Menusuk Rindu

9

Tidak terhitung.En­tah sudah berapa kali.Sa­­­­ya ke Palu.Di masa lalu.Tak terhitung.Be­­­rapa banyak ikan lautnya yang sudah kulahap.Be­rapa cobek sambalnya yang kulumat.Berapa botol bawang me­rah gorengnya yang kubawa pulang.Palu.Tempatku merintis koran.Tempatku mendidik wartawan.Tem­patku menikmati makanan.Per­nah saya ke Palu Ha­nya satu jam di sana
Ha­nya karena kangen ikannya

Dan sambalnya.Tak pernah hilang da­ri ingatan.Se­buah restoran
Ti­dak bisa tu­tup sebelum tengah malamKa­rena pesawat saya terlambat tibaSang suami menunggu di terasSeorang keturunan Arab.Sang istri tetap di dapur mem­buat sambal baru.Se­orang wanita keturunan Tionghoa.Yang tidak bisa bahasa Mandarin me­lainkan Hokkian.

Saya lihat putri-putrinya.Se­tengah Arab.Se­tengah Tionghoa.Palu…Kesegaran ikannya,Kelegitan sambalnya,Masih menempel di lidahku.Sampai belasan tahun kemudian.Sampai sekarang.Palu…Kutitikkan air mataku.Kuremaskan genggam tanganku.Marah.Geram.Tak berdaya.Menyaksikan rakyat sengsara.Tidak cukup listrik di sana Di tahun 2009 itu.
Kulanggar hukum.

Kutabrak peraturan.Demi listrik di sana.Yang mati tiga kali sehari.
Kadang seminggu mati abadi…Palu-Kebun kopi,Palu-Parigi,Palu-Tentena,Palu-Donggala,Adalah rute-ruteku.Kala itu.Rute yang menantangRute yang ngeri-ngeri sedap itu.Palu…Telukmu,
Nyiur melambaimu,Al-Khairatmu,Gerejamu,Kelentengmu,

Semua lekuk-lekukmu,Begitu abadinya diingatanku.Palu…Lama saya tidak ke sanaSejak saya sendiri terkena bencana.Palu…
Tiba-tiba namamu menusuk jantungku.Pilu Gempa dan tsunami itu.Jumat senja akhir September lalu.Meluluhlantakkan bumimu.
Palu.Membuatku pilu.Palu.Membangkitkan rinduku padamu.
(Dahlan Iskan)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.