Mulai Beraktivitas, Wagub Jabar: Pesantren Harus Patuhi Protokol Kesehatan

208
0

KABUPATEN TASIK – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) telah memberi izin pondok pesantren (Ponpes) untuk kembali beraktivita.

Para santri yang sebelumnya dipulangkan ke rumahnya masing-masing, saat awal terjadi pandemi Covid-19, diperbolehkan kembali menuntut ilmu di pesantren.

Selain itu, pihak pesantren juga mulai diperbolehkan untuk menerima santri baru.

Wakil Gubernur (Wagub) Jabar, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan, para kiai dan pimpinan pondok pesantren sudah sejak jauh hari meminta agar membuka kembali aktivitas di pesantren.

Sebab, biasanya pondok pesantren itu masuk pada 10 Syawal kalender hijriyah. Sementara saat ini sudah memasuki 20 Syawal.

“Para kiai khawatir kalau terlalu lama di rumah, para santri akan lupa ajaran yang sudah diberikan. Dikhawatir ilmu yang sudah diberikan tapi belum maksimal akan tergerus,” ujar Uu yang ditemui di rumahnya, Sabtu (13/06) sore.

Loading...

Selain itu, terang Uu, para kiai juga khawatir jika santri terlalu lama di rumah, kecintaannya kepada pesantren dan ilmu agama akan luntur. Apalagi, ketika di rumah para santri tak terawasi seperti di pesantren.

Menurut dia, Pemprov Jabar memahami kekhawatiran itu. Pemprov mengadakan komunikasi dengan para kiai dan pimpinan pondok pesantren.

Disepakati, pesantren harus membuat SOP (standar operasional prosedur) protokol kesehatan saat kegiatan di pesantren berlangsung.

Ia menyebutkan, protokol di pesantren antara lain santri harus tetap menerapkan jaga jarak, harus sering cuci tangan, dan harus membuat pernyataan dari pondok pesantren untuk menerapkan SOP yang telah ditentukan.

Selain itu, pesantren juga harus membuat gugus tugas Covid-19 secara mandiri.

“Jadi kalau ada apa-apa, pesantren tahu langkah untuk melakukan penanganan,” ucapnya.

Uu mengakui ada beberapa kekhawatiran terkait kebijakan untuk kembali membuka pondok pesantren.

Utamanya, kekhawatiran pesantren menjadi klaster baru bagi penyebaran Covid-19.

Namun, pihaknya akan melakukan penanganan maksimal jika terjadi kasus dari pesantren.

Ia juga meminta setiap pesantren untuk mematuhi SOP yang sudah ditetapkan.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.