Butuh Proses Ubah Kurikulum LPTK

Mendikbud : Satu Guru Harus Mengajar Dua Mapel

109
Mendikbud Muhadjir Effendy--raka denny/jawapos

JAKARTA – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) masih akan mengkaji usulan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy tentang satu guru harus mengajar dua mata pelajaran (mapel) yang serumpun.

Butuh waktu mengubah kurikulum lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai pencetak guru.

Selama ini, mahasiswa LPTK menjalani perkuliahan hanya terkonsentrasi pada satu mata pelajaran. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, misalnya. Lulusannya akan spesifik mengajar biologi, kimia, fisika, maupun matematika.

Nah, jika keinginan Muhadjir seperti itu, maka kurikulum LPTK selama ini harus diubah. Menerapkan kurikulum keahlian ganda atau yang biasa disebut mayor-minor bagi para calon guru.

Menristekdikti Mohamad Nasir menuturkan masih perlu proses untuk menerapkan itu. Selama ini hanya program double degree yang sudah dikeluarkan Kemenristekdikti kepada LPTK.”

Misalnya, seorang sarjana science, juga bisa mengambil sarjana pendidikan. Sehingga bisa mengajar,” ucap Nasir saat ditemui di Ibis Hotel Airport kemarin.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ismunandar mengatakan pihaknya menyerahkan kembali kesiapan masing-masing LPTK untuk melaksanakan program mayor-minor. Sebab, mereka juga masih perlu memikirkan jumlah SKS yang harus ditempuh oleh mahasiswa. Entah ada penambahan atau ada sejumlah mata kuliah yang diganti.

“Sebenarnya bisa juga tidak harus dimulai dari tingkat 1. Bisa juga saat sudah masuk semester 5 diiberikan (mata kuliah program mayor-minor),” terang Guru Besar Institut Teknologi Bandung itu. Yang jelas sebagai lulusan sarjana, kata Ismunandar, yang dilihat itu adalah capaian belajarnya sudah memenuhi atau tidak.

Sementara itu, Muhadjir menilai upaya tersebut sebagai langkah meningkatkan efisiensi guru. Solusi untuk memenuhi kekurangan guru yang mencapai 707.324 orang.

“Satu guru memegang satu mapel itu terlalu mewah. Ini yang menyebabkan kurangnya guru,” imbuh menteri 62 tahun itu.

Padahal, menurut Muhadjir, rasio efisiensi guru di Indonesia sudah bagus. Yakni, 1 : 17. Sementara untuk Finlandia 1:21, Singapura 1:40.

“Tapi selalu dibilang kurang terus. Nah, itu karena di Indonesia satu guru memegang satu mapel,” ujar Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang itu. Makanya, Kemendikbud akan menyekolahkan kembali para guru untuk menguasai satu mapel minor lagi. (der/han/ful)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.