Menginspirasi Gagasan, Membangun Harapan

35
0
”Belajar dari kemarin, hidup untuk hari ini dan berharap untuk hari esok…” (Film Dunia Dalam Kita) Oleh: Usep Saeffulloh (Pemimpin Redaksi Radar Tasikmalaya)

Hari ini, Radar Tasikmalaya berusia 15 tahun. Usia yang masih muda untuk ukuran media massa. Di Jepang, koran terbesar, Yomiuri Shimbun terbit sejak 1874. Sampai saat ini mereka masih eksis.

Sehari, terbit dua kali: pagi dan sore. Edisi pagi 8.337.000 eksemplar dan edisi sore 3.970.020 eksemplar. Pembacanya 26.214.305 orang.

Di Amerika, The New York Times terbit sejak 1851. Kini di bawah naungan The New York Times Company, sudah lahir ”anak” 15 koran. Seratus wartawannya, sampai saat ini sudah mendapatkan penghargaan Pulitzer, karya jurnalistik tahunan terbaik di dunia.

Mirip Nobel di dunia sastra atau Piala Oscar dalam dunia perfilman. Jumlah tersebut terbanyak dibandingkan media lain di dunia.

Di Indonesia, banyak koran-koran yang sudah ”senior”. Umumnya, yang eksis hari ini adalah media yang lahir di awal kemerdekaan atau era 1960-an. Adapun, media yang mulai terbit di era pra kemerdekaan, kebanyakan sudah ”almarhum”. Itu bukan karena tidak diterima pasar. Namun karena konflik di internal.

Penyebab lainnya, sosok pendirinya dan pemiliknya, yang menjadi ikon koran-koran tersebut, telah wafat. Generasi berikutnya tak mampu meneruskannya.

Beda keinginan dan tidak mau menjadi jurnalis atau mungkin mereka kurang mampu berselancar di atas gelombang perubahan media. Kolot. Padahal, alam telah berubah dan menuntut kebaruan.

Bagi Radar, semuanya adalah cermin. Di usia 15 tahun, kami harus memandang ke depan. Melirik ke belakang. Karena, ada kata-kata bijak: hidup ini seperti naik mobil. Kacanya gede. Terus menatap ke depan. Karena spion itu kecil. Hanya untuk koreksi. Kalau ada apa-apa mundur. Sedikit. Karena gigi mundur itu sedikit. Hanya satu. Gigi majunya lima. Itu kehidupan. Majunya banyak. Mundurnya lihat-lihat dikit.

Kutipan kata-kata bijak itu merupakan salah satu cuplikan dari film seri Dunia Dalam Kita. Sebuah film yang ditayangkan di kanal Youtube.

Ya di Youtube. Filmnya bagus. Sekelas film bioskop. Digarap sangat serius. Bintang utamanya Ringgo Agus Rahman. Selengkapnya Anda tonton saja sendiri hehe.

Lalu di mana kaitannya dan tiba-tiba saya menyentuh Youtube? Apa kaitannya antara media (koran) dengan Youtube? Ada. Di era digital ini, tepatnya era revolusi industri jilid keempat atau era 4.0, digital merasuk ke segala sendi kehidupan.

Salah satu efeknya, informasi berseliweran. Tidak hanya di Youtube, namun juga di Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya. Tepatnya media sosial. Catat, yang lalu lalang itu baru kadarnya informasi. Bukan berita. Karena sangat berbeda antara informasi dan berita. Sederhananya, informasi belum tentu benar sesuai fakta. Bisa saja hoax. Orang menyebutnya kabar burung. Lebih tepatnya kabar bohong.

Kalau berita? Berawal dari informasi lalu diverifikasi dan dituangkan dalam media. Yang terverifikasi itulah yang disebut berita. Jika diibaratkan emas, berita terverifikasi itu emas 24 karat. Asli.

Sebagai media yang terverifikasi faktual Dewan Pers, Radar memastikan verifikasi sebagai jantungnya redaksi. Tak ada fakta, tak ada berita.

Di usia 15 ini, kami sadar masih banyak pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Era digital mewajibkan kami terus bergerak agar siang dan malam tetap terang. Konvergensi pun tak terelakkan.

Radar Tasikmalaya Group –yang berisi koran, online, televisi, event organizer dan Radar Training Center— harus berikat. Kuat. Terintegrasi. Futuristik.

Kami menjadi elemen yang terlibat dalam denyut nadi pembangunan, teman perubahan, mengingatkan yang lupa, meluruskan yang bengkok, menegur kealpaan, berdiri bersama demokrasi, menginspirasi gagasan, mengawal keterbukaan, penjaga persatuan dan senantiasa membangun harapan. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.