Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.8%

8.8%

2.4%

26.3%

2.6%

49.9%

0.1%

9.1%

0%

Merapi Sembur Awan Panas, Tujuh Kali Gempa, Warga Menjauh

26
0
MELETUS. Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Jogjakarta, meletus kemarin (17/11). Faisal R Syam / Fin

JAKARTA – Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Jogjakarta, meletus kemarin (17/11). Awan panas letusan membumbung tinggi 1.000 meter dari puncak. Kewaspadaan ditingkatkan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau warga menjauhi area dalam radius tiga kilometer setelah gunung api itu mengalami erupsi pada pukul 10.46.

Melalui akun twitter resminya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan awan panas letusan Gunung Merapi yang terekam di seismogram pada pukul 10.46 memiliki durasi 155 detik dengan amplitudo maksimum 70 mm. ”Teramati kolom letusan setinggi kurang lebih 1.000 meter. Angin bertiup ke barat,” tulis BPPTKG melalui akun twitter-nya.

Berdasarkan pengamatan kemarin, tepatnya pukul 00.00-06.00 WIB, BPPTKG juga mencatat tujuh kali gempa guguran di Gunung Merapi dengan amplitudo 2-10 mm yang berlangsung selama 17.6-21.52 detik, dua gempa hybrid dengan amplitudo 2 mm selama 6.72-7.2 detik, dua gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 44-65 mm selama 11.56-16.16 detik, dan satu kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 3 mm selama 8.88 detik.

Awan panas letusan sebelumnya juga dikeluarkan Gunung Merapi pada Sabtu (9/11) dengan tinggi kolom 1.500 meter. Awan panas letusan itu memiliki amplitudo 65 mm dan durasi 160 detik dengan jarak luncuran diperkirakan sejauh 1.500 meter.

Hingga saat ini, BPPTKG mem­pertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau waspada dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana. BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Masyarakat juga diminta tidak terpancing isu-isu mengenai meletusnya Gunung Merapi yang tidak jelas sumbernya dan tetap mengikuti arahan aparat pemerintah daerah atau menanyakan langsung ke Pos Pengamatan Gunung Merapi atau kantor BPPTKG, atau melalui media sosial BPPTKG.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan secara tektovolkanik gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme dengan syarat gunung api sedang aktif, yakni kondisi magma sedang cair dan kaya produksi gas. ”Aktivitas peningkatan vulkanisme memang sensitif dengan guncangan gempa tektonik,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, kemarin (17/11).

Letusan Gunung Merapi diduga kuat memiliki kaitan dengan peristiwa gempa Sleman bermagnitudo 2,7 pada Sabtu (16/11), pukul 02.54 WIB. Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kata dia, tinggi kolom letusan Gunung Merapi mencapai sekitar 1.000 meter.

Di samping itu, BMKG mencatat peristiwa gempa Sleman berpusat di sekitar Gunung Merapi. Episenter terletak pada koordinat 7,63 LS dan 110,47 BT, tepatnya di darat, pada jarak 10 kilometer arah selatan dari puncak Merapi pada kedalaman enam kilometer. “Jadi episenter gempa ini sangat dekat dengan puncak Merapi. Dalam kondisi seperti ini erupsi gunung api mudah dipicu oleh gempa tektonik,” kata dia.

Menurut dia, adanya kedua peristiwa itu mirip dengan erupsi Merapi pada 14 Oktober 2019 yang juga didahului oleh serangkaian aktivitas gempa tek­tonik yang berpusat di sekitar Merapi. “Kemudian hal ini akan memicu terjadinya erupsi. Namun de­mikian perlu ada kajian empiris un­tuk membuktikan kaitan ini,” ujar dia.

Sebelumnya PVMBG telah memberikan imbauan agar warga menjauhi area dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi setelah gunung api itu mengalami erupsi pada Minggu pukul 10.46 WIB. (fin/ful)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.