MIRIS.. Nenek di Kota Tasik Terpaksa Jual Diri, Segini Tarifnya..

3924
0
Ist EMPATI. Anggota Hima Persis Tasikmalaya Raya memberikan nasi kotak kepada nenek yang menjadi PSK di wilayah Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu.

TASIK – Kondisi ekonomi yang serba sulit di masa pandemi Covid-19, nyaris menyentuh seluruh lapisan masyarakat di Kota Tasikmalaya.

Meski pemerintah tak absen mengayomi lewat berbagai program bantuan, namun masih menyisakan kepahitan bagi sebagian masyarakat yang tidak berkesempatan mendapat uluran tangan pemerintah.

Seperti yang dialami salah seorang lanjut usia (lansia) berusia 73 tahun. Himpitan ekonomi terutama di masa pandemi Covid-19, memaksanya menjual diri demi sekadar bertahan hidup.

Fenomena itu, sudah berlangsung sekitar 2,5 tahun lamanya jauh sebelum pandemi Covid-19 datang dan membombardir perekonomian.

n“Salah satu persoalan sosial yang kami temukan, adanya nenek berusia 73 tahun yang bekerja sebagai PSK (pekerja seks komersial) karena sulitnya ekonomi,” kata Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Hima Persis) Tasikmalaya Raya, Iqbal Sabiqul Aqdam kepada Radar, Rabu (6/1).

Beberapa pekan ini, ia dan rekan-rekannya tengah intens melaksanakan program Hibernasi (Hima Persis Beri Nasi). Sasarannya, masyarakat kalangan bawah yang terlihat tengah sibuk mencari penghasilan di malam hari. Baik pengayuh becak, pemulung, dan lain sebagainya.

Baca juga : MIRIS.. Warga Sukaraja Tasik Tak Kapok 3 Kali Masuk Bui, Biayai 4 Anak dari Mencuri Motor

“Setiap Malam Senin, kami terjun ke pusat Kota Tasikmalaya membagikan nasi. Singkat cerita, kami temukan nenek ini yang menurut keterangan warga sekitar sudah hampir tiga tahun bekerja menjajakan diri. Bahkan, ironisnya tarif paling murah bisa hanya dengan Rp 5 ribu saja untuk sekali kencan,” tuturnya memaparkan.

Dia menceritakan para mahasiswa yang berkegiatan Hibernasi, sempat canggung ketika harus menanyakan langsung terhadap sang nenek kaitan pekerja yang ia tekuni beberapa tahun ini.

Beberapa diantaranya terpaksa menyamar untuk menggali informasi terhadap warga sekitar dan orang-orang yang sering melihatnya menawarkan diri.

“Tetapi kita coba advokasi dan mendengar keluh kesah akan hidupnya. Pengakuan si nenek, ia terpaksa hidup di bekas pertokoan (kawasan Pasar Lama, Red) karena tak ada tempat tinggal yang jelas. Sehari-hari hanya mengharap ada orang berbelas kasihan saja terhadapnya,” ujar Iqbal.

Menurutnya, hal itu tentu menjadi aib bagi kota berjuluk Kota Santri.

Gegap gempitanya pembangunan dan sederet kegiatan pemerintah, berdalih demi kesejahteraan rakyat.

Nyatanya belum menyentuh salah satu warga lansia, yang beberapa tahun lalu ditinggalkan keluarga dan kerabatnya itu.

Sebab beberapa anggota keluarga nenek tersebut sudah meninggal dunia, sebagian lagi pergi ke luar kota dan sulit untuk dihubungi.

“Faktor ekonomilah yang memaksa si nenek menjadi PSK. Tidak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk bertahan hidup di sini,” keluhnya.

Iqbal menjelaskan pihaknya beberapa waktu lalu sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya.

Mencari solusi supaya sepenggal kisah pahit nenek itu tidak dialami warga lain yang bernasib kurang baik.

“Alhamdulillah Dinsos responsif sekali mendiskusikan persoalan yang kami temukan ini.

