Minim Regenerasi, Batik Sukapura Terancam Punah

395
0
HAMPIR PUNAH. Uyum Supyan (66), perajin batik asal Kampung Pasar Kolot Kecamatan Sukaraja menunjukkan Batik Sukapura yang hampir punah karena minimnya regenerasi perajin, Minggu (24/2).RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

SUKARAJA – Keberadaan Batik Sukapura yang banyak diproduksi para perajin di Kecamatan Sukaraja kini terancam punah. Pasalnya, sudah sangat minim regenerasi perajin muda yang menggeluti dunia batik.

“Saat ini di Sukaraja minat para remaja untuk menjadi perajin batik sangat minim. Remaja saat ini lebih menyukai dan sibuk dengan HP-nya serta bersekolah. Berbeda dengan pemuda zaman dulu. Sekarang sudah tidak ada yang peduli dengan batik yang merupakan warisan leluhur,” ujar Uyum Supyan (66), perajin asal Kampung Pasar Kolot RT/RW 11/04 Kecamatan Sukaraja kepada Radar, Minggu (24/2).

Kata dia, para perajin yang masih menggeluti Batik Sukapura mengaku khawatir dengan kondisi ini. Mereka pesimis kalau kerajinan batik di Sukaraja akan bertahan lama apabila tidak ada generasi muda yang melanjutkannya. “Kalau terus seperti ini (tidak ada regenerasi, Red) kami khawatir kerajinan batik ini punah,” katanya.

Selain tidak adanya regenerasi, lanjut dia, para perajin yang ada saat ini sudah sepuh. Mereka sudah tidak lagi produktif dalam membuat batik jumlah banyak dan berinovasi pada corak yang menyesuaikan kebutuhan saat ini. “Ketika kami sudah tak lagi mampu membatik, lalu siapa yang akan meneruskan kerajinan warisan leluhur ini,” paparnya.

Maka dari itu, para perajin batik sangat mengharapkan sekali pemerintah daerah turun tangan untuk menghadirkan regenerasi perajin batik di Sukaraja. “Kami ingin kerajinan ini ada yang melanjutkan. Karena kami juga tidak akan selamanya membatik,” ucapnya yang menjadi perajin batik ini untuk meneruskan usaha keluarganya yang sudah ada sejak zaman Belanda.

Lanjut dia, saat ini usaha batik yang digelutinya tinggal menyisakan empat orang pekerja, itu pun usianya sudah tak lagi produktif. Mereka dalam satu minggu bisa membuat 15 lembar kain batik per orang, padahal sebelumnya bisa mencapai 25 lembar.

Jenis batik yang dibuat, tambah dia, mulai dari yang bermotif daun bamboo, daun petai, daun talas dan juga jenis lainnya. Harga satu lembar kain batik yang dijualnya itu mulai dari Rp 50.000-Rp 150.000, tergantung dari jenis bahan dan juga motifnya.

Kemal (48), perajin lainnya berharap pemerintah segera mengambil keputusan secara jelas dalam menyelesaikan persoalan minimnya regenerasi perajin batik di Kecamatan Sukaraja.

“Kami sebagai perajin batik di Sukaraja berharap adanya dukungan dari pemerintah sehingga Batik Sukapura bisa tetap lestari sampa kapan pun. Karena ini merupakan warisan budaya yang patut dilestarikan,” pungkasnya. (obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.