Memenangkan Ramadan, Meraih Kesucian

92
0

Oleh : Azies Rismaya Mahpud

Ujung ibadah puasa Ramadan adalah Idul Fitri. Hari Raya kemenangan bagi seluruh ummat Islam setelah sebulan lamanya menahan lapar, haus dan hal lainnya yang membatalkan puasa.

Maka saat malam puasa terakhir gema takbir akan membahana di seluruh mesjid, langgar dan mushola.

Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Sebuah kalimat agung yang menunjukan bahwa karena Ke-Maha BesaranNya kita semua yang kecil dan lemah mampu melewati tantangan dan ujian yang di perintahkan oleh Allah Rabb semesta alam.

Dalam jangka waktu tertentu, untuk melaksanakan sesuatu (puasa dan ibadah lainnya), dan tidak melakukan sesuatu (yang membatalkannya atau merusak pahalanya).

Sehingga ketika datang Lebaran, Hari Raya dan Idul Futri kita merasakan kebahagiaan luar biasa. Terlepas bagaimana kualitas ibadah puasa kita sesungguhnya. Biarlah Catatan Allah yang Maha Tahu dan Maha melihat.

Seorang Muslim yang memenangkan perjalanan dan perjuangan selama ibadah Ramadan jaminan Allah akan terbebas dari beban dosa nya di masa lalu dan dimasa kekiniannya.

Maa taqaddama min dzanbihi wamaa taakhkhara. Asal ibadah puasa kita dilandasi Imaanan wahtisaban. Keimanan penuh dan keridhoan serta keikhlasan yang paripurna.

Karena kenyataan itu maka dia akan kembali menjelma menjadi pribadi yang suci bersih (fitri) sebagaimana bayi yang baru lahir.

Tanpa gelimangan dosa dan nista yang melekat dalam tubuh jasadiyahnya maupun ruhaniyahnya.

Secara adat dan tradisi budaya, lebaran dan hari raya selalu di tampilkan dengan baju baru dan atribut serta asseories yang baru. Di iringi dengan aktifitas sosial dalam bentuk mudik dan halal bihalal.

Sejatinya hal itu hanya simbolik saja. Karena yang hakiki, makna lebaran itu sebagaimana ungkapan baginda Rasulullah SAW.

“Laitsal ied man labisal jadiid, walakinnal iied man imaanuhu tajiid”, Bukanlah hari raya lebaran itu orang dengan baju barunya tapi lebaran itu adalah dia yang imannya bertambah.

Mudik dan halal bihalal juga simbolik bahwa kita harus membebaskan diri dari persambungan dan persinggungan kesalahan secara horizontal antar sesama manusia. Baik dengan keluarga maupun lingkungan kerabat dan kolega kita.

Dengan puasa kita membebaskan urusan pengakuan dosa secara vertikal dengan Allah melalui Ramadhan (pembakaran) selama sebulan penuh.

Dengan bersalaman dan halal bihalal kita membebaskan urusan dan pengakuan dosa serta kesalahan secara horizontal dengan sesama manusia.

Sehingga kesempurnaan kemenangan dengan makna “minal aidiin wal faaiziin” itu adalah kita kembali bersih suci dan kita memenangkan pertarungan ujian sehingga kita bahagia dan suka cita di hari raya.

Berangkat dari kondisi itu, semestinya kita menjadi sosok pribadi yang berubah dan berbeda secara kualitas iman dan akhlak. Sehingga kita bersiap menjalani kehidupan 11 bulan kedepan dengan penuh optimisme dan energi positif.

Ibadah selama ramadhan kita lalukan seperti shalat malam dan tadarus Al Qur’an kita dawamkan di bulan-bulan berikutnya.

Rasa lapar haus selama puasa ramadhan kita emanasikan dalam wujud sikap dan perilaku simpaty dan emphaty kita pada sesama yang kekurangan.

Keshalehan individual yang di training selama Ramadhan harus tercermin dalam wujud keshalehan sosial dalam bulan-bulan lainnya.

Itulah makna kemenangan sejati. Bahwa kita mau berubah dan mewujud menjadi pribadi yang benar-benar Aaidiin wal faaiziin. Selamat Idul Fitri 1441. Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Wassalam.

Penulis :
Keluarga Besar Primajasa Mayasari
Pembina Yayasan Pendidikan Al Muttaqin
Calon Bupati Tasikmalaya

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.