Mimpi Tes CPNS yang Bersih

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

CERITA tentang suap-menyuap selalu mencuat dalam setiap kali musim tes calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Biasanya, calo-calo sudah berseliweran memberikan janji-janji kepada para peserta tes. Lobi-lobi kepada para pejabat yang punya akses dan kewenangan dalam seleksi CPNS juga terjadi.

Meski selalu dibantah, cerita tentang si A menyogok agar lulus tes selalu ada. Entah benar atau tidak.

Tahun ini pemerintah kembali membuka formasi CPNS. Jumlahnya lebih dari 200 ribu untuk CPNS pusat dan daerah. Porsi terbesar untuk guru dan tenaga kesehatan.

Juga, ada kuota khusus untuk tenaga honorer kategori dua (K-2). Honorer K-2 selama ini tidak digaji dari APBN maupun APBD. Berbeda dengan honorer K-1 yang dibiayai APBN/APBD.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men PAN-RB) Syafruddin menjanjikan tes CPNS tahun ini bersih, transparan dan akuntabel. Janji semacam itu juga selalu diucapkan menteri-menteri sebelumnya.

Mudah-mudahan saja background Syafruddin sebagai polisi bisa mewujudkan hal tersebut. Setidaknya bisa menindak oknum di jajarannya yang ”bermain” dalam tes CPNS.

Suap-menyuap dalam tes CPNS bagaikan sudah membudaya di Indonesia. Masyarakat tidak malu-malu lagi membuat pengakuan telah menjual aset mereka untuk menyogok oknum tertentu agar anaknya lolos tes CPNS.

Ketika seseorang diterima sebagai CPNS, masyarakat sudah menjustifikasi bahwa orang tersebut masuk karena punya koneksi atau mungkin menyogok.

Ketika seorang pegawai pemerintah masuk karena menyogok, otomatis mental korup pada dirinya terbentuk.

Prioritas utama dalam bekerja adalah mengembalikan modal yang dia keluarkan saat tes CPNS. Jangan berharap sebuah pengabdian kepada CPNS yang menyogok.

Setelah lolos tes CPNS dan kemudian menjadi aparatur sipil negara (ASN), mereka juga masih harus menyogok ketika menginginkan jabatan tertentu.

KPK sudah berkali-kali menangkap pejabat di daerah yang menerima suap dari bawahannya untuk menduduki jabatan tertentu. Biasanya, jabatan kepala dinas yang basah rawan dengan suap menyuap.

Citra tes CPNS yang diwarnai isu sogok-menyogok itu sulit dihapus. Mengakar, turun-menurun. Tidak mudah memberangusnya.

Inilah tantangan Men PAN-RB saat ini. Meski hanya menjabat kurang dari setahun, Syafruddin perlu memberikan warisan kepada penerusnya bahwa pada era dirinya menjadi menteri sogok-menyogok dalam tes CPNS sudah tidak ada. (*)

loading...