Membencananasionalkan Gempa Lombok

2

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

DARI udara, Pulau Lombok tetap hijau nan cantik. Namun, beberapa kali gempa besar, termasuk yang terakhir 7 skala Richter, membuat kecantikan itu nyaris tak berbekas di darat. Terlebih di Lombok Utara.

Rumah yang rata-rata berada di sela-sela pohon pohon hijau, kebanyakan roboh atau retak-retak, tak layak ditinggali. Sekian ratus orang meninggal, ratusan ribu orang mengungsi.

Mengapa tetap hijau dari udara? Sebab, rerimbunan pepohonan tetap tegak. Mulai ada bukit yang runtuh, tapi nyaris tak tampak pohon ambruk masal. Beda benar dengan bencana Aceh 2006 misalnya.

Karena ada amukan tsunami, suasana menghijau turut lenyap di lokasi bencana. Begitu pun kalau terjadi bencana gunung meletus, suasana jadi kelabu kelam.

Sejatinya Lombok pulau nan cantik. Para wisatawan makin menggemari pulau tetangga Bali itu. Bencana jelas menyedihkan, apalagi masih susul-menyusul.

Gempa entah akan terjadi sampai kapan. Namun, bencana pasti berlalu. Semangat merengkuh para korban, mengembalikan kehidupan normal mereka, mesti diiringi ancang-ancang penataan kembali ruang kehidupan nan cantik di Lombok.

Untuk menata kembali, tentu pemerintah pusat harus turun tangan. Negara (pusat) harus hadir sepenuhnya. Dan pintu masuk yang paling mungkin adalah menyatakannya sebagai bencana nasional.

Kalau menengok UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, tepatnya pasal 7 ayat (2), gempa Lombok layak jadi bencana nasional.

”Penetapan status dan tingkat bencana nasional dan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c memuat indikator yang meliputi: a. jumlah korban; b. kerugian harta benda; c. kerusakan prasarana dan sarana; d. cakupan luas wilayah yang terkena bencana; dan e. dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.”

Jumlah korban tewas kemarin mencapai 548 orang, sedangkan pengungsi ratusan ribu (setidaknya separo penduduk Lombok tak berani tidur di rumah). Kerugian harta benda jelas sangat banyak karena mayoritas rumah rusak.

Kerusakan sarana dan prasarana tak kalah hebat. Cakupannya jelas luas, yakni di Pulau Lombok, serta mengimbas ke Bali dan Sumbawa.

Dampak sosial ekonomi sangat masif. Ayo mengebut menangani bencana Lombok. Sengebut ketika ingin hadir di tengah pesta olahraga Asia. (*)

loading...