Beranda Hoak atau Bukan Mengembalikan Kakawihan Kaulinan Barudak Sunda

Mengembalikan Kakawihan Kaulinan Barudak Sunda

125
BERBAGI

Di zaman now sudah jarang kita melihat anak-anak Sunda bermain dan bernyanyi dengan Kakawihan.

Bahkan sudah tak terdengar canda tawa anak-anak di halaman rumah, lapangan atau lahan-lahan kosong, mereka berkumpul bersama mengungkapkan rasa gembiranya bermain sambil Kakawihan, memainkan permainan yang berbeda dari dari hari ke hari tergantung waktu musim dan cuaca.

Kehidupan anak-anak di masa lalu sangatlah berbeda dengan anak-anak sekarang. Salah satunya dalam hal permainan.

Anak-anak zaman dulu lebih antusias bermain dengan alam, dimana banyak tersedia sarana bermain bagi mereka. Sejak pagi hingga malam hari, anak laki-laki dan anak perempuan memiliki jenis permainan sendiri-sendiri yang berbeda.

Ada boy-boyan dan sorodot gaplok untuk anak laki-laki. Kutik dan lompat tinggi untuk anak perempuan. Semua itu umumnya dimainkan pada siang hari.

Jenis permainan di malam hari pun tidak sama dengan permainan sore hari. Permainan di malam hari yang mereka mainkan sambil melantunkan Kakawihan.

Jika bulan sedang purnama, anak-anak masa lalu tidak pernah melewatkan diri dengan tidur cepat-cepat. Mereka sangat tertantang bermain dan bernyanyi dengan penuh kegembiraan hingga larut malam di halaman.

Ada yang bermain ucing kalangkang, galah, ayang-ayang gung melantunkan Kakawihan Bulantok, Kalongking dan sebagainya.

Kaulinan dan Kakawihan Barudak Sunda, ternyata memiliki kearifan lokal yang luar biasa. Dalam Kaulinan dan Kakawihan itu terkandung hal-hal positif.

Seperti penanaman sifat kebersamaan, kreativitas ataupun kecintaan terhadap alam dan lingkungan. Permainan Oray-orayan, misalnya.

Kakawihan itu ternyata sarat dengan nilai-nilai toleransi dan sosial karena dalam bermainnya harus melibatkan lebih dari dua orang, setidaknya memerlukan orang banyak agar bisa berbaris panjang ke belakang.

Berikut ini salah satu syair Oray- orayan “Kaulinan Barudak” yang dinyanyikan sekaligus menjadi sebuah permainan anak-anak Sunda zaman dulu.

Oray-orayan luar-léor mapay sawah
Entong ka sawah, paréna keur sedeng beukah
Oray-orayan luar-léor mapay kebon
Entong ka kebon, loba barudak keur ngangon
Mending gé teuleum di leuwi loba nu mandi
Saha nu mandi, nu mandi pandeuri.
Oray-orayan
Oray naon? Oray Bungka
Bungka naon? bungka laut
Laut naon? Laut dipa
Dipa naon? Dipandeuri riririri …
Jleepp (campaka dan malati menangkap mangsanya)

Teknis permainan ini yaitu para pemain saling memegang ujung baju bagian belakang teman di depannya untuk membentuk barisan ke belakang.

Pemain paling depan berusaha menangkap pemain yang paling belakang (ujung) yang akan menghindar, sehingga barisan bergerak-meliuk-liuk seperti ular, tetapi barisan itu tidak boleh terputus. Sambil bermain, pemain melantunkan ”Kakawihan”.

Tidak ada rasa emosional yang mereka rasakan waktu memainkan permainan ini. Anak-anak bisa menikmati kegembiraan hidup, tanpa harus dibeli oleh uang. Selain itu, tampak sikap kebersamaan dan rasa solidaritas anak-anak dalam bermain dan dipastikan jauh lebih komunikatif satu sama lainnya.

Tidak seperti permainan anak-anak zaman now yang sudah mulai kecanduan gadget, apabila dalam permainan tersebut tidak terpecahkan, akibatnya rasa emosi yang tak terkendali.

Jauh sekali perbedaannya, rasa damai, gembira, terpancar diraut muka mereka yang masih polos, belum teracuni permainan-permainan yang dapat menghilangkan rasa kebersamaan, toleransi dan sosial diantara mereka, yang cenderung lebih individualis.

Meskipun jenis dan bentuk permainan di atas sangat sederhana, tetapi secara tidak langsung mengandung makna yang sangat berguna bagi pemupukan sikap mental anak-anak.

