Meningkatkan Ketahanan Pangan Kota Tasik

240
0
RAPAT TAHUNAN. Asisten Daerah (Asda) II Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Tasikmalaya H Kuswa Wardana (dua dari kiri) dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Ir H Abu Mansyur MSi (kedua dari kanan) beserta narasumber saat Rapat Tahunan Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Kota Tasikmalaya di aula Bale Kota Tasikmalaya Kamis (19/9). foto-foto: UJANG NANDAR / RADAR TASIKMALAYA

BUNGURSARI – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tasikmalaya melaksanakan rapat tahunan Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Kota Tasikmalaya tahun 2019 di aula Bale Kota Tasikmalaya Kamis (19/9). Dalam rapat tersebut hadir organisasi perangkat daerah, kelompok ketahanan pangan, camat dan lurah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Ir H Abu Mansyur MSi menyatakan rapat tahunan itu penting dilaksanakan untuk menghasilkan suatu kebijakan ke depannya. Terlebih pangan sangat diperlukan seluruh masyarakat dan salah satu penyumbang inflasi. “Seperti beras,” kata dia kepada Radar Kamis (19/9).

Untuk itu, kata dia, dibutuhkan perumusan strategi untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan capaian. “Termasuk langkah-langkah strategis untuk meningkatkan ketersediaan, distribusi, keterjangkauan dan keamanan,” kata Abu.

DKP masih memiliki ketersediaan beras. Pada tahun 2018, ketersediaan beras cukup bagus. Namun masih kurang 5.000 ton lebih. Di tahun itu, Kota Tasikmalaya mampu menghasilkan ketersediaan pangan 49.000 ton, sedangkan kebutuhan beras secara keseluruhan yakni 54.000 ton. Jadi masih kurang 5000 ton.

“Untuk mencukupi kebutuhan 5.000 ton lebih itu biasanya mendatangkan dari luar Kota Tasikmalaya seperti, Kabupaten Tasikmalaya, Banjar, Ciamis,” tutur Abu.

Kekurangan itu, dipengaruhi oleh konsumsi beras satu orang yang mencapai 102 kilogram setiap satu orang dalam waktu satu tahunnya pada tahun 2017. Sedangkan pada tahun 2018, tingkat konsumsi itu pun menurun menjadi 82,2 kilo gram setiap satu orangnya dalam setiap satu tahun.

“Itu berkat upaya kita yang terus melakukan advokasi kepada masyarakat akan keberagaman pangan sehingga tidak ketergantungan terhadap beras,” kata dia.

Adapun upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan intensifikasi dan kerja sama dengan daerah lain. Itu mengingat Kota Tasikmalaya bukan daerah produksi, bahkan lahan pertanian setiap tahunnya menurun karena alih fungsi lahan.

“Termasuk kami terus melaksanakan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) yang merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Karena melalui itu bisa menekan kebutuhan pangan, termasuk beras di Kota Tasikmalaya. Karena mereka ini dituntut setiap tahunnya mengeluarkan produksi beras sebanyak 50 ton dengan harga Rp 8.800,” papar dia.

Setelah pelaksanaan Rapat Tahunan Dewan Ketahanan Pangan, Pemerintah Kota Tasikmalaya memiliki target sesuai dengan tema yakni Membangun Sinergi Program Aksi Pangan Melalui Masyarakat Mandiri, Sehat, Cerdas dan Berkualitas.

“Itu semua pangan menjadi prioritas kami, termasuk peningkatan produksi telur yang saat ini 60 persennya masih didatangkan dari luar Kota Tasikmalaya, begitupun daging, 95 persennya dari luar,” ujarnya menargetkan.

Abu berharap para peserta rapat tahunan mendapatkan pemahaman mengenai fungsi dan arah peningkatan ketahanan pangan di masyarakat. Mulai dari distribusi, keamanan, ketersediaan dan keterjangkauan pangan.

“Mudah-mudahan saja masyarakat bisa memanfaatkan lahan-lahan pekarangan untuk meningkatkan ketahanan pangan ini minimal memenuhi kebutuhan untuk sehari-hari,” ujarnya berharap.

Asisten Daerah (Asda) II Ekonomi dan Pem­ba­ngunan Setda Kota Tasik­m­alaya H Kus­wa War­dana mengatakan rapat tahunan Dewan Ketahan­an Pangan untuk merumuskan dan mengevaluasi ketahanan pangan di Kota Tasikmalaya, baik dari sisi produksi, distribusi dan keamanan pangan.

“Ini kita evaluasi semuanya di rapat tahunan Dewan Ketahanan Pangan Tingkat Kota Tasikmalaya untuk mengambil langkah-langkan dengan melihat potensi-potensi pangan yang ada saat ini,” kata dia.

Menurut dia, selama ini kebutuhan semua pangan di Kota Tasikmalaya ini tidak bisa dihasilkan dari daerah sendiri, sehingga harus mendatangkan dari luar daerah.

“Untuk hal-hal itu harus dievaluasi supaya ketahanan pangan kita (Kota Tasikmalaya, Red) lebih kuat dan lebih bagus,” tutur dia.

Kuswa menjelaskan ketahanan pangan Kota Tasikmalaya meng­alami peningkatan dari tahun sebelumnya. Bahkan tahun 2019 ini cukup bagus, termasuk poin ketahanan pangan Kota Tasikmalaya atau Pola Pangan Harapan (PPH) ini sudah naik dari 67 persen saat ini menjadi 91.

“Ketahanan pangan kita peringkat ke-9 di Jawa Barat dari 27 kota dan kabupaten. Termasuk di atas poin Provinsi Jawa Barat 89 persen dan itu bisa dinyatakan sudah bagus ketahanan pangannya. Ke depannya, pemerintah kota akan melaksanakan langkah-langkah strategis agar ketahanan pangan ini lebih bagus,” ujarnya membeberkan. (ujg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.