Mengkhawatirkan! Petani di Randegan Kota Banjar Hanya Mengandalkan Air Hujan

333
0
Ilustrasi

BANJAR – Semangat Karsan, petani di wilayah Randegan 1 menurun. Hal itu karena sawah sekitar satu hektare miliknya di wilayah pertanian dekat Rawa Onom sudah tak menjanjikan seperti dulu.

Kondisinya kini bahkan terancam terbengkalai. Hal itu lantaran tak ada suplai air dari saluran irigasi yang dibangun pemerintah.

“Tiga belas tahun yang lalu saya masih bisa panen dua kali dalam setahun, karena sebelum dipasang kirmir oleh BBWS, air irigasi ini lancar,” ujarnya.

Namun kondisi sekarang berbeda. Dalam satu tahun, dirinya kadang bisa panen, kadang tidak. Sebab Karsan hanya mengandalkan air hujan.

“Saluran irigasi yang mengelilingi Gunung Babakan tidak ada airnya lagi,” kata pria yang kini mulai beralih profesi menjadi pedagang soto ayam tersebut Rabu (4/2).

Baca Juga : 45 Kendaraan Dinas Pemkot Banjar Siap Dilelang

Tak hanya milik Karsan. Sawah milik warga lainnya pun mengalami hal serupa. Mengandalkan air hujan. Sementara sebagian besar petani terpaksa menggali sumur bor di setiap petak sawah untuk mengaliri air ke sawah-sawah mereka.

“Kalau musim hujan sumur bor ada airnya, kita sedot kemudian airnya kita alirkan ke sawah. Kalau musim kemarau mah boro-boro, hanya bisa mengelus dada,” katanya.

Karsan menuding aliran irigasi di bawah itu tidak diurus, tak terawat dan tak ada pengerukan. Sehingga dasar irigasi yang mendapat suplai air dari Sungai Cijolang itu tak mampu mengalirkan air.

“Tidak ada pengerukan dan pemeliharaan lagi, terakhir dilakukan empat tahun lalu. Itu pun hanya babad-babad rumput saja, tidak ada pengerukan permukaan dasar irigasi, jadi airnya tidak mau mengalir karena permukaannya semakin tinggi,” kata Karsan.

Samsu Permana, petani lainnya di area pesawahan Randegan 1 mengaku sempat menggelar aksi protes ke kantor DPRD Kota Banjar. Namun sampai saat ini unjuk rasa para petani tak menuai hasil. Sawah mereka masih tetap tidak teraliri air.

Tak muluk-muluk, ia dan puluhan petani lain hanya minta pemerintah memfasilitasi supaya sawah mereka teraliri air.

“Kami hanya ingin ada air, air dari irigasi mengalir ke sawah. Ini buat apa dibangun kirmir. Kami ingin sawah kami kembali seperti dulu, mendapat aliran air. Tidak mengandalkan air hujan lagi,” kata dia.

Ia memandang persoalan ini serius untuk disikapi pemerintah kota. Sebab jika hal ini terus berlarut, keberadaan sawah mereka akan lenyap. Beberapa hektare sawah milik petani pun kini sudah berubah menjadi ilalang.

“Kami ingin peran pemerintah. Pemerintah harus hadir. Harus melihat dan memberi solusi. Kami hanya ingin melanjutkan bertani, ini pekerjaan kami. Tanpa petani, orang-orang tidak akan makan beras. Perhatikan kami, kami hanya ingin sawah kami teraliri air dari irigasi,” tegas dia.

Baca Juga : Dana BOS Harus Sejahterakan Guru Honorer Kota Banjar

Sementara itu, ketika dikonfirmasi ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, belum ada yang memberikan tanggapan mengenai hal itu.

Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Banjar Ngadimin mengatakan jumlah lahan pertanian di Kota Banjar tidak lebih dari tiga ribu hektare. Wilayah Kecamaan Langensari dan Pataruman mendominasi. Masing-masing memiliki kurang lebih seribu hektare.

Sisanya seribu hektare lagi Kecamatan Banjar dan Purwaharja.

“Kalau untuk di Kecamatan Purwaharja di wilayah Randegan itu ya, nggak sampai seribu hektare, paling di bawah 500 hektare lahan pertaniannya. Tapi bisa dibilang luas sampai ribuan hektare itu kalau digabung dengan lahan warga Ciamis, kan berbatasan,” katanya.

Terkait kondisi perubahan fungsi sawah dari sawah irigasi menjadi sawah tadah hujan, pihaknya mengaku belum bisa memberikan keterangan jelas. Harus kroscek langsung ke lapangan. (cep)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.