Nilai-nilai yang terkandung dari permainan Oray-orayan.

Pertama, nilai estetika : barisan atau formasi yang membentuk ular “liak-liuk” mengandung nilai keindahan jika orang melihatnya. Barisan diatur menurut ketinggian, agar terlihat estetikanya tidak semrawut semaunya.

Kedua, nilai kognitif : melatih keterampilan dan cekatan, teknik/strategi serta daya kreativitas anak.

Ketiga, nilai moral/afektif : dalam permainan ini, anak-anak tidak hanya memperoleh kesenangan tetapi juga belajar untuk melatih keterampilan berkelompok, kekompakan (kerja sama), memimpin, bertanggung jawab, saling melindungi satu sama lain.

Keempat, nilai sastra : pada lirik lagu membentuk sebuah rima atau murwakanti (bunyi vokal lagu pada baris terakhir dalam bait lagu). Contoh :
Oray-orayan luar leor mapay saw[ah]
Tong kasawah pare na keur sedeng beuk[ah] dan seterusnya.

Kelima, pesan yang ingin disampaikan dilihat dari lirik lagunya permainan Oray-orayan ini memberi pesan kepada anak-anak agar tidak bermain di sembarang tempat, seperti yang disebutkan dalam lirik yaitui sawah, kebun dan leuwi (sungai).

Jangan bermain di sawah kalau padinya sedang menguning karena para petani takut panennya gagal kalau ada anak- anak yang bermain menginjak injak sawah yang sebentar lagi dipanennya.

Kemudian kebun. Janganlah anak-anak bermain di kebun karena ada budak angon yang sedang mengembala hewan, dikhawatirkan mengganggu hewan gembalanya yang sedang makan.

Lalu ada leuwi, kata leuwi dalam lirik tersebut berarti sungai, anak-anak zaman dulu lebih aman apabila bermain di sungai, mereka bisa meluapkan kegembiraannya bermain sambil mandi, tidak ada yang melarang karena takut dirusak oleh mereka, karena bermain air sifatnya lebih bebas berekspresi, tapi jangan bermain di sungai tanpa pengawasan orang dewasa, apabila arus sungainya sedang deras.

Sangatlah disayangkan permainan Oray-orayan yang syarat akan pembelajaran kini tinggal kenangan. Seperti itulah sekarang permainan dan Kakawihan itu sudah berangsur-angsur hilang dan mungkin hanya menyisakan beberapa permainan yang kini tertatih-tatih dalam mempertahankannya.

Dunia anak-anak sekarang ini merupakan dunia yang pasif. Anak-anak zaman now lebih cenderung asyik main sendiri, yang seharusnya mereka gunakan waktu main bersama untuk mendapatkan pembelajaran sosialisasi dengan temannya, kini harus dihabiskan dengan bermain PS, HP, gadget dan sebagainya.

Kami ingin permainan tradisional secara perlahan bisa kembali hidup di tengah-tengah masyarakat. Upaya penguatan cinta budaya Sunda diantaranya, melalui program Kaulinan Barudak Lembur, dengan pengenalan kembali Kakawihan Barudak.

Tentunya bisa diharapkan fenomena tersebut terkikis sedikit demi sedikit. Sekolah merupakan wadah yang tepat untuk menyambung kembali rantai yang terputus dalam mengajarkan kearifan lokal bagi anak-anak zaman now.

Dengan adanya penyampaian dari guru di sekolah, setidaknya membekali anak-anak zaman now mengenal akan kebudayaannya, mencoba memperkenalkan kembali kepada mereka tentang banyaknya Kaulinan Barudak beserta Kakawihannya, dengan pembelajaran di sekolah-sekolah.

Minimalnya masuk dalam sebuah ekstrakurikuler, upaya selanjutnya, adakan sebuah festival-festival Kaulinan Barudak, walaupun anak-anak pada akhirnya harus mengetahui permainan tradisional tersebut, dari sebuah festival, bukan dari pengalaman bermainnya.

Harapannya mudah-mudahan melalui usaha-usaha tersebut bisa membentengi anak-anak zaman now memiliki karakter urang Sunda yang sopan, ramah, santun dan taat agama, dalam menghadapi masuknya budaya asing di tatar Sunda. Dan, Kakawihan dalam Kaulinan Barudak, hidup kembali di lingkungan anak-anak Sunda zaman now. (*)

*) Dosen Bahasa Sunda IAILM Suryalaya

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.