Termasuk, kami juga berkoordinasi dengan Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Tasikmalaya H Budi Mahmud Saputra supaya bisa membantu dan mencari solusi konkret,” kata Iqbal.

Pihaknya menginisiasi agar menyiap­kan rumah singgah, sebagai tempat bernaung bagi warga yang bernasib serupa.

Kemudian menyiapkan pemberdayaan supaya mereka bisa hidup mandiri dan tidak lagi ada warga yang hidup di jalanan.

“Nantinya di rumah singgah warga seperti si nenek itu bisa diberdayakan, diberi pelatihan dan pendampingan. Supaya minimal mencari penghidupan dengan layak,” analisisnya.

Iqbal meyakini nasib nenek berumur 73 tahun itu baru sekelumit dari segudang persoalan sosial yang ada di Kota Resik.

Ia berharap upayanya bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa bisa membuahkan solusi jangka panjang sehingga persoalan semacam itu dapat diminimalkan bahkan dihilangkan.

“Kalau kajian kami, dari sisi infrastrukturnya memang perlu ada rumah singgah. Namun, dari sisi sufrastruktur kita akan susun buku berkenaan fenomena-fenomena sosial yang ada di kota ini sebagai bahan masukan dan dokumentasi faktual kondisi yang ada ditengah masyarakat,” papar Iqbal.

Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Dede Muharam mengaku miris dengan adanya fenomena tersebut.

Pihaknya sejak jauh-jauh sudah mendesak supaya Pemkot mengalokasikan anggaran yang relevan dalam menghadapi kompleksitas persoalan sosial di Kota Santri.

“Kita berkali-kali ingatkan Pemkot, supaya anggaran persoalan sosial itu dialokasikan dengan relevan sesuai kompleksitas masalah sosial yang ada. Ini cambuk bagi kita dan harus ditangani bersama-sama,” tegasnya.

Politisi PKS ini mengakui dari pengakuan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, bukan tidak mengetahui fenomena-fenomena tersebut.

Sayangnya good will pemegang kebijakan tertinggi dinilai belum berpihak dan memprioritaskan penanganan persoalan sosial.

“Kita tahu ya banyak PSK mangkal di kaum, di Jalan PLN misalnya. Itu ditangkap, dua hari dilepas lagi. Karena anggaran untuk membiayai mereka terbatas sekali, jadi tritmennya tidak komprehensif dan yang sudah bergelut dengan dunia seperti itu pada akhirnya kembali dan kembali lagi,” keluhnya.

Dede menjelaskan Dinas Sosial harus merespons temuan seorang nenek menjadi PSK, dan dicarikan solusi konkret. Sebab, fenomena ini diyakini merupakan gunung es yang sewaktu-waktu akan bermunculan, ketika tritmen pemerintah tak juga menunjukan sikap serius dan komprehensif.

“Ya kadang kita juga heran, kenapa Pemkot mendahulukan bangun gedung UMKM dan sarana workshop di Jalan Mashudi. Padahal rumah singgah yang jelas sangat kita butuhkan sebagai salah satu upaya solutif menanggulangi persoalan nenek-nenek itu, tak kunjung direalisasikan,” papar Dede.

Ia menambahkan Pemkot jangan menunggu aib Kota Santri terus ditemukan. Justru, kata dia, harus diantisipasi persoalan lebih ironis lagi dan tuntaskan persoalan yang hari ini bermunculan.

“Sebab, kasus nenek ini kami yakin hanya salah satu saja dari sejumlah persoalan sosial yang ada. Rumah singgah tentunya tak hanya untuk mengatasi persoalan nenek itu, tapi penyandang kesejahteraan sosial lain yang saat ini kami yakini masih banyak di Kota Tasikmalaya,” tuturnya. (igi)

Berita Terkait:
Nenek yang Jual Diri di Kota Tasik, Disebut Warga si Layung

Nenek yang Jual Diri Dibujuk Dinsos Kota Tasik untuk Dibina

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.