Menikmati Malioboro setelah Edisi Pertama Resik-Resik Selasa Wage Sultan Berharap Bisa Jadi Ruang Baru Seniman Jogjakarta

112
0

Mulai Selasa (26/9), tiap 35 hari, Malioboro akan disterilkan dari pedagang kaki lima (PKL), andong dan becak selama 24 jam penuh. Meski kawasan tetenger Jogjakarta itu tengah ditata, Sultan Hamengku Buwono X memastikan PKL tak akan dihilangkan.

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja

SETELAH melintas di depan Pasar Beringharjo, Sultan Hamengku Buwono (HB) X berhenti sejenak. ”Ternyata lumayan ya, kemringet (berkeringat, Red),” ujarnya kepada Wali Kota Jogjakarta Haryadi Suyuti (HS) yang turut mendampingi.
Matahari Jogjakarta me­mang tengah bersinar terang-terangnya Selasa siang (26/9). Dan, di tengah terik itu, gubernur Daerah Isti­mewa Jogjakarta tersebut me­nin­jau proyek tahap kedua penataan kawasan pedestrian Malioboro.
Didampingi HS dan Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi, Sultan menyusuri jalur pe­des­trian sisi timur, melintasi pertokoan Malioboro. Tampak lengang. Tak seorang pun pedagang kaki lima (PKL) tampak di kawasan yang jadi salah satu tetenger Jogjakarta paling terkenal tersebut.
Maklum, saat itu bersamaan dengan edisi pertama Reresik Selasa Wage Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Lewat program itu, dalam satu hari tersebut, selama 24 jam seluruh PKL Malioboro libur.
Mereka memanfaatkan mo­men itu untuk reresik (bersih-bersih). Kegiatan di jujukan wisatawan tersebut dimulai pada Selasa dini hari, pukul 00.01 WIB. Ditandai pemukulan kentongan pertanda seluruh PKL tutup.
Resik-resik diikuti relawan semua komunitas yang selama ini berkegiatan di Malioboro. Mulai PKL, andong, becak, sam­pai seniman jalanan.
Secara garis besar, setelah sterilisasi kawasan, bersih-bersih dilanjutkan dengan penyapuan mulai sekitar pukul 05.00 WIB sampai tiga jam berikutnya. Lalu, dilanjutkan pe­nyi­raman dan pengepelan jalur pedestrian selama sejam, dari pukul 08.00 WIB. Dan, mulai pukul 09.00 WIB sampai tengah malam pukul 00.00 WIB Malioboro yang senggang bisa dinikmati siapa saja.
”Harapannya, setiap Selasa Wage yang akan jatuh setiap 35 hari sekali (selapan, berdasar penanggalan Jawa, Red) dijadikan momen bagi para PKL dan pelaku ekonomi di Malioboro melakukan kegiatan bersih-bersih. Mempercantik Malioboro,” ujar HS.
Soal mengapa Selasa Wage yang dipilih, HS secara guyon menyebutkan karena Selasa dalam bahasa Jawa mengandung arti selononing manungso. Alias se-selo-selo (selonggar-longgarnya) -nya orang.
Tapi, Ketua Paguyuban Peda­gang Lesehan Malioboro (PPLM) Sukidi menambahkan, di­se­pakati Selasa Wage karena hari tersebut bersejarah. ”Itu hari jumenenge (penobatan, Red) Sultan (HB X),” katanya.
Di luar falsafah soal Selasa Wage, Sukidi mengakui butuh momen-momen seperti kemarin, ketika para pedagang bersama-sama membersihkan dan merawat Malioboro.
Meskipun, dengan libur sehari itu, otomatis pendapatan mereka berkurang. Rata-rata para pedagang lesehan yang menjual aneka kuliner bisa meraup Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per hari.
”Ya, ini sudah kesepakatan bersama. Sebenarnya ini juga sudah program lama, tapi baru bisa direalisasikan sekarang,” ujarnya.
Tiba di depan Benteng Vredeburg, Sultan dan HS duduk santai di bawah pohon rindang yang sisi-sisinya sudah dipasangi keramik. Sambil mengatur napas kembali, Sultan berharap penataan jalur pedestrian Malioboro bisa rampung sesuai rencana pada 2019.
Saat ini pengerjaan tahap kedua sudah mencapai 75 per­sen dan menyisakan finishing. Meliputi pemasangan street furniture. Baik di sisi timur (depan Gedung Agung) mau­pun sisi barat (depan Benteng Vredeburg).
Konsepnya sama dengan tahap pertama yang dikerjakan sepanjang sisi timur. Mulai depan Hotel Inna Garuda, sisi utara sebelum Pasar Beringharjo. Sedangkan tahap kedua meliputi sisi timur meneruskan tahap pertama hingga Titik Nol Kilometer dan depan Gedung Agung.
Nantinya bukan hanya fisik kawasan Malioboro yang ditata. Namun, juga pedagang kaki lima (PKL). ”Prinsipnya, mereka (PKL) bisa jualan, ya kita cari jalan keluar bagaimana menatanya,” ujar Sultan.
Sultan memastikan, penataan tidak akan menghilangkan PKL. Sebab, Malioboro tidak bisa dipisahkan dari PKL. Mereka merupakan kekuatan sekaligus daya pemikat wisatawan untuk datang.
”Kalau bisa nanti dipindah di be­kas Bioskop Indra, nanti itu kan jadi tingkat tiga. Mereka tetap bisa jualan di situ,” ujarnya.
Di sepanjang kawasan legen­daris tersebut, setidaknya ada 21 paguyuban, termasuk yang non-PKL. Seperti becak dan andong yang keseharian berkegiatan. Di bawah naungan PPLM, ada 70 pedagang leseh­an dan angkringan.
Senada dengan pernyataan Sultan, para pedagang yang mulai berjualan pada 1991 di kawasan tersebut pun berharap mereka tetap bisa berjualan di Malioboro.
”Jangan dikeluarkan dari Malioboro, tetap bisa ber­jualan di sekitar sini. Kalaupun gerobak kami harus diganti, kami bersedia mengikuti karena itu toh untuk mempercantik dagangan kami juga,” ujar Sukidi mewakili rekan-rekannya.
Menurut HS, Selasa Wage me­mang bukan program pengo­songan PKL dari Malioboro. ”Melainkan waktu bagi pedagang untuk bersih-bersih. Mulai gorong-gorong, ngecat toko dan sebagainya,” ujarnya.
Namun, untuk menjadikannya sebagai budaya, diperlukan kerja sama dengan para peda­gang. Juga, konsistensi dan kemauan mereka untuk ber­partisipasi merawat Malio­boro yang sehari-hari menjadi tempat mencari penghidupan.
”Kalau Selasa Wage pengun­jung bisa selfie bebas. Kalau sudah rutin bisa juga saat Selasa Wage dibikin gelaran wisata Malioboro,” ujarnya.
Sultan justru berangan-angan, saat penataan selesai kelak, Malioboro bisa menjadi ruang baru bagi seniman Jogjakarta untuk berekspresi. Dengan begitu, ada nilai tambah lagi selain sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pariwisata.
”Ya, bisa itu nanti dipasangi pro­duksi seniman patung atau yang berbahan kertas sekali­pun. Misal, ada festival patung dipasang di Malioboro, kan bisa itu jadi kekuatan baru untuk dipromosikan,” harapnya. (*/dya/ila/c10/ttg)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.