Membentuk Siswa yang Kreatif & Inovatif

17
GEMBIRA. Kepala dan guru TK Atraktif Sahara dan SD Islam Mutiara Sahara foto bersama usai acara wisuda dan pelepasan siswa di Pendopo Baru Pemkab Tasikmalaya Sabtu (22/6). RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Sarana At-taqwa yakni TK Atraktif Sahara dan SD Islam Mutiara Sahara menggelar acara wisuda sekaligus pelepasan siswa di Pendopo Baru Pemkab Tasikmalaya Sabtu (22/6).

Sebelum pelepasan, ada pentas seni sebagai ajang melatih kreativitas siswa Kober, TK maupun SD. Acara ini mengusung tema Berpisah untuk Mencapai Asa, Sukses Bersama Menggapai Cita-Cita.

Kepala TK Atraktif Sahara Dedeh Mulyawati SP mengatakan, kegiatan ini merupakan rutinitas setiap tahun yang dilaksanakan oleh TK Atraktif Sahara dan SD Mutiara Sahara.

“Ini menjadi evaluasi bagi kita dalam pencapaian target pendidikan. Alhamdulillah 90 persen target selama 1 tahun itu sudah kita capai,” ujarnya.

Dedeh mengungkapkan, di sekolahnya terdapat program-program unggulan sesuai misi Menuju Sahara Hebat dengan Berbagai Pendekatan. Di sekolah juga diterapkan empat bahasa sapaan antara lain Senin menggunakan Bahasa Indonesia, Selasa menggunakan Bahasa Inggris, Rabu menggunakan Bahasa Arab, Kamis menggunakan Bahasa Sunda dan Jumat menggunakan bahasa campuran.

TK Atraktif Sahara juga memiliki lab school, program pendidikan karakter dengan pembiasaan serta stimulasi pembelajaran dengan musik klasik, murottal, Asmaul Husna. “Hal ini untuk mewujudkan TK Sahara yang berkarakter dan hebat,” ungkap dia.

Pembina Yayasan Sarana At-taqwa Dr Kamil Husman Bahtiar menambahkan, pihaknya menekankan kepada para pendidik untuk menstimulasi kreativitas dan inovasi peserta didik. “Anak-anak harus memiliki jiwa wirausaha dan memiliki pola pemikiran kreatif dan inovatif,” kata dia.

Pihaknya berkomitmen membangun pondasi karakter anak yang baik sebagai bekal masa depannya.

Ia percaya setiap anak memiliki kecerdasan yang unik dan berhak menjadi juara di bidang masing-masing, bukan sebatas bidang akademik. “Dalam konteks ini, anak-anak tak boleh merasa seperti terpenjara karena tekanan sistem pembelajaran yang kaku,” pungkasnya. (obi)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.