Mengenalkan Pedalangan kepada Milenial

41
0
PEDALANGAN. Kibar Budaya Jilid 5 menampilkan pagelaran wayang golek dari Rumpun Pedalangan di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya Kamis (5/12). UJANG NANDAR / RADAR TASIKMALAYA
PEDALANGAN. Kibar Budaya Jilid 5 menampilkan pagelaran wayang golek dari Rumpun Pedalangan di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya Kamis (5/12). UJANG NANDAR / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Kibar Budaya Jilid 5 Rumpun Pedalangan melaksanakan pagelaran wayang golek di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya (GKKT) Kamis (5/12). Pagelaran tersebut merupakan program Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT).

Koordinator Rumpun Pedalangan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya Utep Hartono menjelaskan, dalang dalam pagelaran tersebut A Gunawan Wibiaksana. Dia dalang asli Tasikmalaya.
Pagelaran tersebut ditonton pelajar SMKN 1 Kota Tasikmalaya.

“Karena kami memiliki tujuan pembinaan para seniman padalangan, termasuk dalam penampilan ini kami melibatkan semua pelaku seni,” ujar dia di GKKT Kamis (5/12).

Selama ini, kata dia, yang terhimpun dalam rumpun pedalangan tidak hanya sanggar-sanggar seni di Tasikmalaya, melainkan dari luar Tasikmalaya.

“Kami bersama-sama terus fokus mengembangkan dan membina seni pedalangan itu,” ungkapnya.

Rumpun Pedalangan juga saat ini menggarap pasanggiri untuk mengaudisi dan melihat potensi dalang di Kota Tasikmalaya.

“Termasuk kami melakukan pembinaan dan pengenalan terhadap siswa dan siswa di Kota Tasikmalaya. Materinya akan dimasukan dalam media pembelajaran seni budaya,” katanya.

Menurut dia, saat ini siswa dan siswa Kota Tasikmalaya harus memiliki pengetahuan seni pedalangan, karena pedalangan merupakan kesenian buhun yang harus dilestarikan.

“Saya harap seni pedalangan ini bisa terus eksis dan diminati oleh kalangan muda seperti siswa. Termasuk dukungan pemerintah dalam setengah-setengah dalam pengembangannya,” tutur dia.

Wakil Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) Hendra J Rustandi menyatakan pagelaran rumpun pedalangan merupakan rumpun yang terakhir tampil dalam pagelaran Kibar Budaya Jilid 5.

Pada dasarnya, kata Hendra, seluruh kegiatan yang dilaksanakan DKKT, melalui rumpun-rumpun kesenian, lebih ditekankan untuk sosialisasi tentang tampilan dari berbagai kesenian dan budaya.

“Utamanya bisa diapresiasi oleh para usia dini, pelajar, mahasiswa. Alhamdulillah untuk saat ini apresiasinya cukup bagus,” kata dia.

Bahkan rumpun pedalangan, kata dia, dalam dua tahun terakhir melaksanakan sosialisasi ke sekolah-sekolah. “Ini sebagai upaya menontonkan kembali seni wayang golek langsung kepada siswa dan masyarakat,” ujarnya.

Dia menilai penonton dalam Kibar Budaya Jilid 5, cukup bagus. Itu menandakan program DKKT selama ini bisa diterima oleh masyarakat, usia dini, pelajar dan mahasiswa. “Bahkan tidak luput pada pagelaran melibatkan para pelaku seni usia dini,” kata dia.

Menurutnya, saat ini yang harus menjadi targetan yakni cara jitu menyelamatkan generasi muda untuk mencintai seni dan budaya termasuk terjun langsung. “Itu salah satu upaya menekan dan memagari masuknya budaya-budaya globalisasi,” tutur dia.

Hendra berharap seni pedalangan bisa dikenali dan dilestarikan oleh generasi milenial. Mulai anak usia dini, pelajar hingga mahasiswa.

“Mudah-mudahan seni-seni tradisi yang ada di Tasikmalaya ini bisa terus lestari dan disukai oleh generasi milenial,” harapnya. (ujg)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.