Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Mengenal Wanita Dosen UII Anggota Muslim Cyber Army, Tertutup Sejak Janda 4 Tahun Lalu

226
0
Anggota Muslim Cyber Army Tara Arsih Wijayani yang berprofesi sebagai dosen di UII Yogyakarta

JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap enam orang tersangka yang tergabung dalam grup whatsapp The Family MCA (Muslim Cyber Army).

Grup tersebut memproduksi dan menyebarkan ujaran kebencian, fitnah dan berita hoax melalui media sosial.

Nah, salah satu pelaku yang ditangkap itu adalah Tara Arsih Wijayani.

Wanita berusia 40 tahun itu diketahui menjadi salah satu dosen pengajar di Universitas Islam Negeri (UII), Yogyakarta.

BACA: Wahai Wanita Konseptor Muslim Cyber Army, Silahkan Anda Menggigil Panas-dingin

Tara adalah warga Dusun Krajan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di UII, perempuan berjilbab dan berkacamata itu adalah dosen bahasa Inggris.

Direktur Humas UII Yogyakarta Karina Utami Dewi mengatakan, Tara memang pernah diperbantukan untuk mengajar kuliah umum Bahasa Inggris sejak 2005 silam.

Namun, Tar juga sesekali vakum saat itu. Hingga akhirnya, Tara kembali mengajar di UII sejak 2014 sampai sekarang.

BACA: Tim Elit Muslim Cyber Army Ternyata Ada 9 Orang, Begini Cara Kerjanya

Anda Penyandang Dana Muslim Cyber Army? Siapkan Tikar dan Rantang
“Tapi bukan dosen tetap. Yang bersangkutan sepertinya juga mengajar di berbagai tempat,” kata Karina kepada JawaPos.com (grup pojoksatu.id), Rabu (28/2/2018).

Karina menegaskan, kasus hukum yang menjerat Tara adalah murni urusan pribadi yang bersangkutan.

Karena itu, UII menyerahkan sepenuhnya proses hukum Tara kepada pihak kepolisian.

Selain itu, UII juga dipastikan memecat Tara sebagai dosen di lembaga yang juga menjadi tempat mengajar Mahfud MD itu.

“Dengan adanya kasus ini, UII tak akan lagi menggunakan jasa Tara,” tegasnya.

Sementara, Tara sendiri dikenal sangat tertutup oleh warga sekitar kediamannya.

Terlebih, sejak empat sampai lima tahun lalu, kala dirinya resmi menyandang status janda usai bercerai dari suaminya.

Di rumah yang bercat putih itu, Tara diketahui tinggal hanya dengan kedua anaknya yang masih kuliah dan duduk di bangku SMA.

Awalnya Anggota Muslim Cyber Army Gak Ngaku dan Gak Menyesal
“Kalau yang dua lainnya sudah menikah dan bekerja,” jelas Kepala Dukuh Krajan, Arifin Nur Hamzah.

Arifin mengungkap, Tara yang sebelumnya jarang bersosialiasi, menjadi makin tertutup sejak menyandang status janda.

“Dulu, hanya sesekali (bersosialisasi). Kalau sekarang malah sangat jarang sekali,” bebernya.

Demikian juga dengan penuturan Surono. Lelaki 50 tahun yang tinggal berdekatan dengan Tara mengaku sangat jarang sekali melihat perempuan berjilbab itu ada di rumahnya.

“Dia lebih banyak di Jakarta. Jarang di sini,” tutupnya.

Sebelumnya, Polda Jawa Barat mengonfirmasi bahwa Tara Arsih Wijayani ditangkap karena menyebar isu hoax muazin dibunuh orang yang mengaku gila adalah anggota Muslim Cyber Army.

Dikrimum Polda Jawa Barat, Kombes Umar S Fana menyampaikan, Tara menyebar isu hoax pembunuhan H Bahro di Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka.

Berita itu ia sebar melalui akun media sosial facebook dan instagram.

Di akun facebook-nya, TARA DEV SAMS, Tara menyebar berita itu sejak Sabtu, tanggal 17 Februari 2018 sekitar jam 12.00 WIB.

“Postingannya lalu dibagikan oleh belasan ribu akun,” beber Umar Selasa (27/2/2018).

Umar menambahkan, Tara sudah ditangkap oleh Polres Majalengka di rumah salah seorang kerabatnya di Jakarta Utara.

Selain menangkap Tara, polisi juga menemukan sejumlah barang bukti.

Diantaranya, 1 (satu) buah tablet Lenovi Type 9500 Nomor imey: 1.86336.3028411138 dengan ciri-ciri warna hitam, corak stiker-stiker.

Selain itu juga sebuah akun e-mail dengan nama [email protected] yang di expose ke dalam bentuk CD berikut satu bundle print outnya.

Juga dua lembar screenshot yang berisi berita bohong yang disebarkannya melalui media sosial.

Umar membenarkan, sosok H Bahro memang benar terbunuh. Tapi disebabkan tindak kriminal perampokan yang para pelakunya juga sudah ditangkap Polres Majalengka.

Ia juga menegaskan bahwa H Bahro bukan seorang muazin atau ustadz, melainkan seorang pensiunan.

“Jadi bukan dibunuh orang gila,” tegas dia.

(JPG/ruh/pojoksatu)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.