Mengenal Anak Slow Learner

600

Dalam konteks pembelajaran, guru akan dihadapkan deng­an peserta didik yang lambat dalam mengikuti pro­ses belajar mengajar. Sayangnya, belum semua guru memahami bagaimana menghadapi anak seperti itu.

Pada umumnya proses pembelajaran di sekolah saat ini masih bersifat klasikal. Pola pembelajaran yang dilakukan, masih memakai pola belajar dengan sejumlah besar siswa dalam waktu yang sama, menyampaikan bahan pelajaran yang sama pula. Bahkan metodenya pun metode yang sama untuk seluruh peserta didik.

Dalam pengajaran klasikal seperti ini, guru beranggapan bahwa seluruh siswa mempunyai kemampuan, kesiapan dan kematangan, serta kecepatan belajar yang sama. Dapat kita bayangkan akibat pengajaran klasikal ini, guru tidak memperdulikan perbedaan individual. Siswa yang cepat akan terhambat kemajuannya oleh siswa yang lain, sebab mereka yang dalam satu kelas di­tuntut harus maju bersama-sama.

Sebaliknya anak yang lambat seolah-olah dipaksakan untuk berjalan cepat.
Hal ini mendorong pembelajaran tidak efektif, efisien, dan menyenangkan. Ketidakmampuan guru melihat perbedaan-perbedaan individual anak dalam kelas, banyak membawa kegagalan dalam memelihara dan membina peserta didik secara efektif.

Peserta didik memiliki perbedaan dalam kondisi jasmani. Seperti anak yang tidak normal, anak normal, dan bahkan perbedaan kebiasaan seperti pemakaian bahasa, sikap dorongan belajar, sebagai akibat lingkungan sosial yang berbeda-beda. Perbedaan individual anak semacam itu perlu mendapat perhatian guru di kelas apabila mereka mengharapkan agar setiap anak dapat berhasil. Yaitu dapat mengembangkan potensial secara penuh, yang justru sangat diperlukan untuk mendukung kemajuan ekonomi dan teknologi masyarakatnya (Suryosubroto, 1997).

Kalau siswa tidak diberdayakan sesuai potensi dan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana masa depan peserta didik yang slow learner itu.

Secara terminologi slow learner diartikan orang yang mengalami keterlambatan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pandangan lain, Chaplin (2005) misalnya mengatakan, “Slow learner suatu istilah nonteknis yang dengan berbagai cara dikenakan kepada anak-anak yang sedikit terbelakang secara mental, atau yang berkembang lebih lambat dari kecepatan normal”.

Dalam Jurnal yang berjudul “Slow Learners: Role of Teachers and Guardians in Honing their Hidden Skills. Volume 3, Nomor 2 (2013), 139-143, Rashmi Rekha Borah menunjukkan beberapa ciri sebagai berikut ini :

Pertama, pelajar yang lamban berulang kali tidak dewasa dalam hubungan mereka dengan orang lain dan berperilaku buruk di sekolah.

Kedua, mereka tidak bisa melakukan banyak masalah atau kompleks dan bekerja dengan baik perlahan.

Ketiga, mereka kehilangan jejak waktu dan tidak bisa menyampaikan apa yang telah mereka pelajari dari satu tugas ke yang lain dengan baik. Keempat, mereka tidak mudah menguasai keterampilan yang bersifat akademis, seperti tabel atau aturan ejaan. Kelima, sifat yang paling menjengkelkan adalah ketidakmampuan mereka untuk memiliki tujuan jangka panjang.

Dalam pandangan psikolog Asep Harul Ghani, ada tiga hal yang menyebabkan anak mengalami slow learner yaitu :

Salah persepsi. Anak bisa memersepsikan guru sebagai sosok yang tidak menyenangkan, membosankan, bahkan menakutkan. Persepsi ini akan berdampak lemahnya motivasi anak mengikuti proses belajar mengajar. Ketika motivasi lemah, maka akan berdampak terhadap lambatnya belajar. Anak juga bisa memersepsikan, mata pelajaran yang diikutinya adalah mata pelajaran yang sulit, tidak menyenangkan, dan membosankan. Ketika kondisi ini terjadi, akan berdampak pula pada lemahnya motivasi mengikuti proses pembelajaran, dan akhirnya anak mengalami keterlambatan dalam mengikuti proses pembelajaran tersebut.

