Eksekusi Mahkamah Syariah di Banda Aceh

Menangis, Menutupi Wajah, Lalu Dituntun Usai Dicambuk

562
0
. Seorang wanita Indonesia menangis setelah dieksekusi hukuman cambuk di depan umum di Banda Aceh, kemarin (4/3).foto-foto: CHAIDEER MAHYUDDIN / AFPDIHUKUM CAMBUK

Mahkamah Syariah di Kota Banda Aceh benar-benar tegas. Tak pandang bulu, siapa pun yang bersalah bakal mendapatkan hukuman yang setimpal dengan syariat Islam. Senin (4/3) peristiwa itu kembali terjadi. Ada enam pasang mesum digiring petugas dan dieksekusi dengan hukuman cambuk

Peradilan Islam telah lahir di Aceh sejak zaman jayanya Kerajaan Aceh. Pada masa itu peradilan dipegang oleh Qadli Malikul Adil yang berkedudukan di Ibukota kerajaan, Kutaraja.

Qadli Malikul Adil ini kira-kira dapat disamakan dengan Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Tertinggi. Di masing-masing daerah Uleebalang terdapat Qadli Uleebalang yang memutuskan perkara di daerahnya.

Qadli Malikul Adil dan Qadli Uleebalang diangkat dari ulama-ulama yang cakap dan berwibawa. Karena perkara yang diajukan ke Qadli Malikul Adil tidak banyak, maka Qadli Malikul Adil lebih banyak bertugas memberikan fatwa dan nasehat kepada kerajaan.

Memasuki pada Zaman Hindia Belanda, peradilan agama merupakan bagian dari pengadilan adat. Dimana untuk tingkat Uleebalang ada pengadilan yang diketuai oleh Uleebalang yang bersangkutan.

Sedangkan untuk tingkat afdeeling atau onderafdeeling ada pengadilan yang bernama Musapat yang dikepalai oleh Controleur, dimana Uleebalang serta pejabat-pejabat tertentu menjadi anggotanya.

Dalam praktiknya bila perkaranya hanya bersangkutan dengan hukum agama, seringkali diserahkan saja kepada Qadli Uleebalang untuk memutuskan, tetapi kalau ada sangkut pautnya dengan hukum yang lain dari hukum agama, diketuai sendiri oleh Uleebalang yang bersangkutan dengan didampingi Qadli Uleebalang dimaksud.

Waktu pun terus berlalu, hukuman cambuk atau syariat Islam itu berlaku hingga kini. Dari catatan Fajar Indonesia Network (FIN), sistem pemerintahan kita menurut UUD 1945 mengatur tentang otonomi khusus suatu daerah atau bersifat istimewa. Daerah yang telah mendapat otonomi khusus tersebut salah satunya adalah Aceh.

Mahkamah Syariah ini ditetapkan dan dinyatakan berlaku tanggal 1 Maret 2003 bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1424 H. Pada hari itu, diresmikan pembentukan Mahkamah Syariah dan Mahkamah Syariyah Provinsi di Aceh.

Pembentukan tersebut berdasarkan UU No. 18 Tahun 2001 dan Keppres No. 11 Tahun 2003 tentang Mahkamah Syariah dan Mahkamah Syariyah Provinsi

Hingga 4 Maret 2019 sudah puluhan pelanggar syariat Islam di sejumlah daerah di Aceh menjalani hukuman cambuk. Mereka umumnya terpidana kasus khamar (minuman memabukkan, Red), zina, judi, dan mesum.

Dan kemarin (4/3) berdasarkan putusan Mahkamah Syariah ada enam wanita yang terbukti bersalah melanggar syariat Islam yang harus menjalani hukuman cambuk.

Proses hukuman cambuk tersebut berlangsung di halaman Masjid Syuhada Gampong Lamgugop, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Pelaksanaan hukuman cambuk tersebut disaksikan seratusan pasang mata.

Enam wanita tersebut dicambuk bersama dengan masing-masing pasangan. Enam pasangan non muhrim tersebut ditangkap karena berbuat ikhtilat dan khalwat atau mesum beberapa bulan lalu.

Mereka tampak lunglai dan tidak bisa berjalan ketika menuruni tangga panggung eksekusi. Sejumlah petugas Wilayatul Hisbah (WH) wanita atau polisi syariat Islam bersama seorang polisi wanita langsung memapah mereka masuk sebuah bangunan, tempat para terhukum dikumpulkan.

Enam wanita yang terpaksa dipapah usai dicambuk yakni Nurlaili binti Alainsyah, dihukum 23 kali cambukan, Rita Zahara binti Alm Bakhtiar dihukum 20 kali cambukan. Kemudian, Netty Herawati binti Mukhtar dihukum 25 kali cambukan, Erlina binti Sipui dengan hukuman 25 kali hukuman cambuk.

Serta Nutidawati binti M Yusuf dan Yayang Maulida binti Zuwaini Oscar dengan hukuman masing-masing 10 kali cambukan. Sedangkan pasangan laki-laki mereka yang juga dihukum cambuk yakni Edianto bin Abdul Hamid dengan hukuman 23 kali cambuk.

Kemudian, Rizki Kurniawan bin Alm Rusli Abdullah dengan hukuman 20 kali cambukan, Ria Zuelmi bin Zulkifli dengan hukuman 25 kali cambuk. Serta Julfikar M Yusuf dengan hukuman 28 kali cambuk, Surya bin Hamdani dan Tarmizi bin Amiruddin dengan hukuman masing-masing 10 kali cambuk.

Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP dan WH Aceh Marwan mengatakan, enam pasangan non muhrim yang dicambuk tersebut ditangkap di sebuah hotel di kawasan Neusu, Banda Aceh, beberapa bulan lalu.

“Mereka dihukum cambuk karena melanggar Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat. Mereka terbukti bersalah melakukan ikhtilat maupun khalwat atau berduaan dengan bukan pasangan sah,” tutur Marwan.

Dari serangkaian eksekusi hukuman cambuk, menurut Marwan peristiwa terbanyak diterima pezina anak. Ini terjadi pada 21 Februari 2018. Prosesi hukuman cambuk juga digelar terhadap tiga terpidana di halaman masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe, Aceh.

Dua terpidana terkait kasus judi yaitu HW dan RF digebuk masing-masing sebanyak 31 kali. Sementara satu terpidana lagi MJ dicambuk sebanyak 107 kali karena terbukti melakukan zina dengan anak.

Eksekusi terhadap MJ kala itu sempat terhenti beberapa kali, karena terpidana menyerah. Namun setelah diperiksa kesehatannya, akhirnya cambuk dilanjutnya dan MJ menjalani hukuman hingga hitungan 107. Ia dirotan oleh beberapa algojo secara bergantian.(ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.