Mengerikan, Ada Ancaman Megathrust, Kekuatannya 10 Tsunami Selat Sunda!

1247
0

SLEMAN – Tsunami Selat Sunda ternyata bukan satu-satunya ancaman yang bisa saja kembali terjadi. Ada ancaman lain, yakni Megathrust.

Hal itu disampaikan perekayasa di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko.

Widjo Kongko menyatakan, tsunami yang diakibatkan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau itu menambah daftar panjang potensi ancaman terjadinya bencana di Indonesia.

Selain itu, Wilayah tersebut juga rawan terdampak gempa besar yang berpotensi tsunami akibat pergerakan megathrust.

Kepala Bidang Mitigasi Bencana Persatuan Insinyur Indonesia (PPI) itu menyebut, potensi terjadinya gempa yang menimbulkan tsunami di sekitar Selat Sunda sudah jelas.

Pertama yakni dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, yang belum lama ini terjadi.

“Iya potensi ancamannya ada 2, yang sudah jelas (dari) Anak Krakatau,” katanya ditemui di rumahnya, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Rabu (26/12).

Ancaman dari Gunung Anak Krakatau ini menurutnya merupakan fenomena yang langka.

Alasannya, bencana itu sangat jarang terjadi dan baru diketahui sekali ini di Indonesia.

Hal yang semakin mengkhawatirkan, belum adanya suatu sensor tektonik maupun non-tektonik di laut yang berada di sekitar Anak Krakatau itu.

Menyebabkan sulitnya memberikan peringatan kepada masyarakat yang berada di dekat pantai terdampak tsunami.

“Makanya BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) tidak memberikan peringatan gempa tsunami, karena tidak ada alat di laut,” jelasnya.

Kendati demikian, tegasnya, BMKG sendiri tidak bisa disalahkan begitu saja karena ketiadaan peringatan dini sebelum bencana.

“Kita tidak bisa menyalahkan BMKG, dan untuk gunung api ranahnya bukan BMKG, tapi Badan Geologi,” katanya.

Dalam fase erupsi Gungn Anak Krakatau ini, lerengnya mengalami longsor saat terjadi erupsi.

Hal itu pula yang kemudian memicu longsor bawah laut yang melahirkan tsunami dan menerjang pesisir pantai terdekatnya.

“Kok tiba-tiba longsor dan meninggalkan tsunami. Jadi harus ada sinergi dan koordinasi, antara BMKG dengan Badan Geologi ini,” saran dia.

Peneliti kevulkanologian yang pernah berurusan dengan Bareskrim Polri itu juga mengungkap, ancaman kedua ada megathrust Selat Sunda.

Yang cukup mengerikan adalah, megathrust tersebut disebutnya memiliki kekuatan yang jauh lebih ketimbang tsunami Selat Sunda yang terjadi kemarin.

Widjo menyebut, kekuatan megathrust itu bisa lima sampai 10 kali lipat dibandingkan dari tsunami pada Sabtu (22/12) lalu.

Widjo menjelaskan, megathrust merupakan suatu zona subduksi. Sesar lempengan yang berada di Selat Sunda.

Ancaman dari dampak megathrust ini juga tersebar di beberapa daerah, bukan hanya Selat Sunda saja.

“Mulai dari Sumatera, Padang, Bengkulu, Selat Sunda, Jawa bagian selatan, timur Bali. Kemudian Sulawesi Utara juga ada, daerah Maluku, di Papua ada Papua dan Sorong,” ingatnya.

(dho/jpc/ruh/pojoksatu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.