Brasil 2-0 Argentina

Messi Lagi-Lagi Malu

20
0
copaamerica.com SELEBRASI. Pemain Brasil selebrasi usai mengalahkan Argentina pada lanjutan Copa America 2019, kemarin.

BELO HORIZONTE – Sekali lagi Lionel Messi membuktikan dirinya hanya manusia biasa. Nama besar dan kemampuannya yang nyaris tanpa tara tak bisa membantu Argentina menjuarai Copa America 2019. Brasil menjegalnya di semifinal.

Untuk kesekian kalinya, Messi gagal mempersembahkan gelar untuk negaranya. Gol-gol Gabriel Jesus dan Roberto Firmino di menit ke-19 dan 71 membuat pemain berjuluk La Pulga itu kembali harus tertunduk di tengah lapangan.

Kekalahan 0-2 di Stadion Mineirao, Belo Horizonte itu menandai kegagalan kesembilan Messi di turnamen besar level senior. Ia gagal meraih trofi di empat Piala Dunia. Selebihnya, lima kesempatan ia lewatkan di Copa America.

Prestasi terbaik Messi bersama La Albiceleste sejauh ini hanya sebatas tampil di empat final. Ia gagal memimpin negaranya menjadi kampiun di final Copa America 2007, 2015 dan 2016 setelah kalah dari Brasil serta Cile. Satu kesempatan merengkuh piala ia lewatkan di final Piala Dunia 2014 ketika Tim Tango ditekuk Jerman.

Rentetan kegagalan Messi bersama Argentina bertolak belakang dengan capaiannya di level klub. Bersama Barcelona, pemain kelahiran Rosario itu meraih segalanya. Ia total menggondol 31 gelar. Termasuk 10 La Liga dan empat trofi Liga Champions. Sukses di klub itu membuatnya dianugerahi lima penghargaan individual paling bergengsi Ballon d’Or.

Dengan usia yang sudah 32 tahun Juni ini, Piala Dunia 2022 Qatar akan menjadi kesempatan terakhir Messi untuk melakukan selebrasi juara bersama negaranya. Namun, saat itu, Messi boleh jadi bukan lagi bintang utama di Tim Tango mengingat usianya sudah 35 tahun.

Terlepas dari semua kegagalannya memimpin Argentina meraih gelar yang membuat dirinya akan tetap “di bawah” Diego Maradona, Messi tidak bisa disalahkan. Meski tak bisa “berjuang sendiri” seperti Maradona pada Piala Dunia 1986, Leo sudah mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.

Saat kalah dari Brasil kemarin misalnya, ia sudah memperlihatkan bagaimana dirinya sebagai sosok superstar. Pada menit ke-30, ia memberi servis hebat pada Sergio Aguero. Sayang, sundulan pemain berjuluk Kun itu hanya menerpa mistar gawang.

Aksi terbaik El Messiah terjadi pada menit ke-57 ketika tendangan keras kaki kirinya menghantam tiang gawang. Satu peluang lainnya ia ciptakan di menit ke-66 melalui tendangan bebas, dimana bola yang sudah mengarah ke pojok kiri bisa diantisipasi kiper Brasil, Alisson Becker.

Statistik Messi secara keseluruhan di Copa America 2019 ini juga memperlihatkan kalau sang kapten sudah melakukan segalanya demi bangsanya. Catatan Squawka, Messi yang selalu tampil 90 menit menjadi pemain dengan statistik terbaik.

Total dalam lima pertandingan, Messi melepaskan 16 tembakan (6 tepat sasaran) yang menjadi catatan terbanyak turnamen. Messi yang hanya mencetak sebiji gol lewat titik putih juga menjadi pemain yang paling sering menggiring bola melewati lawan, yakni 20 kali.

Selain itu, dengan 15 pelanggaran terhadapnya, pemain bernomor punggung 10 itu menjadi pemain yang paling sering dilanggar. Messi juga untuk sementara menempati peringkat teratas pemain dengan kreasi peluang terbanyak dimana ia menghasilkan sembilan peluang.

Messi menegaskan Argentina hanya kurang beruntung gagal ke final. Kesialan itu dilengkapi kepemimpinan wasit Roddy Zambrano yang dituding Messi membiarkan pelanggaran Arthur pada Nicolas Otamendi dan Dani Alves kepada Aguero di kotak penalti. Andai wasit menggunakan VAR, Messi yakin hasil bisa berbeda.

“Kami mempunyai peluang. Bolanya membentur mistar gawang, umpannya melaju deras di depan gawang, ada penalti yang tidak diberikan,” tegas Messi di Reuters.

Karena yakin hanya sial, Messi kali ini memastikan tidak akan pensiun atau menarik diri dari timnas. “Jika masih bisa membantu dengan cara apapun, saya akan terus melakukannya,” ujarnya di AFP.

Dengan adanya keputusan Messi untuk bertahan, kini sorotan sepenuhnya mengarah pada masa depan Pelatih Argentina, Lionel Scaloni. “Saya pikir ini bukan waktunya untuk membicarakannya, karena itulah yang paling saya khawatirkan saat ini. Saya ingin bersama para pemain saya dan berbagi momen sulit ini,” kata Scaloni di FOX Sports Asia.

Di pihak Brasil, lolos ke final un­tuk pertama kalinya dalam 12 tahun menjadi sukses besar. “Ka­mi menderita dalam beberapa mo­men, karena mereka memiliki pe­main hebat dan beberapa peluang gol,” tegasnya.(amr/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.