Gangguan Emosi. Adakalanya anak datang ke sekolah membawa situasi emosi yang tidak menguntungkan. Misalnya anak berangkat ke sekolah meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Hal ini akan memengaruhi emosi anak dalam mengikuti pelajaran. Dia tidak dapat fokus terhadap materi yang disampaikan guru, akibatnya dia lambat dalam memahami materi, dan akhirnya berpengaruh terhadap prestasi akademiknya.

Kesalahan kebiasaan dalam belajar. Anak yang belajar dengan kebiasaan yang jelek maka akan memiliki kesulitan dalam belajar. Misalnya ada anak yang kebiasaan menulisnya adalah cara miring, maka dia akan sangat membutuhkan energi yang lebih banyak. Ketika energi yang dikeluarkan lebih banyak, maka emosi dia akan terganggu. Ketika emosi anak terganggu maka akan mengganggu terhadap fokus belajar, dan akhirnya akan memengaruhi cepat lambatnya anak memahami materi pelajaran di kelas.

Merujuk pada ketiga faktor penyebab terjadinya slow learner di atas, penanganannya sebagai berikut :

Kesalahan persepsi
Untuk menghindari terjadinya kesalahan persepsi anak, sebelum proses belajar mengajar guru harus mampu menjadi guru yang menyenangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan guru mampu menampilkan sikap dan sifat kebapaan. Dalam sebuah mahfudhot dikatakan “Kun Abban Qobla An Takuuna Murobbian” (jadilah engkau bapak/ibu sebelum engkau menjadi guru). Maksudnya, sebelum kita tampil sebagai guru, tampilkan dulu bahwa kita adalah bapak atau ibu yang memiliki sifat dan kasih sayang sebagai orang tua dari anak. Ketika kondisi tersebut sudah terbangun, maka persepsi yang positif terhadap guru akan terbangun.
Sementara untuk mengatasi persepsi yang salah terhadap materi, guru dapat mendesain pembelajaran dengan desain yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang merangsang anak untuk aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan (joy learning full). Melalui pembiasaan, anak akan mengubah persepsi yang awalnya materi dianggap sulit, menjadi menyenangkan.

Gangguan Emosi
Menghadapi anak yang mengalami gangguan emosi, guru harus mampu menghargai anak sesuai kondisi emosi saat itu. Misalnya ada anak yang di kelas terdiam, guru harus segera mendekati anak dan berkomunikasi. Nak….kenapa murung? Ada apa di rumah?. dan sebagainya. Sadarilah, ketika anak dalam kondisi emosi seperti ini, lalu guru menyapanya, anak merasa ada yang memperhatikan. Dari kondisi itu pula akan mampu menstabilkan emosi anak.

Kesalahan Kebiasaan dalam Belajar
Menghadapi anak yang kebiasaan belajar yang salah, guru dapat melakukan perlakuan dengan mengubah kebiasaan tersebut dengan kebiasaan yang baik. Proses mengubahnya dengan melakukan kebiasaan belajar yang baik secara perlahan-lahan. Dalam kasus kebiasaan menulis sambil miring misalnya, guru mengajak anak untuk berlatih menulis dengan kertas berada di depan dada dan posisi duduk yang tegak.
Kalau perlakuan ini rutin dilakukan, maka anak akan terbiasa menulis dengan benar. Ketika menulis dengan benar, berarti anak tidak banyak mengeluarkan energi yang banyak sehingga tidak menyedot emosinya. Semoga bermanfaat. (*)

*) Ketua Prodi PGMI Suryalaya dan mahasiswa S3 SPs UPI Bandung

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.