Mulai Rabu (20/05) Mall & Toko di Kota Tasik Boleh Buka, PSBB Diperpanjang

13021
3

KOTA TASIK – Mulai besok, Rabu (20/05) Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Tasik diperpanjang. Mall dan toko boleh buka, dengan protokol kesehatan.

Hal itu dikatakan Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman setelah disepakati tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Bale Kota, Senin (18/05) sore.

“Setelah kita evaluasi PSBB tahap pertama, bahwa kita akan melanjutkan ke tahap kedua,” ujar Budi kepada radartasikmalaya.com.

Baca juga : 4 Positif Corona & 64 Pegawai Test Swab, Puskesmas Tamansari Tutup 14 Hari

“Tahap kedua ini mulai dari 19 Mei (Selasa besok) sampai dengan tanggal 29 Mei. Karena sampai berakhirnya sesuai dengan masa tanggap darurat tinggkat pusat,” sambungnya.

Terang Budi, menentukan diperpanjang PSBB ini setelah pihaknya melakukan berbagai evaluasi dari PSBB tahap pertama yang dimulai dari tanggal 6 Mei hingga 19 Mei.

“Lalu kita evaluasi ke belakang PSBB tahap pertama di kita, walaupun ada pertambahan jumlah yang positif sejak tanggal 6 Mei dimulai hingga 19 Mei, tapi relatif bisa meresam percepatan penyebaran covid-19,” terangnya.

Loading...

Mwski demikian, saat ini Kota Tasik masih dalam posisi tidak aman. Karena di tingkat Provinsi Jawa Barat ada 14 daerah yang zona merah. Dan Kota Tasik masih masuk zona merah.

“Ditambah kemarin muncul cluster puskesmas yang selama 14 hari kita tutup dulu. Pembatasan ini untuk 2 minggu kedepan,” tambahnya.

Budi menjabarkan, kegiatan pendidikan di PSBB tahap dua ini tetap sama dihentikan sementara.

Pembatasan sosial dan budaya tak diubah, lalu pembatasan transportasi juga tetap berlanjut.

Untuk pembatasan kegiatan di tempat fasilitas umum juga masih tetap.

Tapi, kata dia, ada yang dikecualikan. Yaitu untuk kemarin yang ditutup seperti UMKM, toko dan mall dipertimbangkan pihaknya dari sisi ekonomi sosial budaya dibuka di PSBB ini, alias boleh beroperasi.

“Dan wilayah yang kita fokuskan di 3 kecamatan (Cipedes, Tawang, dan Cihideung) relatif landai jadi kita berikan waktu operasi dari jam 10.00 WIB sampai dengan jam 16.00 WIB,” bebernya.

Tapi, tegas dia, yang dikecualikan tetap seperti biasa beroperasi dengan waktu ditentukan wajib menerapkan protokol kesehatan.

Jika tak ditaati, Tim Gugus Tugas bakal menutup paksa.

“Tetap nanti tim gabungan semakin ketat melakukan pengawasan dan pelaku usaha tetap menerapkan protokol kesehatan,” tegasnya.

Sedangkan pembatasan kegiatan keagamaan, untuk salat Idul Fitri pihaknya mengizinkan melaksanakan salat Ied sengan mengatur jarak, memakai masker, membawa sajadah masing-masing dan tidak bersalaman.

“Khusus untuk salat ied ini dilaksanakan dalam sekala lokal saja. RW, perumahan dan sejenisnya. Tak ada tingkat kecamatan dan kelurahan. Masjid Agung tetap dipakai sebagai tingkat kota,” tukasnya.

Tapi dia mengingatkan, Salat Ied ini khusus untuk warga Kota Tasik saja dan dilarang untuk pendatang karena dikhawatirkan ada penyebaran.

“Makanya kita sarankan seperti itu. Khutbahnya dilaksanakan secara singkat dan dilarang mengikutsertakan orang dari luar wilayah Kota Tasik,” tandasnya.

Sedangkan untuk penyekatan ada yang diperluas di sekitar HZ Mustofa serta Pasar Wetan juga lokasi transmisi lokal baru di wilayah Tamansari.

“Nanti di urug juga buka lagi pos pembatasan serta penguatan di gugus tugas tiap kecamatan untuk terus evaluasi dan melaksanakan protokol kesehatan di daerahnya,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

3 KOMENTAR

  1. Diperlukan langkah konkrit pak..bukan hanya menutup jalan dan membatasi jam buka toko,,cobalah di cek point itu orang2 minimal di cek suhu dulu sebelum masuk ke ruas jalan yg ditutup..bukan hanya periksa surat tugas kerja saja…lieur!!!

    Hz kendaraan ga boleh masuk, sedangkan orang nya boleh jalan kaki…tanpa di cek apa apa…buat apa atuh??

  2. Anu kedah diperhatoskeun OTG teu katingal ,.Tasikmalaya zona merah jelas tos seueur anu terpaparcovid-19. Mall di buka masjid di buka , sami sareng ngajongklokkeun masyarakat kana jurang. Tujuan psbb moal tercapai upami di bebaskeun berkumpul, anu bakal terjadi peningkatan anu terpapar covid-19

  3. Panggunaan kata PSBB justru rancu dan membingungkan masyarakat, PSBB seolah hanya blokir kendaraan tapi tidak manusianya, percuma atuh. Lihat di jl. veteran kendaraan parkir membludak, orangnya jalan kaki lewati portal dan bikin kerumunan. Jangan samapi PSBB ini hanya buang2 anggaran. Saya rasa istilah Karantina Wilayah lebih mudah dipahami masyarakat, dan aturan mohon dibuat lebih tegas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.