Menggugah Spirit Melawan Korupsi

47
0
DISKUSI. Ketua DPC Peradi Tasikmalaya Andi Ibnu (dua kiri), Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Agus Wahyudin, Ketua LBH Peradi Eki S Baehaqi (kanan) dan Presiden Komunitas Cermin Ashmansyah Timutiah (kiri) berdiskusi soal korupsi di Jalan Siliwangi Kamis sore (16/5). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Korupsi ibarat penyakit. Semakin banyak orang yang ingin sehat, penyakit semakin berkembang dan beragam. Namun (untungnya) obat-obatan semakin banyak ditemukan.

Demikian analogi yang dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Tasikmalaya Andi Ibnu soal korupsi. Dia mengatakan itu saat diskusi menggugah spirit melawan korupsi di sekretariat DPC Peradi Tasikmalaya Jalan Siliwangi Kamis sore (16/5).

Menurut Andi Ibnu, isu korupsi menjemukan dan membuat mangkel. Namun begitu, sejak organisasinya berdiri di Kota Santri, selalu menyuarakan untuk melawan korupsi.

Dia mengulas beberapa waktu lalu ruang wali kota dan beberapa instansi pemerintah digeledah KPK.

“Praktis masyarakat terlihat tidak ada yang respons. Kelihatannya mereka malu tidak, senang juga tidak. Seolah acuh tak acuh atas adanya peristiwa tersebut, mungkin yang penting bisa makan saja cukup,” terangnya.

Kesimpulanya, kata Andi, ada kesadaran semu yang terjadi di masyarakat. Itu didasari kapasitas yang tidak terbangun sehingga minimnya kepedulian terhadap apa yang terjadi hari ini di pemerintahan.

“Untuk itu, bagaimana kita meyakinkan kembali diri kita bahwa korupsi adalah kejahatan luar biasa. Bisa diperangi tak cuma dengan hukum tapi budaya perilaku kita sehari-hari yang membutuhkan komitmen kita bersama,” ucap tokoh muda NU ini memaparkan.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Peradi Tasikmalaya Eki Sirojul Baehaqi mengungkapkan adanya skandal korupsi yang terungkap belakangan ini, tidak membuat masyarakat bahagia atau menjadi khawatir.

“Semua senyap tak merespons fenomena ini. Perlu ada sikap dan keaktifan kalangan yang masih peduli terhadap kemajuan dan perkembangan daerah. Salah satunya terlibat menjadi pelaku pengungkapan korupsi,” kata Eki.

Dalam diskusi tersebut dihadiri juga Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Agus Wahyudin. Sejatinya, kata dia, instrumen yang dibangun pemerintah dalam upaya pencegahan terjadinya praktik korupsi terbilang lengkap. Mulai dari Inspektorat, Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan teranyar hadirnya Korsupgah KPK. “Pencegahan sudah habis-habisan dan hebat sekali. Seolah, tinggal menunggu saja seorang pejabat itu sialnya kapan?” ucapnya.

Pria yang juga Dewan Kehormatan DPC Peradi Tasikmalaya menyebut ukuran besar atau kecil saat ini tidak menjadi persoalan, bagi aparat penegak hukum dalam menjerat pejabat. Dia mengulas beberapa kasus besar yang sempat menyeret sejumlah anggota dewan, bahkan pejabat level nasional lantaran kesalahan dari sisi sistem.

“Di level tertinggi saja masih ditemukan kesalahan sistem yang menjerat seorang pejabat dalam kasus hukum. Karena memang korupsi itu ada karena sistem, ada juga karena koruptif,” jelas Agus.

Presiden Komunitas Cermin Ashmansyah Timutiah menyebut saat ini apatisme sebagian masyarakat tidak hanya urusan korupsi pejabat. Dia memandang, saat ini terjadi penggiringan secara masif pada sebuah perangkap global. Di mana manusia didorong pada ruang sempit yakni menjadi individualis.

“Sadar tidaknya, saat ini kita dididik menjadi makhluk individualis. Maka wajar, masyarakat seolah tak peduli meski secara nurani mereka tersentuh. Aneh saya juga,” ungkapnya heran. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.