Mengapa Riuh Tentang Zonasi

60
0
Oleh: Affi Endah Navilah Kepsek SMPN 10 Kota Tasikmalaya

SEJAK dulu, sejak menjadi guru di sekolah bukan favorit, sering saya katakan kepada teman-teman guru bila mereka mengeluh tentang hasil belajar siswa. Jangan pernah mengeluh jika hasil belajar siswa belum seperti yang diinginkan, meraih angka tinggi atau berhasil menjadi juara di suatu olimpiade.

Tugas kita para guru bukan semata membuat mereka mencapai nilai tinggi, tapi tugas-tugas lain yang tak kalah penting adalah membuat mereka yang tidak tahu menjadi tahu, membimbing mereka untuk memiliki rasa percaya diri, menggali sedalam mungkin potensi yang dimiliki, membimbing agar mereka memiliki akhlak yang luhur.

Saya pun sering katakan, anak-anak yang ada di sekolah kita (sekolah pinggir) mungkin kualitasnya tidak seperti anak-anak di sekolah favorit (dari segi bahan dasar nilai ijazah atau SDM orang tua). Jadi sebenarnya betapa berat tugas guru-guru (sekolah pinggiran) yang harus berupaya membuat hidangan sedap berbahan dasar sederhana.

Jika berhasil, artinya guru-guru dan kepala sekolah tersebut hebat luar biasa, karena mereka perlu upaya sepuluh kali lipat agar output yang didapat sesuai dengan harapan.

Berbeda dengan mereka yang ada di sekolah favorit, untuk membuat kue yang lezat, di hadapannya telah tersedia terigu, telur, mentega, keju, mixer dan oven. Betapa mudahnya.

Mari sekali-kali kita bertukar tempat, guru-guru atau kepala sekolah favorit dengan guru-guru atau kepala sekolah pinggiran, mau kah?

Dengan sistem zonasi, semuanya menjadi mungkin. Semua sekolah berhak memiliki siswa berbahan dasar unggul. Juara yang lahir dari ajang semacam OSN, O2SN, FLS2N, tidak akan didominasi oleh sekolah tertentu yang dalam penilaian kinerja kepala sekolah menjadi salah satu unsur penilaian. Dan saya keberatan, karena mungkin saja para juara tersebut adalah hasil dari bimbel, sanggar, klub yang tidak diikuti siswa-siswa pinggiran.

Sistem zonasi membuka ruang baru bagi penyelenggaraan pendidikan. Saatnya membuktikan apakah guru-guru atau kepala sekolah yang selama ini dengan mulus dan mudah bisa meraih hasil nilai tinggi, bisa melakukan hal yang sama jika menghadapi siswa berbahan dasar nilai rata-rata atau dibawah rata-rata? Mari kita buktikan.

Orang tua, semestinya tidak perlu khawatir (tentu termasuk saya). Di manapun putra-putri Anda sekolah, akan mendapatkan pembelajaran yang baik. Catatan yang penting bahwa keberhasilan putra-putri kita tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tentu juga oleh orang tua siswa.

Yang harus orang tua lakukan adalah datangi kepala sekolah, tanyakan tentang program-program inovatif apa yang akan dilakukan sekolah, bagaimana sekolah meningkatkan kualitas guru-gurunya, bagaimana komitmen sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan, asyik, kreatif dan nyaman (makan).

Jika perlu, berikan bantuan dan partisipasi yang optimal dengan apa saja yang orang tua bisa demi kemajuan sekolah tempat putra putri Anda belajar. Mari jadikan semua sekolah menjadi sekolah favorit.

Dan tugas kepala sekolah serta guru adalah menjawab tantangan sistem zonasi ini dengan riang gembira, dengan peningkatan kualitas kinerja, kualitas pelayanan berbagai aspek, pemenuhan 8 standar plus yang optimal dengan paradigma baru tentang Semua Sekolah Adalah Sekolah Favorit, sehingga orang tua tidak perlu khawatir di manapun anaknya bersekolah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.