaca tulisan tersebut. Bahkan ia sempat memfoto dan memperlihatkan tulisan tersebut kepada beberapa warga keturuan Tionghoa. Tapi tulisannya tidak bisa dibaca.

“Tulisannya China kuno. Itu berbeda sekali dengan tulisan China modern. Saya perlihatkan tulisannya kepada warga keturunan tetap tak ada yang bisa baca,” ujarnya kepada Radar Cirebon, kemarin.

Tulisan di batu andesit tersebut baru bisa dibaca setelah dilakukan penelitian oleh beberapa ahli, termasuk dosen Bahasa China Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 2003, Shakoh Seger.

“Ada tiga batu tulis yang berhasil diterjemahkan. Yang pertama berukuran paling besar dan dengan tulisan paling panjang yang diperkirakan adalah kuburan atau pemakaman. Kedua bertuliskan Dewa Bumi yang dimungkinkan adalah tempat melakukan ritual ibadah dan yang ketiga nisan atau batu bertuliskan nama,” jelasnya.

Pria yang kini sudah diangkat menjadi ASN Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang tersebut mengatakan jika situs Gunung Singkil atau Bulak Gunung Sungkil pada dasarnya adalah sebuah bangunan berundak dengan konstruksi sebagian besar tanah dan dilengkapi dengan batu kali dari berbagai bentuk.

Lokasinya merupakan gundukan tanah di tengah-tengah persawahan penduduk dengan luas kurang lebih 5.500 meter.

“Setelah tulisan di batu itu berhasil diterjemahkan, sangat membantu sekali. Orang pun akhirnya paham tentang batu tersebut. Namun yang dipahami memang sebatas makna dari tulisan di batu tersebut. Sejarahnya atau latar belakangnya butuh pendalaman dan penelitian lebih lanjut,” jelasnya.

Di prasasti pertama terbuat dari batu andesit. Ukuran batu tersebut panjangnya sekitar 3 meter dan lebar 2 meter dan ketebalan atau tinggi sekitar 2 meter. Tulisan China kuno yang ada pada batu tersebut berukuran 103 cm x 84 cm yang terdiri dari empat baris membujur dari atas ke bawah dan satu baris melintang dari kiri ke kanan di bagian atas.

Terjemahan dari prasasti tersebut berbunyi makam ayahanda Bapak Xii Ya Xiao dari Dinasti Qing yang berasal dari Desa Xi Qi Xii Kabupaten Jie Yang Karesidenan Chao Zou dan makam ibunda keluarga XII dari Suku (marga) Lin diletakkan bersama-sama oleh putra-putranya yang berbakti yaitu Qian Wan, Qian jian, Qian Cheng, Qian Ying pada tahun ke-28 pemerintahan Dao Guang (1484 M).

“Jadi ini kalau disimpulkan makam. Orang China punya tradisi pemakaman harus di tempat tinggi. Sudah sejak lama begitu. Dan tempat paling tinggi di sekitar sini ya di Gunung Singkil,” jelasnya.

Untuk prasasti kedua terbuat dari bahan yang sama, dari batu andesit yang terdapat di tanggul ke-4 sebelah timur. Ukuran batu ini sekitar 100 cm dengan lebar sekitar 80 cm. Namun ketinggian dan ketebalan batu ini belum bisa diketahui karena sebagian bidangnya terpendam dalam tanah.

Tulisan dalam prasasti kedua ini berbunyi Hou Fu yang jika diterjemahkan berarti Dewa Bumi.

“Yang prasasti kedua ini diperkirakan tempat sembahyang atau ibadah. Sementara untuk prasasti ketiga berbunyi Xii Shi Zu yang diperkirakan nama orang, dengan panjang 210 cm dan lebar 200 cm sementara untuk tebal dan tinggi belum terukur karena sebagian terpendam dalam tanah,” paparnya.

Diakuinya, jumlah pengunjung yang datang ke situs tersebut tidak menentu. Sangat jarang sekali orang Tiongkok atau keturunan Tionghoa datang ke lokasi tersebut. Padahal lokasi tersebut punya keterkaitan erat dengan leluhur warga Tionghoa.

“Selama saya menjaga di sini, nyaris belum pernah rombongan atau warga keturunan Tionghoa yang datang ke sini. Yang sering datang paling anak-anak sekolah sekitar sini. Di hari-hari besar China pun tak ada bedanya, jumlah pengunjung masih sangat sedikit,” tuturnya.

Dijelaskan pria yang sudah mengurusi situs Gunung Singkil sejak tahun 1992 tersebut, sampai dengan saat ini lahan tempat situs Gunung Singkil tersebut bukan milik pemerintah, melainkan milik masyarakat. Kondisi itu yang membuat penataan dan pemeliharaan situs tidak maksimal.

“Setiap hari prasastinya kena panas dan hujan, otomatis ada kerusakan, meskipun tidak besar. Ini karena kita tidak bisa bangun saung atau penutup karena lahannya masih milik masyarakat,” katanya.

Warga Tiongkok atau keturunan Tionghoa, kata Saefudin, banyak tersebar di Susukanlebak. Bahkan sampai dengan saat ini masih ada Blok Pacinan atau Pacinaan di Desa Ciawi Japura sebagai wujud eksistensi Tionghoa di wilayah tersebut.

“Di Blok Pacinan ini ada situs juga, hampir sama batu tulis. Tapi memang belum terbaca sampai sekarang, berada di tengah pemukiman warga,” tambahnya.

Sementara tokoh Tionghoa Cirebon Timur Fiannus Agus Tatang Kristianto saat dikonfirmasi Radar mengatakan jika melihat terjemahan dari prasasti tersebut, sangat sedikit sekali marga Xi ataupun marga Qian di Indonesia.

Hal itulah yang kemudian menurut Fian lokasi tersebut sangat jarang diziarahi. “Dari marganya, di Indonesia tak begitu banyak yang memiliki marga Xi atau Qian,” ungkapnya.

Meski demikian, pria yang mempunyai nama Tiongkok Huang Huai An tersebut mengatakan sudah sepatutnya apa yang ditinggalkan oleh leluhur dijaga dan dilestarikan agar bisa dilihat dan dipelajari oleh generasi penerus. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.