Merasa Tercoreng, Warga Cemooh Pelaku

217
0
DIAMANKAN. Sembilan tersangka diamankan hasil penggerebekan di tiga lokasi berbeda. Di Kota Tasik aparat mengamankan tiga tersangka pembuatan obat PCC kemarin (27/11).

TASIK – Dalam ekspos pengungkapan kasus peredaran narkoba jenis obat PCC yang diproduksi di pabrik sumpit di Kecamatan Kawalu, Kota Tasik, Rabu (27/1) dihadiri para pelaku.

Mereka pun mendapat cemoohan dari warga yang berada di sekitar lokasi. Karena merasa kenyamanan wilayahnya terganggu serta dianggap telah mencoreng nama kampung tersebut.

Ketua Kawalu Institute Miptah Hurrizqi menilai kejadian tersebut telah mencoreng nama kampungnya. Apalagi pelakunya bukan berasal dari wilayah itu. ”Jadi wajar, warga di sini mencemooh para pelaku, yang hampir semuanya bukan berasal dari warga kami,” ujarnya kepada Radar, kemarin.

Atas kejadian penggerebekan itu, kata Miptrah, harus menjadi cambuk masyarakat dan seluruh stakeholder. Menurutnya, hal itu terjadi akibat minim pengawasan dari pemerintah serta aparat keamanan dalam memperhatikan setiap aktivitas warga.

“Apalagi ini sebuah perusahaan yang awalnya pabrik sumpit dan ternyata memproduksi barang haram, tentunya ini kecolongan telak bagi pihak pemerintah,” ucapnya kepada Radar, Rabu (27/11).

Pihaknya mengaku prihatin dengan terdapatnya sebuah rumah yang digerebek petugas BNN, Selasa Malam (26/11). Dia mengetahui, kondisi rumah tersebut lama sekali tidak berpenghuni, bahkan terlihat kumuh.

“Akan tetapi kurang lebih 1 tahunan rumah itu diperbaiki dan dihuni. Harus segera di evaluasi bersama antara pemerintah dan kepolisian jangan sampai kecolongan ini menjadi kebiasaan,” kata Miptah.

HARUS PEKA

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman merasa kecolongan soal keberadaan pabrik narkoba di Kampung Awi Lega Kelurahan Gunung Gede Kecamatan Kawalu. Karena tidak bisa mendeteksi keberadaan usaha terlarang berkedok pabrik sumpit itu.

Hal itu, diakui Budi saat menghadiri ekspos pengungkapan kasus peredaran narkoba jenis obat PCC. Dia menilai kecerdikan pelaku berhasil mengelabui masyarakat dan pemerintah. Sebab menurutnya siapa pun tidak menyangka ada praktik produksi narkoba di tempat itu. “Jujur saja, kita kecolongan,” ujarnya.

Dia pun kaget ketika mendapat laporan adanya penggerebekan yang dilakukan BNN dan TNI/Polri. Terlebih, pembuatan PCC di lokasi tersebut bukan ecek-ecek. “Karena yang diamankan saja sampai 2 juta (butir) lebih,” terangnya.

Disinggung soal pengawasan, H Budi mengaku tidak bisa menyalahkan satu instansi saja. Pasalnya, ada beberapa SKPD yang seharusnya berkepentingan dalam memonitor kegiatan usaha di Kota Tasikmalaya. “Soal industrinya ada di Dinas Perdagangan (KUMKM Perindag), soal izinnya di DPMPTSP, soal Ketenagakerjaan di tingkat provinsi,” terangnya.

Namun demikian, kata Budi, kejadian ini menjadi evaluasi dan pembelajaran untuk Pemerintah Kota Tasikmalaya. Begitu juga masyarakat yang perlu lebih peka terhadap aktivitas usaha di lingkungannya. “Jadi mau tidak mau harus curiga kalau ada tempat-tempat usaha tertutup,” terangnya.

Camat Kawalu Rusani Jaelani mengaku sakit hati, karena pabrik narkoba itu jelas mencoreng citra wilayah yang menjadi binaannya. “Aslinya saya sedih sekali pas dapat informasi ini,” akunya.

Namun demikian, sejauh ini pihaknya selalu berkoordinasi dengan Koramil dan Polsek Kawalu. Beberapa kali mereka berkunjung, pemilik usaha tak pernah ada di tempat. “Babinsa dan Bhabinkamtbmas sering ke sini, tapi yang punya selalu enggak ada,” terangnya.Ke depan, Rusani berharap masyarakat ikut melakukan pengawasan terhadap setiap aktivitas usaha di lingkungannya. Diharapkan kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. “Khususnya RT dan RW harus lebih korektif dengan situasi di lingkungannya,” katanya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.