Menjaga Nyala Lilin Literasi

61
0
Dinas Kominfo Kota Tasikmalaya SERAHKAN. Prof Dr Afif Muhammad MA menyerahkan buku kepada Wali Kota Tasik H Budi Budiman di gedung serba guna Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu (7/9).

TASIK – Revolusi industri 4.0 sangat berpengaruh terhadap dunia literasi. Sebab, generasi muda sekarang cenderung mencari melalui daring yang tidak tersistematis, terstruktur dan kontradiktif. Tentunya berimplikasi terhadap pikiran dan pengetahuan pembacanya.

Hal itu dikemukakan penulis buku The End of Religion Era, Prof Dr Afif Muhammad MA, di sela peluncuran buku tersebut di Bale Kota Tasikmalaya, Sabtu (7/9). Menurutnya, saat ini aktivitas menuntut masyarakat serba cepat. Sehingga, adanya informasi yang bersumber dari dunia digital menjadi kebutuhan banyak orang. “Saya lihat kalau belajar secara online begitu, pengetahuan yang didapat tidak tersistematis, terstruktur dengan baik, kalau baca buku beda. Tidak cuma pengetahuan, tetapi mental pun berbeda dengan yang mencari informasi lewat buku,” tuturnya.

Pihaknya bersama kalangan muda yang peduli akan literasi berupaya terus menggelorakan minat pembaca buku. Sebab, kata Afif, saat ini minat baca buku masyarakat sangat merosot. “Sehingga penulis enggan dan kurang bersemangat. Kami dengan kawan-kawan mencoba bagaimana itu tetap terjaga,” kata dia.

“Pengetahuan di internet yang instan dan cepat tidak bisa dihindari dari risikonya. Untuk itu, kita harap bagaimana menggerakan minat baca, kita bentuk juga komunitas-komunitas kecil untuk terus menggiatkan literasi,” sambung Profesor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Jati Bandung itu.

Moderator acara, Fauz Noor menjelaskan peluncuran buku tersebut sekaligus menyambut Tahun Baru Islam dan memperingati 70 tahun Prof Dr Affif Muhammad MA. Peluncuran buku karya penulis senior tersebut, diharapkan bisa memajukan kembali literasi terutama di Tasikmalaya. Sebab, kata Fauz, literasi di Kota Santri ini sangat rendah, dilihat dari minimnya toko kitab maupun toko buku yang beroperasi. “Bisnis kitab kayaknya tidak seksi di kita. Seharusnya dengan tagline Kota Santri equivalen dengan banyaknya toko kitab di kita,” kata Fauz.


Cendikiawan muda Kota Tasikmalaya itu menjelaskan perlunya kepedulian semua pihak, termasuk pemerintah dalam mengkampanyekan budaya membaca. Apalagi saat ini teknologi informasi berkembang dengan pesat yang memudahkan masyarakat mengakses nutrisi literasi. “Sayangnya yang terjadi saat ini orang lebih banyak membaca informasi instan, pendek dan rawan terkena hoaks,” ujarnya.

Pihaknya berkolaborasi dengan mahasiswa dan kalangan pemuda, supaya bisa terus menjaga gerakan literasi. “Sedikit apapun lilin itu bercahaya, itu tetap cahaya. Semoga peluncuran di Tasik ini bisa mewujudkan target kita dalam mendongkrak minat baca,” harapnya.

Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman mengakui terjadinya pergeseran tingkat literasi cukup signifikan. Menurutnya survei minat baca, hanya 0,001 persen generasi muda yang masih gemar membaca buku. Artinya, dari 1.000 orang hanya 1 orang saja yang membaca buku. “Buku yang diluncurkan Prof Afif ini saya lihat bagus, membahas perkembangan era agama di tengah revolusi industry yang tengah tren saat ini,” kata Budi.

“Isinya tentang agama di era revolusi digital. Di mana segala sesuatu secara online, dan itu berdampak terhadap literasi generasi muda kita,” lanjutnya.(igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.