Mempercantik Kawasan Dadaha Kota Tasik Jangan Asal-asalan

145
1
HIASAN. Pemkot Tasikmalaya menghias trotoar di jalan utama kompleks olahraga Dadaha dengan bola batu di sepanjang GOR Sukapura sampai dengan GGM, Senin (9/11). firgiawan / radar tasikmalaya

CIHIDEUNG – Pemasangan batu-batu pada trotoar Jalan di Kompleks Olahraga Dadaha, semakin menunjukkan konsep Pemkot dalam mengerjakan penataan atau mendekorasi suatu wilayah asal jadi.

Sebab, selain tidak memperlihatkan karakteristik daerah, juga cenderung mengimprovisasi atau mengikuti apa yang dibuat di daerah lain. Hal itu, dikemukakan pegiat seni budaya Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah.

Menurutnya, kalau pun program tersebut dari provinsi, dengan design dan konsep pembangunannya dari sana. Harusnya bisa menyesuaikan karakteristik daerah agar terangkat.

“Cenderung improvisasi, tidak jelas pijakannya, baik secara historis, konsep atau kalau ditanya targetnya apa? Sepertinya sulit dijelaskan,” ujarnya saat ditemui di Sanggarnya Jalan Pemuda, Senin (9/11).

Kalau sekadar ikut tren, kata dia, sebaiknya bisa menyesuaikan dengan kelokalan. Semisal, ornamen yang dibubuhkan bisa berupa ciri-ciri khas Kota Resik. Bukan sekadar mengikuti apa yang sedang ramai, sehingga diterapkan juga di daerah.

Baca juga : Ujian Nasional Dihapus, Disdik Kota Tasik Gencar Siapkan Assessment Nasional

“Inilah, karena memang Pokok-Pokok Kebudayaan Daerah (PPKD) itu tidak terisi dengan lengkap. Makanya, perjalanan dalam menata atau mempercantik kota tidak jelas.

Harusnya PPKD komprehensif, sehingga menjadi acuan kebudayaan daerah dan terwujud dalam setiap karakteristik arsitektur atau penataan kota ini,” papar presiden Komunitas Cermin tersebut.

Ia mengulas, kala itu, pohon plastik di Jalan HZ Mustofa sempat menuai polemik dan pergunjingan publik. Tidak heran, karena selain konsepnya tidak jelas. Pohon kelapa yang ditonjolkan, tidak mencitrakan Kota Tasikmalaya.

“Ikon kita kan payung geulis. Kenapa misalnya tidak dengan pohon bambu. Kan erat kaitan dengan bahan dasar payung geulis, ada korelasi. Sekarang tiba-tiba kelapa, memang kita di daerah pesisir,?” keluhnya.

“Itulah kenapa niatannya mempercantik kadang tidak sampai. Menurut provinsi dan kementerian, Kota Tasik ini strategi pembangunan kebudayaannya hanya level SD. Sebab, PPKD-nya paling hanya 15 persen saja yang terisi,” sambung pria yang akrab disapa Acong tersebut.

Maka dari itu, lanjut Acong, pihaknya menyarankan Pemkot harus mulai melakukan pembangunan terhadap unsur estetika, dengan melibatkan sumbangsih saran dan masukan dari para pegiat seni budaya asli daerah.

Supaya tidak lagi gagal paham, bahkan minim fungsi dalam membangun suatu fasilitas, yang nyatanya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan publik.

“Ampitheater di belakang Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya (GKKT) itu apa kabar. Gagal dari sisi fungsi dan mubah. Di Alun-Alun ada panggung arena juga sama terbangkai. Jadi cenderung membangun itu memaksakan, bukan atas dasar kebutuhan yang tentunya membuat masyarakat senang karena telah difasilitasi,” papar dia.

Pegiat seni lainnya, Rian Bungsu mengakui dari beberapa kali rencana Pemkot mempercantik kota, kerap gagal paham dan tidak substansial. Seolah dinas teknis cuma memunahkan tugas, APBD itu digunakan dan tersalurkan, tetapi tidak terukur output dan kemanfaatannya.

“Kalau pun konsultan itu gunakan tenaga luar yang dianggap formal oleh pemerintah. Kenapa, tidak ada pelibatan pegiat-pegiat daerah yang paham historical Kota Tasik, agar mendekorasi kota bisa menunjukkan jati diri daerah,” katanya membeberkan.

Ia menyinggung bola-bola batu tersebut akan menambah deretan sejumlah pembangunan sarana publik yang kurang penting. Misalnya tugu di simpang Yudanegara, beberapa monumen tugu yang tersebar di Kota Tasikmalaya, serta pohon plastik di HZ Mustofa.

“Memang bangunannya jadi, beres, tetapi tidak menjadi sesuatu hal. Misalnya monumental dan ikonik, sehingga bisa mengkatrol tingkat kunjungan atau membuat pendatang dan warga asli bisa nyaman melihatnya,” kata pegiat film documenter tersebut. (igi)

loading...

1 KOMENTAR

  1. Saya yg tiap hari lewat sana juga berpendapat sama, tujuannya mungkin buat destinasi pariwisata. Coba kita perhatikan, jalur itu sangat sepi. Kalaupun rame, semrawut pd hari minggu. Msh banyak lokasi yg bisa mengangkat titik di kota ini. Dari dulu juga, di kota ini krg ahli dalam mengangkat nama Kota Resik ini. Kalau ditanya org luar Apasih ciri khas Kota Tasik, saya saja asli putra daerah suka bingung. Kalah, sama ciamis, cianjur, yg makin mendaerah, loyal sama daerahnya sendiri….Ayo bangkit putra Kota Tasik…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.